(Foto: Twitter Geraldine Roman)

(Foto: Twitter Geraldine Roman)

Pemilu baru-baru ini di Filipina membawa beberapa kejutan. Salah satunya, terpilihnya seorang transgender menjadi anggota kongres. Ini baru kali pertama terjadi di negara itu.

Di sebuah negara yang sangat religius, di mana perceraian, aborsi dan pernikahan sesama jenis dilarang, Geraldine Roman, 49 tahun, melawan iklim politik saat ini.

Koresponden Asia Calling KBR, Madonna Virola, menyusun kisah lengkapnya dari kota Calapan.

Terpilihnya Geraldine Roman, politikus transgender pertama di Filipina, dipuji sebagai terobosan politik.

Di masa kampanye yang panas dan berdebu, Geraldine berkampanye mengenakan kalung mutiara dan lipstik. Dia kerap memakai kemeja kuning partainya, Partai Liberal Administasi .

Tapi dia tidak luput dari aksi fitnah dan pembunuhan karakter oleh kandidat saingannya.

“Pada awalnya, lawan saya mencoba untuk menjadikan jenis kelamin saya sebagai isu tapi ternyata masyarakat tidak keberatan. Lawan politik saya melakukan politik kebencian dan fanatisme,” kisah Geraldine.

Geraldine pulang dari Spanyol pada 2012, untuk merawat orangtuanya yang sudah tua dan melanjutkan warisan politik keluarganya. Ibunya, Herminia, dan ayahnya, Antonio Jr., adalah bekas anggota kongres.

Geraldine akan melanjutkan jejak ibunya sebagai wakil dari Bataan, di Luzon Tengah. Di sana keluarganya telah menjadi kekuatan politik selama tiga generasi.

Kemenangannya membuat para aktivis LGBT gembira.

“Saya sangat senang akhirnya ada transgender yang dikenal di bidang lain, tidak hanya di bidang fashion, bisnis, atau showbiz. Ini tentang politik, kepemimpinan dan kepercayaan rakyat pada jenis kelamin yang kerap dianggap lebih rendah,” kata Joey.

Gereja Katolik Roma punya pengaruh yang kuat di negara-negara Asia Tenggara, di mana perceraian, aborsi dan pernikahan sesama jenis adalah ilegal.

Menurut Pew Research Centre, 81 persen warga Filipina mengaku penganut Katolik.

Dan sejak 2001, orang-orang transgender di Filipina tidak bisa mengubah nama dan jenis kelamin mereka secara hukum.

Awal tahun ini, juara tinju internasional dan anggota kongres dua periode, Manny Pacquiao, memicu kemarahan ketika menggambarkan gay ‘lebih buruk dari binatang’.

Pacquiao, yang kemudian meminta maaf, hampir dipastikan memenangkan kursi di senat baru negara itu.

Geraldine hidup sebagai seorang perempuan selama lebih dari dua dekade. Dia menjalani operasi kelamin di New York pada usia 27 tahun.

Dia sempat bekerja sebagai jurnalis dan editor senior untuk Kantor Berita Spanyol.

Dalam kampanye dia berjanji akan membangun lebih banyak infrastruktur, menyediakan perawatan medis, beasiswa, dan pemerintahan yang transparan.

Terpilihnya Geraldine menimbulkan riak inspirasi di Filipina.

“Setidaknya kita bisa bersuara. Seseorang bisa membantu kami, terutama orang-orang muda yang membutuhkan bimbingan. Banyak dari kami mengalami diskriminasi bahkan dari orangtua sendiri. Hidup saya sulit dan saya terpaksa menikah dengan seorang perempuan agar tidak didiskriminasi,” kata Apol Acenas, seorang penata rambut gay di Calapan.

Sebuah RUU Anti-diskriminasi nasional untuk melindungi LGBT di negara itu telah mendekam di kongres dan senat selama 16 tahun.

RUU itu akan menjamin perlakuan yang sama di tempat kerja, sekolah, perusahaan dan kantor-kantor pemerintah.

Ini salah satu UU yang Geraldine janjikan akan dibahas kembali. Dia juga ingin mendorong transisi gender dan pernikahan sesama jenis.

Namun tidak diragukan, upayanya ini akan mendapat penolakan.

Oddie Quino, seorang pemimpin agama dari Calapan mengatakan ajaran Gereja Katolik sudah sangat jelas.

“Pernikahan, seperti yang ditetapkan oleh Tuhan, adalah setia, eksklusif, persatuan seumur hidup seorang laki-laki dan perempuan. Mereka berkomitmen sepenuhnya satu sama lain dan punya tanggung jawab melahirkan anak-anak dan merawat mereka. Laki-laki dan perempuan itu setara, berbeda tapi saling melengkapi. Pernikahan sesama jenis bertentangan dengan sifat perkawinan,” tegas Oddie Quino.

Tapi Geraldine yang juga seorang Katolik, tidak khawatir.

“Tubuh itu hanya cangkang. Jika Anda merasa dengan mengubah cangkang bisa membuat Anda lebih penuh kasih, murah hati dan bahagia, lakukanlah. Karena yang terpenting itu adalah hati,” kata Geraldine.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!