Panel di acara 30 under 30. (Foto: Courtesy of Forbes Vietnam)

Panel di acara 30 under 30. (Foto: Courtesy of Forbes Vietnam)

Sebagian besar kaum muda Vietnam tidak begitu tahu tentang perang Vietnam.

Saat ini mereka lebih memikirkan integrasi ketimbang konflik internasional.

Negara ini merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.

Dan generasi muda negara itu tengah memikirkan cara menyebarkan kemakmuran ke seluruh lapisan masyarakat.

Kita simak laporan koresponden Asia Calling KBR, Lien Hoang, dari Kota Ho Chi Minh.

Bulan ini ketika presiden Amerika Serikat Barack Obama berkunjung ke Vietnam, salah satu kelompok yang dia temui adalah para pengusaha dan pemimpin muda.

Generasi muda ini terdidik, melek teknologi dan hidup dalam suasana damai untuk mengejar impian mereka. Ambisi semacam ini yang disoroti Majalah Forbes lewat daftar "30 Under 30" yang dirilis pekan  lalu. Daftar ini dirilis setiap tahun dan memasuki tahun kedua. 

Daftar ini menyoroti kaum muda Vietnam di bawah 30 tahun yang berprestasi di bidangnya.

Mulai dari olahraga, musik, bisnis startup, hingga ilmu pengetahuan.

Salah satu bintang ‘30 under 30’ adalah Arlette Quynh Anh Tran, 28 tahun, kurator di San Art. Galeri seni ini selain mengadakan pameran juga membuat program residensi dan pertukaran seniman.

Setelah Tran berpidato dalam acara itu, saya berbincang dengannya tentang apa yang membuat kelompok seperti San Art itu penting.

“Banyak orang berpikir sempit tentang seni. Sebenarnya seniman adalah mereka yang punya sensitivitas, pengamat dan cerdas. Mereka punya bakat untuk mengubah apa yang mereka rasa sebagai masalah menjadi sesuatu yang dapat menarik banyak orang. Maksud saya masalah di sini adalah kemiskinan, keadilan sosial, perang, tapi bukan perang di Vietnam,” jelas Arlette.

Sekitar setengah dari 94 juta penduduk Vietnam berusia di bawah 30 tahun.

Dan Bank Dunia menyebut secara keseluruhan orang Vietnam lebih berpendidikan daripada warga negara lain dengan pendapatan yang sama.

Pemimpin Forbes Vietnam, Nguyen Bao Hoang, mengajak kaum muda menggunakan kemampuan mereka untuk membuat perbedaan.

“Semua orang muda di ruangan ini adalah generasi emas Vietnam. Dari sekarang dan sampai Anda pensiun, Vietnam berubah dari negara dengan pendapatan rendah, negara berkembang, hingga menjadi negara nomor satu di dunia. Tugas mewujudkan mimpi ini ada di pundak kaum muda,” kata Nguyen.

Acara ini menampilkan orang-orang seperti Luong The Huy, direktur program hak LGBT di Institut Studi Kemasyarakatan, Ekonomi dan Lingkungan; Hoang Minh Nhat, pendiri jaringan toko roti Minh Nhat; dan Nguyen Tuan Manh, seorang pemain piano.

Tapi daftar ini tidak hanya soal 30 nama yang ada di dalamnya. Ini juga tentang menginspirasi kaum muda yang seumuran untuk melakukan bagian mereka.

Seperti Pham Bao Long, 24 tahun, yang mendapatkan diskon mahasiswa untuk menghadiri Konferensi Forbes ini. 

Long mengatakan mendengar pengalaman sukses orang-orang lain itu sangat membantunya.

Ini bisa mendorong lebih banyak orang untuk berinvestasi di masyarakat atau apa yang disebutnya modal sosial.

“Jika kita punya modal sosial yang baik, masyarakat akan saling mengasihi dan melindungi satu sama lain. Jadi ketika kita berinvestasi dalam modal sosial, kita akan punya hubungan yang lebih baik. Orang akan peduli satu sama lain dan membantu masyarakat untuk berhasil,” kata Long.

Long melihat dirinya melakukan hal itu melalui perusahaan orang tuanya. Mereka menyediakan perumahan yang terjangkau dan pinjaman dengan bunga lebih rendah.

“Saya tidak berani mengatakan kami memberikan bantuan, karena ini adalah perusahaan yang bergantung pada keuntungan. Tapi sebagai bisnis keluarga, kami lebih memikirkan soal masyarakat ketimbang keuntungan. Keluarga kami mencoba menjual properti dan tanah dengan harga terjangkau.”

Hari ini kaum muda Vietnam akan punya kesempatan yang tidak pernah dibayangkan oleh orangtua mereka.

Dan abad ke-21 telah membawa alat dan manfaat yang dipercaya kurator seni, Tran, harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

Orang Vietnam menggunakan teknologi di hampir semua profesi, seperti pembuat game, ahli biologi dan bahkan pelukis.

“Generasi kita sangat beruntung. Kami tumbuh dari nol tanpa internet atau teknologi dan mengalami masa sulit untuk mendapatkan informasi. Dan kemudian kami melihat perubahan. Jadi menurut saya, dengan teknologi dan kebutuhan untuk belajar, generasi ini akan berkembang dan melakukan perubahan,” kata Arlette.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!