Ilustrasi: Perempuan Komunitas Ismaili Pakistan. (Foto: AKPBS Pakistan)

Ilustrasi: Perempuan Komunitas Ismaili Pakistan. (Foto: AKPBS Pakistan)

Keluarga Mussarat Jahan yang berusia 20 tahun merupakan contoh keluarga harmonis.
 
Dia dan ibunya adalah pengikut aliran Ismaili, yang merupakan pecahan dari kelompok minoritas Syiah.
 
“Ayah saya bersembahyang sesuai ajaran yang dianutnya. Sementara ibu saya adalah penganut Syiah. Saya mendukung mereka berdua tanpa membeda-bedakan dan menghargai keyakinan mereka,” kisah Mussarat.
 
Sekitar 300 ribu orang Ismaili telah tinggal di Pakistan selama puluhan tahun.
 
“Kami komunitas yang cinta damai, yang saling membantu satu sama lain. Kami tidak terlibat politik. Kami mengikuti segala perilaku Imam kami, Pangeran Agha Khan. Karena setelah Nabi Muhammad dan Al Quran, Imam adalah pemimpin agama paling penting,” kata Mussarat lagi.
 
Keyakinan adanya pemimpin agama yang paling penting setelah Nabi Muhammad, yang memicu kemarahan militan ekstrim Sunni.
 
Kelompok yang mengaku punya hubungan dengan Negara Islam itu menyatakan telah menewaskan 45 orang dalam serangan ke sebuah bus, Mei lalu di Karachi.
 
Ali Ahmed Jan kehilangan teman baiknya dalam serangan itu. Dia mengaku menyembunyikan keyakinannya.
 
“Orang lainnya kerap melabeli kami sebagai orang kafir. Itu sebabnya kami diminta untuk menghindari diskusi yang mengarah soal agama,” alasan Ali.
 
Komunitas Ismaili adalah komunitas paling terpelajar di Pakistan. Semua anak, baik laki-laki dan perempuan, dalam komunitas ini sudah melek huruf.

“Masyarakat kami sangat mengutamakan pendidikan pada anak-anak. Tujuannya agar kami hidup sejahtera dan menempati posisi penting. Tidak ada anak perempuan yang menikah sebelum menyelesaikan pendidikan selama 12 tahun,” jelas Musarrat.
 
Beberapa lembaga pendidikan dan rumah sakit terbaik di negara ini dikelola komunitas Ismaili.
 
Saat ini saya berada di Jamatkhana – tempat ibadah komunitas Ismaili di pinggir kota Karachi. Tempat ini dijaga puluhan relawan.
 
Setiap Maret, mereka berkumpul di sini untuk menyambut Tahun Baru dengan perayaan Nauroze. Mereka merayakannya dengan menari. Karena itu mereka dianggap komunitas  yang sangat liberal.
 
Di dekat situlah para militan bersenjata dengan brutal menembaki anggota komunitas ini.  
 
Para penyerang juga meninggalkan pesan yang memperingatkan agar orang Ismaili meninggalkan negeri itu. Kalau tidak, mereka mati.
 
Ribuan orang Pakistan menyuarakan solidaritas mereka terhadap komunitas Ismaili. Mereka melakukan aksi protes di jalanan dan dunia maya.
 
Aktivis HAM Akhtar Balouch mengaku mereka sangat terkejut. “Berita ini sangat mengejutkan karena orang Ismaili menjadi sasaran dan alasan mereka jadi target. Rumah sakit dan lembaga pendidikan mereka terbuka bagi masyarakat lainnya. Meski fokus untuk memberikan layanan pada komunitas Ismaili, tapi mereka juga menyediakan fasilitas ini untuk warga Pakistan lainnya.”
 
Perdana Menteri Nawaz Sharif berjanji pada komunitas itu kalau pelaku penyerangan akan dihukum.
 
Ali Ahmed Jan yang berusia 20 tahun mengatakan pemerintah seharusnya mengalahkan terorime lewat pendidikan.
 
“Komunitas kami sangat terorganisir.  Kami selalu mengadakan berbagai acara keagamaan. Tujuannya agar orang muda menjauhi kekerasan. Tak satu pun dari komunitas kami pernah terlibat aksi terorisme.”
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!