Young Chun, Penulis Buku The Accidental Citizen Soldier.

Young Chun, Penulis Buku The Accidental Citizen Soldier.

Young Chun mengajar bahasa Inggris di salah satu universitas ternama di Seoul. Pria keturunan Amerika Korea berusia 36 tahun ini bercerita tentang kondisinya saat sekolah di Seattle.
 
Di sekolahnya hanya ada beberapa orang Asia termasuk dirinya. Dia mengaku mengalami diskriminasi dan di-bully dan ini membuat dia merasa Amerika bukan tempatnya.  
 
“Saat saya tinggal di Amerika, saya berpikir saya akan akan cocok tinggal di Korea. Tapi saat tiba di Korea, saya tidak merasa cocok sama sekali,” ungkap Chun.
 
Chun bercerita keputusannya untuk ke Korea Selatan pada 2002 lebih merupakan keputusan ekonomi ketimbang pencarian identitas. Tapi karena tidak menguasa betul bahasa atau budaya Korea, dia tetap merasa sebagai orang luar.  
 
Tapi saat mengisi surat-surat di kantor pemerintah daerah setempat, Chun menemukan kalau dia punya dua kewarganegaraan.
 
“Saya mendatangi konter dan petugasnya bilang, Anda tidak bisa dapat Visa karena Anda orang Korea. Saya sangat terkejut dengan berita ini. Ibu saya juga baru tahu soal ini. Untuk kali pertama saya dengar kalau saya juga warga negara Korea.”
 
Chun lahir di Amerika Serikat dan belum tahu pasti siapa anggota keluarganya yang mendaftarkan kelahirannya di Korea Selatan.
 
Tapi yang dia tahu, kewarganegaan Korea yang dimilikinya punya konsekuensi, terutama bagi kaum pria.
 
Kerena masih terus berlangsungnya ancaman militer Korea Utara, semua pria Korea Selatan harus ikut wajib militer selama dua tahun.
 
Pada upacara pelantikan ini, ratusan pemuda diambil sumpahnya, mengucapkan selamat tinggal pada orangtua, dan kemudian berbaris ke barak mereka.
 
Situasi ini yang coba dihindari Chung sampai suatu hari di tahun 2004, dia menerima beberapa pemberitahuan melalui pos.
 
“Satu adalah draft surat dan satunya pemberitahuan dari Departemen Kehakiman, yang menyatakan kalau saya tidak bisa meninggalkan negara itu. Saya benar-benar bingung. Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya untuk bergabung dengan militer sampai saya melihat surat itu. Saya menghubungi banyak orang tapi mereka bersikap seolah tidak ada yang bisa saya lakukan sekarang,” jelas Chun.
 
Chun mengatakan keduataan besar Amerika Serikat di Seoul juga tidak membantunya. Dia bahkan sempat berkhayal akan berlayar ke Jepang saat malam.
 
Lalu seorang teman memberinya saran, bergabung ke militer Amerika alih-alih Korea Selatan. Mendaftarlah Chun ke militer Amerika.

Tapi saat hendak pulang ke Amerika untuk memulai latihannya, petugas Korea Selatan menariknya keluar dari antrian di bandara di Pangkalan Amerika Serikat di sini.

Sekali lagi negara Paman Sam tidak bisa menyelamatkannya.
 
Chun dikirim ke kamp militer Korea Selatan dan kemudian dikirim ke sebuah pangkalan di kota Daegu.
 
“Hidup saya sengsara di Daegu dan saya frustrasi. Setiap hari orang-orang mencela, menggoda, dan mengolok-olok saya serta meneriakki saya,” kisah Chun.
Q. Apa yang jadi bahan olok-olok mereka?
“Cara pengucapan bahasa Korea saya yang buruk sekali. Bahkan saya tidak bisa mengucapkan satu kalimat dengan utuh,” jelasnya.
 
Untuk menjauh dari siksaan, dia mendaftar sebagai penerjemah bahasa Korea ke bahasa Inggris meski keterampilan bahasanya tidak begitu baik. Dia pun kemudian dikirim ke salah satu medan perang paling buruk di dunia.
 
Chun ditempatkan di pangkalan udara Amerika, Bigram Airfield, di Afghanistan. Di sana terdapat pasukan Korea Selatan yang ikut berperang sebagai bagian dari koalisi melawan Taliban.
 
Saat tiba, Chun diberi rompi anti-peluru dan senapan tanpa amunisi. Penerjemah sebelumnya tewas dan alarm adanya serangan terdengar hampir setiap hari.
 
Chun mengaku akhirnya terbiasa dengan hal ini. Tapi rekan-rekan Koreanya tidak pernah terbiasa menganggap dia bagian dari mereka.
 
Dia ingat apa yang terjadi ketika seorang petugas memperkenalkannya pada seorang tentara Amerika yang datang berkunjung.
 
“Dia berkata, ‘ini Young, yang sebetulnya orang Amerika’. Dan tentara itu bingung. Saya bilang saya orang Amerika dan saya tidak yakin apa yang dia maksud. Kemudian saat penempatan, saya bekerja di kantor dan petugas lain datang dan berkata ‘wow, Anda sudah seperti orang Korea. Saya pikir itu benar-benar aneh. Saya tidak yakin bagaimana mereka melihat saya,” kenangnya.
 
Chun kembali ke Korea Selatan setelah enam bulan ditugaskan di  Afghanistan. Dan pada 2006, wajib militernya akhirnya berakhir.
 
“Saat melangkah ke luar gerbang rasanya luar biasa karena tahu ini terakhir kali saya berada di sini dan tidak akan pernah kembali lagi. Satu hal yang mereka katakan di hari terakhir saya, kalau saya harus menyerah salah satu kewarganegaraan saya. Karena saya sudah selesai ikut wajib militer, saya harus memilih satu warga negara saja.”
 
Tanpa kesulitan Chun pun memilih. Setelah melewati pengalaman yang dilalui semua pria Korea Selatan, Chun melepaskan kewarganegaraan Korea Selatan-nya.
 
Dia pun meninggalkan Korea untuk mengunjungi keluarganya. Tapi setahun kemudian Chun kembali ke Seoul dan mendaftar di sekolah pascasarjana di sini. Dia mengajar bahasa Inggris sambil fokus pada cita-cita sejatinya, menulis fiksi.
 
Dia mengaku tidak menyesali waktunya di militer selama dua tahun. Dia sekarang lebih paham apa yang para siswa laki-lakinya lalui. Dan pengalaman ini memberinya waktu untuk berpikir tentang apa itu identitas.
 
“Saya sampai di titik di mana saya tidak peduli lagi dengan identitas. Karena saya sampai pada suatu kesimpulan kalau mungkin tidak ada hal semacam itu dan bagi saya itu tidak masalah.”
 
Sementara Chun menggarap novelnya, pengalaman non-fiksinya ikut wajib militer di Korea Selatan diceritakan kembali dalam buku baru yang diterbitkannya sendiri, berjudul The Accidental Citizen Soldier.
  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!