Pengunjung di depan daftar acara ASEAN Literary Festival 2016 di Jakarta. (Foto: Vitri Angreni)

Pengunjung di depan daftar acara ASEAN Literary Festival 2016 di Jakarta. (Foto: Vitri Angreni)

ASEAN Literary Festival ketiga baru-baru ini diadakan di Jakarta.

Para pengunjung bisa menikmati pertunjukan puisi, mengikuti workshop dan mendiskusikan beragam isu seperti sensor, seksualitas dan kebebasan.

Kita simak kisah selengkapnya yang disusun Nicole Curby berikut ini.

“Perdamaian dan kebebasan hidup berdampingan, berkembang, dewasa dan berkonsolidasikan bersama-sama. Perdamaian akan rusak ketika kebebasan masyarakat diabaikan. Apa itu kebebasan? Kebebasan berkeyakinan dan menjalankannya, kebebasan berpikir dan menyatakan pendapat.”

Itu adalah Jose Ramos Horta, bekas pemimpin kemerdekaan dan Presiden Timor Leste. Dia menyuarakan ini saat membuka secara resmi ASEAN Literary Festival atau ALF 2016 di Jakarta.

Beberapa isu kontroversial diagendakan dibahas dalam acara ini dan kekhawatiran Ramos Horta menjadi kenyataan.

Ancaman sensor dari pihak berwenang membayangi penyelenggaraan acara ini. Pemicunya adalah tema diskusi dalam festival ini; seksualitas dan pembantaian 1965.

Tapi Direktur Program ALF, Okky Madasari, bersikukuh festival harus tetap berjalan. 

“ASEAN Literary Festival menentang segala bentuk sensor. Karena itu kami memutuskan untuk melanjutkan program-program itu. Apapun yang terjadi, acara harus tetap berjalan,” tekad Okky.

Pelarangan diskusi bukan kali ini saja terjadi. Di Festival Penulis Ubud di Bali akhir tahun lalu, pihak berwenang membatalkan beberapa acara diskusi soal tragedi 65. 


Penulis Leila Chudori membebarkan alasan perlunya diskusi soal peristiwa itu. 

“Harus ada langkah serius soal apa yang terjadi pada  tahun 65. Kebenaran harus diungkap. Investigasi harus dilakukan, dilanjutkan permintaan maaf dari negara dan pada akhirnya ada rekonsiliasi. Semua proses ini harus dilewati. Jika tidak, impunitas di negeri ini tidak akan pernah berakhir,” kata Leila.

Pengunjuk rasa berkumpul di luar tempat acara pada hari pembukaan ALF 2016. Akibatnya ada sesi workshop yang harus pindah lokasi. 

Tapi panitia tetap mempertahankan tema diskusi soal isu-isu politik yang sensitif, termasuk radikalisme agama dan hak-hak LGBT.

Penerapan hukuman mati juga dibahas dalam acara ini. Pemerintah Indonesia belum lama ini mengisyaratkan akan kembali melakukan eksekusi mati.

Tahun lalu Indonesia dikecam masyarakat internasional setelah mengeksekusi 14 tahanan, termasuk dua pria Australia, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran.

Julian McMahon, yang mewakili keduanya yang tergabung dalam kelompok Bali Nine, bicara soal dinamika politis dari hukuman mati.

“Pertanyaan soal seberapa politis sebuah eksekusi, jawabannya sama di seluruh dunia, mulai dari Amerika, Iran hingga Pakistan. Eksekusi selalu berkaitan dengan politik. Sistem hukum bekerja sampai batas tertentu, tapi keputusan untuk membunuh atau tidak, pada akhirnya merupakan keputusan politik,” kata Julian.

“Saya sangat marah mendengar akan ada eksekusi lagi. Ini memang belum terjadi tapi semoga tidak ada lagi eksekusi mati di Indonesia.”

Dalam kesempatan itu, para penulis dari penjuru tanah air juga menyatakan keprihatinan mereka soal kualitas pendidikan di Indonesia dan cara memerangi rendahnya angka melek huruf.

Menurut Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan atau OECD, kemampuan membaca mahasiswa Indonesia sangat rendah. Indonesia berada di peringkat 60 dari 65 negara yang disurvei oleh Program Penilaian Pelajar Internasional.


Dalam era serba digital saat ini, Leila Chudori berharap revolusi online berdampak baik bagi karya sastra, penulis dan pembaca.

“Minat baca orang Indonesia sangat rendah. Tapi saya ingin tetap berpikir positif. Sejak ada internet, banyak orang berpikir kalau menulis dan karyanya dibaca orang adalah sesuatu yang keren. Jadi sejak revolusi internet muncul lebih banyak penulis dan pembaca. Menurut saya itu luar biasa. Internet telah mengubah kebiasaan membaca di Indonesia,” harap Leila.

Bagi penyair dan pendidik asal Malaysia, Illye Sumanto, sastra seharusnya bisa diakses semua orang.

Sebagai pengajar,  dia mendorong anak-anak untuk berhubungan dengan bahasa dan menulis puisi mereka sendiri.

“Di Malaysia, belajar bahasa hanya dilihat dari segi fungsinya. Tapi puisi bisa mengubah itu. Kami berusaha agar Kementerian dan sekolah bisa melihat kalau pendidikan puisi perlu masuk kurikulum. Tujuannya membantu anak memahami bahasa secara mendalam. Selain itu bisa membuka banyak hal seperti kreativitas dan kepercayaan diri anak,” jelas Illye Sumanto.

Selama tiga tahun, ASEAN Literary Festival, dilaksanakan di Jakarta. Tapi bekas Presiden Timor Leste, Jose Ramos Horta, ingin agar festival ini bisa diselenggarakan di negara itu.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!