U Win Htain dari NLD. (Foto: Saw Zin Nyi)

U Win Htain dari NLD. (Foto: Saw Zin Nyi)

Penerima Hadih Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi belum mengeluarkan pernyataan langsung soal ribuan orang Rohingya asal Burma yang ditemukan terombang-ambing di  dalam perahu di laut Asia Tenggara.

Hanya atas desakan para jurnalis, partainya Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) mau berkomentar soal masalah ini.

Setelah beberapa kali permintaan wawancara dengan para pemimpin senior NLD, reporter Asia Calling KBR akhirnya mendapat kesempatan bertemu U Win Htein, anggota komite eksekutif pusat NLD.

 
Q. Apakah Anda mengakui orang-orang Rohingya yang tinggal di Burma atau Myanmar saat ini?
 
“Bukan tugas kami untuk mengakui mereka atau tidak. Itu tugas pemerintah. Anda harus bertanya pertanyaan yang tepat pada orang yang tepat. Bagaimana kami menerima mereka?  Ini tidak ada artinya. Ini pertanyaan yang salah.”
 
Q. Jadi itu artinya NLD tidak mengakui etnis Rohingya?
 

“Apa maksud Anda dengan menerima mereka?
 
Q. Maksud saya, orang Rohingya yang saat ini tinggal di kamp pengungsian di negara bagian Rakhine, Burma saat ini.
 
“Saya tidak pernah mengunakan kata Rohingya. Menurut UU yang baru, manusia perahu ada yang datang dari Bangladesh dan juga dari Myanmar. Tidak ada yang bilang orang Rohingya. Apa maksud pertanyaan Anda? Itu bukan pertanyaan.”
 
“Pemerintah dan organisasi internasioanl harus membantu para pengungsi itu dan memulangkan mereka kembali ke negaranya. Mereka harus memverivikasi para pengungsi dan memulangkan mereka.”
 
Q. Belum lama ini, NLD kepada surat kabar ‘Independent’ menyatakan jika NLD berkuasa akan memberikan kewarganegaraan pada orang Rohingya yang sudah tinggal di negara ini sedikitnya dua generasi. Bisa Anda jelaskan kebijakan itu?
 
“Ini ada kaitannya dengan UU Kewarganegaraan tahun 1982. Saya tidak tahu detailnya tapi orang yang sudah tinggal selama tiga generasi di negara ini seharusnya diterima sebagai warga negara. Tapi menurut pendapat saya, jika mereka sudah tinggal di negara ini selama dua generasi, mereka seharusnya diberi kewarganegaraan. Kami akan mempertimbangkan menjadikan generasi kedua sebagai warga negara jika kami berkuasa dan menjadi pemerintah.”



Q. Banyak orang tidak  menerima Rohingya di Myanmar. Ini sangat kontroversial. Bagaimana sikap NLD?

 
“Anda harus memeriksa dan membaca sejarah Anda sendiri. Tidak ada kata Rohingya di Myanmar atau di luar negeri. Tidak ada buku sejarah Rohingya. Kalau pun ada, itu palsu. Kata Rohingya berasal dari Mujahit. Setelah kita merdeka, tentara pemerintah berperang dengan mereka dan mereka pulang ke Bangladesh. Beberapa datang kembali ke negara kita. Mereka hanya datang dan pergi.

“Tahun 1985, ketika pemerintahan sosialis berkuasa dan memverifikasi UU Kewarganegaraan, pemerintah mengirim mereka itu ke luar dari negara ini tapi masyarakat internasional mengecam pemerintah, sehingga pemerintah menerima mereka kembali. Pemerintah memulangkan 30 ribu orang tapi yang datang 50 ribu orang. Nama Rohingya mulai muncul sekitar waktu itu. Jadi kita tidak menerima nama Rohingya. Menurut saya secara internasional, sejarah Rohingya juga tidak ada.”
 
Q: Pemimpin NLD dan penerima hadiah Nobel, Aung San Suu Kyi, tidak banyak berkomentar soal isu Rohingya ini? Mengapa?
 
“Kami sudah mengeluarkan pernyataan terkait masalah ini. Pernyataan ini adalah suaranya, suara Aung San Suu Kyi. Pernyataan ini telah disetujui oleh anggota komite eksekutif pusat. Kami selalu menjelaskan kepada masyarakat internasional bahwa harus ada aturan hukum dan penghormatan terhadap hak asasi manusia dan kita harus mengatasi krisis ini. Mengatakan Aung San Suu Kyi diam itu adalah tuduhan omong kosong.”
 
Pernyataan NLD itu mengatakan orang-orang yang sekarang tinggal di kamp-kamp pengungsi di negara bagian Rakhine harus secepatnya dimukimkan. Ini untuk memperbaiki dan mengembangkan situasi ekonomi dan kesejahteraan penduduk daerah itu. Selain itu disebutkan, mengatasi masalah kewarganegaraan ini secara adil dan transparan akan membantu situasi saat ini.

Kaum nasionalis juga menyebut Aung San Suu Kyi sebagai ‘pecinta Muslim’.

Di sebuah negara yang 90 persen penduduknya adalah penganut Buddha, sedikit sekali ditemukan simpati untuk orang Rohingya. Dan mengekspresikan dukungan kepada mereka, bisa menjadi aksi bunuh diri politik bagi NLD dan partai yang didukung militer berkuasa. Enam bulan mendatang akan dilakukan pemilihan anggota parlemen yang juga diikuti oleh NLD.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!