Ribuan etnis Hazara Afghanistan turun ke jalanan Kabul. Tuntutannya agar mereka dilibatkan dalam pro

Ribuan etnis Hazara Afghanistan turun ke jalanan Kabul. Tuntutannya agar mereka dilibatkan dalam proyek saluran transmisi listrik yang bernilai jutaan dolar. (Foto: Shadi Khan Saif)

Pekan ini, ribuan etnis Hazara Afghanistan turun ke jalanan Kabul. Tuntutannya agar mereka dilibatkan dalam proyek saluran transmisi listrik yang bernilai jutaan dolar.

Para pengunjuk rasa meminta pemerintah mengubah rencana rute proyek itu, agar melintasi daerah yang mayoritas dihuni komunitas Hazara.

Koresponden Asia Calling KBR, Shadi Khan Saif, menyusun laporan soal kontroversi ini dari Kabul.

Ribuan orang berbaris di ibukota Kabul. Mereka berteriak menuntut keadilan dan kesetaraan.

Sebelumnya, kabinet telah menyetujui proyek saluran listrik 500 kilovolt (Kv). Ini akan menyalurkan listrik yang sangat dibutuhkan dari Asia Tengah, melalui provinsi-provinsi di utara Afghanistan.

Tapi masyarakat Hazara, yang bermukim di pusat negara itu, menyatakan mereka tidak menikmati keuntungan dari proyek itu. Minoritas Muslim ini, yang sebagian besar penganut Syiah, telah lama teraniaya di Afghanistan.

Presiden Afghanistan Mohammad Ashraf Ghani sedang berada di Inggris pekan lalu ketika pengunjuk rasa turun ke jalan.

Saat Ghani berbicara dalam sebuah pertemuan para intelektual dan peneliti di Royal United Institute of Security (RUIS) di London, seorang pengunjuk rasa menyelanya. Dia menuduh Ghani seorang yang rasis karena tidak memasukkan komunitas Hazara dalam proyek listrik ini.

“Keputusan soal proyek ini dibuat tahun 2013 di mana proyek ini akan melewati Salang Pass bukan lembah Bamiyan. Memang saat itu, itu keputusan yang salah. Tapi enam juta orang akan mendapat manfaat dari proyek yang sudah dipersiapkan selama tiga tahun ini. Tapi Anda harus mempertimbangkan pendapat dan kemarahan orang muda. Karena jika Anda tidak punya toleransi atas kemarahan masyarakat, Anda tidak bisa membimbing nasib sebuah bangsa,” kata Presiden Ghani menanggapi tudingan itu.

Pernyataan Presiden Ghani di London itu menimbulkan kritik di dalam negeri, yang mengecam sikap tidak menghormati Presiden Ghani dan menyerukan menjaga ketertiban dan harmoni.

Di Kabul, ketika komunitas Hazara mengadakan aksi unjuk rasa besar-besaran dan berkumpul di luar istana presiden, kota itu dikepung oleh pasukan keamanan.

Semua jalan utama yang mengarah ke istana diblokir dengan kontainer sehingga gerak para demonstran sangat terbatas.

Murtaza Jafferi, seorang warga Kabul, ikut berujuk rasa. Dia mengatakan pemerintahan saat ini lebih buruk ketimbang yang sebelumnya.

“Pemerintahan sebelumnya jauh lebih bagus. Masyarakat punya pekerjaan dan hidup bahagia. Tapi sekarang semua orang muda meninggalkan negara ini. Masyarakat terpaksa berujuk rasa. Tapi lihatlah cara mereka bereaksi. Mereka menaruh begitu banyak kontainer yang menghalangi kami menuju Istana Presiden,” kata Jafferi.

Karim Khalili, ketika rencana proyek ini dibuat tiga tahun silam, menjabat sebagai wakil presiden. Dia menuntut pemerintah membatalkan rencana itu.

Sikap masyarakat sendiri terpecah soal rute proyek itu.

Tapi pemerintah mengklaim perubahan rencana akan menelan biaya jutaan dolar dan membuat proyek ini tertunda. Mereka juga mengklaim, meski tidak dilewati, Provinsi seperti Bamiyan akan tetap mendapatkan pasokan listrik yang cukup.

Afghanistan masih terus berjuang agar negaranya stabil. Proyek ini menjadi uji coba kemajuan Afghanistan dan menguji ketegangan etnis yang mendasari stabilitas politik di negara itu.

Pakar politik, Profesor Latif Nazari,mengatakan kedewasaan politik diperlukan untuk memastikan kelancaran transisi menuju perdamaian dan demokrasi.

“Rakyat harus memastikan selama masa sensitif ini, tidak ada yang merusak citra negara atau mengizinkan kekuatan eksternal mengeksploitasi situasi seperti itu. Kita harus  bergerak menuju persatuan nasional,” ujar Nazari.

Baru 30 persen wilayah Afghanistan yang dialiri listrik sehingga di sana kerap terjadi pemadaman listrik. Rencanya proyek ini akan mulai berjalan tahun 2018.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!