Peredaran mi instan Maggi di India ditarik. (Foto: Jasvinder Sehgal)

Peredaran mi instan Maggi di India ditarik. (Foto: Jasvinder Sehgal)

Selama puluhan tahun, Mi instan Maggi Nestle menjadi salah satu merek makanan favorit di India.

Tapi kini regulator keamanan makanan negara itu menyatakan mi ini ‘tidak aman dan berbahaya‘. Kesimpulan itu diambil setelah serangkai uji coba menemukan kandungan timbal di beberapa bungkus mi melebihi kadar yang diperbolehkan.  

Nestle telah menarik mi instan ini dari pasaran tapi mereka bersikukuh kalau produk mereka ini aman.

Bagi Manan yang berusia 14 tahun, mi Maggi adalah makanan kesukaannya.

“Semua anggota keluarga saya menyukainya. Kami selalu memakannya di rumah. Saya kaget ketika tahu mi ini tidak ada di toko,” ungkap Manan.

Otoritas Standar dan Keamanan Makanan Nasional India menyatakan mereka telah menguji 29 sampel makanan favorit warga India ini dan menemukan, 15 diantaranya mengadung timbal dengan kadar melebihi batas aman.

Mereka juga menuduh Nestle memberikan informasi menyesatkan di label mi dengan menyebutkan mi tidak mengandung tambahan monosodium glutamate or MSG.

J.P. Nadda, Menteri Kesehatan India menyampaikan temuan itu dalam sebuah jumpa pers.

“Kami sampai pada kesimpulan kalau keamanan dan standar pangan belum ditaati oleh perusahaan Nestle dan produknya Maggi. Kami telah meminta kesembilan produk dan varian mi Maggi harus ditarik dari pasar. Nestle juga tidak mengikuti peraturan pelabelan. Sementara varian Mi Maggi Oats Masala sudah beredar di pasaran tapi tidak mengantongi persetujuan dari pemerintah. Produk ini juga harus ditarik,” kata Nadda.

Mengkonsumsi terlalu banyak timbal bisa merusak ginjal, tulang, dan sistem syaraf seseorang dan terutama sangat berbahaya bagi anak-anak.

“Mereka mempengaruhi stabilitas saraf. Gejalanya seperti otot berkedut dan iritabilitas otot. Selain itu bisa mengubah perilaku anak-anak dan orang dewasa. Jika mereka tetap mengkonsumsinya, timbal bisa merusak otak, tulang dan bahkan ginjal,” jelas Dokter Tushar Dashora yang bekerja di Rumah Sakit Soni di Jaipur.

Nestle menyatakan kandungan timbal di dalam kombinasi mi dan bumbunya harus diukur.


Selama sepuluh tahun terakhir, uji coba oleh lembaga non-pemerintah di India telah menemukan pestisida berkadar tinggi dalam minuman kemasan, antibiotik dalam madu dan logam berat dalam produk pertanian. Tapi dampaknya dalam skala kecil.

Ahli ilmu racun Rajeev Betne, termasuk anggota tim yang menemukan jejak pestisida dalam minuman bersoda terkenal seperti Coca Cola pada tahun 2006.

Dia mengatakan perusahaan Barat berpikir mereka bisa lolos dengan hal-hal seperti ini di India. Padahal mereka tidak bisa melakukan hal serupa di negara asalnya.

“Di India, standar makanan adalah sebuah konsep baru yang dalam tahap pengembangan. Jika Anda melihat kadar timbal dalam makanan, kadar yang dibolehkan di India lebih tinggi ketimbang di Amerika Serikat dan negara Eropa lainnya. Ini membuat perusahaan internasional bisa mengambil keuntungan,” papar Rajeev.

“Dan yang terpenting juga adalah masyarakat tidak menyadari standar-standar jenis makanan yang harus dikonsumsi; bagaimana mereka harus membaca label yang tertera di kemasan makanan. Anda juga bisa menambah korupsi dalam masalah ini. Sehingga perusahaan dengan mudah menghindari standarisasi ini. Penolakan terhadap perusahaan semacam itu juga tidak banyak,” tambahnya.

Nestle India meraup keuntungan sekitar Rp 3,2 triliun rupiah setiap tahun hanya dari penjualan mi Maggi di India.

Deepak Punjabi, pemilik toko di Jaipur, biasanya menjual lebih dari 100 bungkus mi Maggi setiap hari. “Kontroversi mi Maggi telah mempengaruhi penjualan mi dari merek lain. Pembeli jadi enggan membeli mi instan bahkan dari merek lain. Penjualan menurun dengan drastis.”
 
Kembali ke rumah Manan, Preeti Mendiratta, ibu Manan senang mi telah dilarang.

“Saya sangat membatasi makanan kemasan yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Makanan sehat dan segar seperti buah-buahan dan sayuran jauh lebih baik. Tapi apa yang harus saya lakukan? Anak-anak sangat menyukai mi instan karena iklan TV yang menarik dan bintang film favorit mereka juga mempromosikannya,” keluh Preeti.

Akibat kontroversi ini, sejumlah perusahaan makanan di India dan internasional mulai mencantumkan dengan rinci bahan yang mereka pakai di kemasan produknya.
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!