Keluarga 260 korban kebakaran pabrik di Karachi berunjuk rasa menuntut kompensasi di Karachi Pakista

Keluarga 260 korban kebakaran pabrik di Karachi berunjuk rasa menuntut kompensasi di Karachi Pakistan. (Foto: National Trade Union Federation)

Di Pakistan, keluarga lebih dari 250 pekerja yang tewas dalam kebakaran pabrik pada 2012 membawa kasus mereka ke pengadilan internasional.

Keluarga korban berencana menuntut sebuah perusahaan yang berbasis di Jerman. Perusahaan itu disebut mendapatkan keuntungan dari murahnya harga dan buruknya kondisi kerja di industri tekstil global.

Koresponden Asia Calling KBR, Naeem Sahoutara, menyusun kisah ini dari Karachi, tempat kejadian ini terjadi.

Saeeda Khatoon, 43 tahun, masih terlihat trauma bila mengingat malam terbakarnya pabrik Ali Enterprises.

“Sepanjang malam saya berlari ke sana kemari. Saya berteriak, 'Anak-anak kami sekarat di dalam pabrik.’ Saya melakukan segalanya untuk menyelamatkan mereka. Tapi polisi terus menyuruh kami menjauhi pabrik. Keesokan harinya sekitar jam 10 pagi, saya menemukan tubuh anak saya di kamar mayat. Pada hari itu bahkan langit pun menangis,” kenang Saeeda Khatoon.

Satu-satunya putra Saeeda bernama Aizaz Ahmed dan berusia 17 tahun. Dia tewas terbakar saat kebakaran hebat melanda pabrik tempatnya bekerja pada 11 September 2012.

Lebih dari 250 karyawan meninggal terperangkap di dalam pabrik. Peristiwa ini dianggap sebagai bencana industri terburuk dalam sejarah negara itu.

Dengan UU ketenagaan kerja yang lemah, keluarga korban menyalahkan buruknya standar keselamatan sebagai penyebab kematian orang yang mereka cintai.

Salah satunya kata mereka, pintu pabrik terkunci dari dalam ketika kebakaran terjadi.

“Pintu-pintu terkunci dari dalam dan itu tanggung jawab pemilik pabrik. Selama tiga tahun dan sembilan bulan terakhir, kami berusaha untuk mencari keadilan, berunjuk rasa di jalanan dan di luar kantor persatuan wartawan,” kata Saeeda Khatoon.

Untuk memenuhi target, para pekerja dipaksa bekerja malam hari dalam ruangan terkunci. Kebanyakan korban meninggal akibat menghirup gas beracun karena terjebak dalam bangunan.

Bekas Perdana Menteri, Raja Pervez Ashraf, menjanjikan keadilan bagi keluarga korban. Tapi polisi membatalkan tuduhan pembunuhan berencana terhadap pemilik pabrik. Diduga keputusan ini merupakan petunjuk dari Perdana Menteri.

Pemilik pabrik Abdul Aziz Bhaila dan dua putranya, melarikan diri ke Dubai setelah Pengadilan Tinggi Sindh membebaskan mereka dengan jaminan.

Setelah menunggu keadilan selama dua tahun, keluarga korban membentuk sebuah komite aksi untuk menuntut kompensasi.

Pada peringatan Hari Buruh tahun ini, mereka turun ke jalanan Karachi mengingatkan janji pemerintah yang belum ditepati. 

Di antara mereka ada Kulsoom Bibi.

Jenazah putranya Shahbaz Ahmed, menurutnya tidak pernah ditemukan.

Yang dia tahu hanyalah putranya hari itu pergi bekerja ke pabrik dan tidak pernah kembali.

Sebagian besar pekerja di pabrik Ali Enterprises adalah pencari nafkah utama keluarga, dengan upah sekitar 50an ribu rupiah per hari.

Masing-masing keluarga menerima kompensasi sekitar 270 juta rupiah. Ini bagian dari 13 milyar rupiah yang disediakan oleh sebuah perusahaan yang berbasis di Jerman, KIK Texilien.

KIK Texilien, satu-satunya pembeli asing dari produk yang dibuat di pabrik Ali Enterprises, juga menjanjikan lebih banyak bantuan keuangan. 

Tapi itu sebelum mereka mengetahui kalau kebakaran itu diduga disegaja setelah pemilik pabrik gagal membayar uang ‘keamanan’ ke sebuah geng kriminal.

Pengadilan belum memutuskan apakah kebakaran itu disengaja atau tidak. Tapi kelompok buruh mengatakan masalah utamanya adalah buruknya keamanan kerja.

“Serikat pekerja sudah mendorong upah minimum dan uang lembur. Tapi sekarang kami sedang berjuang untuk memastikan keamanan tempat kerja sehingga para pekerja bisa pulang dengan selamat. Setiap hari pekerja meninggalkan rumah mereka untuk mati. Ini menjadi jebakan maut!” kata Nasir Mansoor, sekretaris jenderal Federasi Persatuan Perdagangan Nasional Pakistan.

Nasir mengatakan, pasca kebakaran hebat itu, kondisi kerja yang buruk masih belum diperbaiki.

“Suasana kerja di banyak pabrik seperti perbudakan. Tidak ada alarm darurat dan alat pemadam kebakaran. Sementara  petunjuk keselamatan dalam bahasa Inggris atau bahasa lain yang sulit dimengerti pekerja. Selama 40 tahun jadi aktivis buruh, kondisi kerja tidak pernah seburuk ini.”

Hanya tiga minggu sebelum kebakaran tragis, sebuah perusahaan audit yang berbasis di Italia, RINA, mengeluarkan sertifikat SA8000 kepada Ali Enterprises.

Sertifikat kepatuhan itu diberikan setelah mereka mengaudit kebijakan, prosedur dan dokumentasi perusahaan, untuk memastikan tempat kerja yang aman.

Itu alasan mengapa keluarga korban memutuskan untuk menuntut dua perusahaan Eropa yang terlibat, KIK Texilien dan RINA.

“Kami telah mengajukan kasus terhadap KIK di Jerman dan RINA di Italia karena anak-anak kami tewas dalam cara yang brutal. Umur saya 56 tahun dan pensiun dari pabrik itu untuk anak saya hanya lima tahun, dan berakhir tahun 2017. Apa yang akan terjadi pada saya setelah itu? Saya sudah tidak bisa melihat dan hidup saya hancur,” kata Abdul Aziz.

Ini adalah Abdul Aziz, sekretaris jenderal Asosiasi Korban Kebakaran Pabrik Baldi. Dia kehilangan putranya yang berusia 18 tahun, Attaullah Nabeel, dalam tragedi itu.

Orangtua seperti dia telah meminta pengadilan di Jerman dan Italia untuk memerintahkan perusahaan tersebut membayar kompensasi yang sama dengan yang dibayar di kedua negara itu.

Dalam kasus melawan KIK, sidang pertama dijadwalkan akhir Juni atau awal Juli nanti.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!