Hari ini (9/5) rakyat Filipina memilih presiden dan wakil presiden yang baru. (Foto: Ariel Carlos)

Hari ini (9/5) rakyat Filipina memilih presiden dan wakil presiden yang baru. (Foto: Ariel Carlos)

Filipina memilih presiden barunya hari ini.

Pemilu kali ini berbeda karena bisa menyebabkan pertengkaran dalam keluarga ataupun dengan teman. Penyebabnya karena calon yang mereka dukung berbeda. 

Calon presiden yang memimpin jajak pendapat adalah seorang walikota yang dikenal kontroversi. Dia berjanji akan memberantas korupsi dan kejahatan dalam waktu enam bulan berkuasa.

Jofelle Tesorio dan Ariel Carlos menyusun laporannya dari Manila dan Palawan, Filipina.

Tidak ada yang bisa menghentikan Rodrigo Duterte.

Walikota yang kerap bicara keras dari Kota Davao ini diunggulkan menang dalam pemilihan presiden yang akan digelar 9 Mei.

Bahkan setelah lelucon hambar mengenai seorang misionaris Australia yang diperkosa dan dibunuh saat kerusuhan di penjara dan kontroversi terbaru tentang rekening banknya, Duterte masih tetap memimpin.

Dalam jajak pendapat terakhir, Duterte meraih 30 persen suara. Angka ini 10 poin lebih tinggi dari pesaing terdekatnya, Senator Grace Poe.

Aktivis sosial dan analis politik Gerthie Anda menjelaskan daya tarik Duterte.

“Mereka sangat percaya kalau Duterte bisa memperbaiki negara ini. Bagi mereka, kisah negatif tentang Duterte itu tidak pernah ada. Waktunya terlalu pendek untuk membuka pikiran mereka,” jelas Gerthie.

Duterte, 72 tahun, mengaku seorang playboy, suka mengumpat di depan umum dan dikaitkan dengan kelompok main hakim sendiri di kotanya. Kelompok itu membunuh pengedar obat bius dan penjahat.

Tapi pendukung Duterte, seperti Kim Tullo, mengabaikan semua kritik itu.

“Dalam generasi saat ini, kita tidak lagi bicara soal moral seseorang karena Filipina sudah sekarat. Kita membutuhkan kepemimpinan yang kuat, yang bisa menerapkan hukum secara efektif. Orang yang bisa bertindak cepat dan tegas mengatasi masalah negara kita,” kata Kim.

Kim, seorang profesional muda, berpikir Duterte adalah satu-satunya solusi untuk masalah yang dihadapi Filipina.

Di antara pendukung Duterte juga ada kelompok konservatif dan religius. Ini sebenarnya adalah sebuah ironi karena dia berulang kali mengatakan presiden harus mampu membunuh.

Tapi pegawai pemerintah, Marian Ednalyn, khawatir dengan kepemimpinan Duterte.

“Gaya memimpin Duterte terlalu kasar. Kita akan kembali ke rezim Marcos. Sejarah akan terulang. Negara kita akan kembali mengalami Darurat Militer karena kita membiarkan seorang diktator menjadi presiden. Dia juga tidak menghormati perempuan dan kaum muda. Saya percaya sebagai pemimpin, seseorang harus melayani semua masyarakat dan peka terhadap kebutuhan mereka,” kata Marian.

Memerangi korupsi, kejahatan dan menghapus kemiskinan menjadi isu utama dalam pemilu tahun ini.

Tapi Marian mengaku akan memilih calon presiden Mar Roxas.

“Saya sudah melihat gaya kepemimpinannya. Dengan rekam jejaknya, kita tahu berada di arah yang benar. Banyak yang mengatakan dia bukan orang yang istimewa tapi dia seorang pemikir dan visinya untuk Filipina sangat jelas.”

Mar Roxas berada di peringkat ketiga dalam jajak pendapat setelah Duterte dan senator Grace Poe.

Para pendukungnya beranggapan dia masih punya peluang setelah penampilan mengesankan dalam debat.

Sementara dalam perembutan kursi wakil presiden, putra satu-satunya diktator Ferdinand Marcos, yang memimpin.

Aktivis masyarakat sipil Gerthie Anda mengatakan popularitas Marcos menggambarkan kurangnya kesadaran masyarakat soal apa yang sebenarnya terjadi selama Darurat Militer dari tahun 1972 hingga 1981. 

Saat itu terjadi beberapa pelanggaran HAM berat, termasuk penyiksaan dan penghilangan paksa. 

“Saya pikir kita belum mampu menggerakan sekolah-sekolah dan mengajarkan pada anak-anak kita, apa itu darurat militer," sesal Gerthie.

Gerthie berharap korban Darurat Militer dan masyarakat sipil akan menghentikan langkah  Bongbong Marcos menjadi wakil presiden.

Harapannya ada pada calon wakil presiden dari pemerintahan, Leni Robredo. Awalnya dia berada diurutan bawah jajak pendapat, tapi sekarang dia menempel ketat Bongbong.

“Untuk wakil presiden tidak perlu diperdebatkan. Harus Leni. Jika Bongbong menang maka ini akan sangat memalukan dan menjijikkan. Dan jika Anda menggabungkan Bongbong dengan Duterte, maka akan terjadi bencana,” kata Gerthie.

Leni adalah janda bekas Menteri Dalam Negeri Jessie Robredo yang meninggal dalam kecelakaan pesawat pada 2012.

Dia adalah seorang pengacara masyarakat miskin dan kampanyenya berlangsung sederhana.

“Saya bertahun-tahun menjadi pengacara untuk masyarakat terpinggirkan, seperti petani dan nelayan. Bahkan ketika saya sedang hamil anak ketiga, saya tidur di kapal, di gubuk, atau di peternakan saat bekerja. Tapi saya menikmatinya,” kata Leni.

Kampanye pemilu kali ini membawa perpecahan dalam keluarga dan pertemanan. 

Di media sosial, saling mengejek terjadi di berbagai level karena perbedaan pendapat.

Seorang pastor muda, Eugene Elivera, mengatakan salah satu penyebabnya adalah adanya media sosial.

“Fenomena lain yang dianggap penyebab dalam tanda kutip adalah kehadiran media sosial. Dimana siapa saja bisa mengatakan apa saja, kepada siapa saja. Ini lebih partisipatif dan bisa mengarah kepada sikap kasar dan menyinggung orang lain.”

Presiden terpilih nantinya bisa melanjutkan atau menghancurkan pencapaian pemerintahan Benigno Aquino III, yang secara konstitusional tidak boleh mencalonkan diri lagi.

Pemerintahannya dikritik karena macet yang makin parah, masalah di bandara dan proses perdamaian yang gagal di Mindanao. Tapi dia juga dipuji karena kesuksesannya di ekonomi, pengentasan kemiskinan dan memenjarakan pejabat yang korup.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!