Anak-anak tampak antusias melihat buku-buku yang ada di Festival Sastra di Jaipur India. (Foto: Jasv

Anak-anak tampak antusias melihat buku-buku yang ada di Festival Sastra di Jaipur India. (Foto: Jasvinder Sehgal)

Di Jaipur India belum lama ini berlangsung festival sastra. Acara ini dikunjungi ribuan anak yang ingin belajar menjadi penyair dan penulis.

Festival ini tidak hanya menampilkan koleksi buku anak-anak dalam jumlah besar. Tapi anak-anak punya kesempatan berinteraksi dengan beberapa penulis terkenal.

Jasvinder Sehgal menghadiri salah satu sesi di festival itu yang disebut “there is a poem in my brainbox.” 

Ratusan anak berkumpul di panggung terbuka Jawahar kala Kendra yang merupakan pusat kebudayaan di kota Jaipur.

Mereka terlihat antusias untuk belajar cara menulis puisi.

Jerry Pinto, seorang penulis puisi, prosa dan buku fiksi anak adalah pemandu acara. Dia adalah pemenang penghargaan sastra Windham-Campbell tahun ini.

Dia meminta anak-anak mengungkapkan pikiran mereka soal apa saja tapi dalam bentuk puisi.

Riya Raj, 13 tahun, yang bercita-cita jadi penyair, ingin menulis puisi tentang kelezatan masakan India - samosa.

Riya membacakan puisinya yang isinya “Samosa ku yang enak, samosa yang panas, samosa isi kentang, samosaku yang enak...”

Anak lain bernama Aaina Chaudhry yang berusia 12 tahun. Dia menulis tentang sesuatu yang paling dibencinya.

“Saya menulis puisi tentang fisika. ‘Mengapa kamu sangat sulit. Mempelajari kamu membuat aku mengantuk, Friksi dan momentum begitu membosankan, menghitung mereka membuat aku berkhayal. Mengapa kamu tidak mati? Penuh kebingungan, penuh mimpi, oh Tuhan saya begitu mengantuk,” keluh Aaina.

Anak-anak dan Pinto menikmati puisi karya para penulis muda. Ia berbagi rahasia cara menulis yang baik.

“Saya menyarankan kalian untuk mencoba. Ingat, kalian punya bahasa ibu yang mungkin bukan bahasa Inggris. Bahasa ibu itu kaya inspirasi. Selain itu kalian harus memperhatikan irama karena puisi harus terdengar bagus. Juga banyak membaca puisi, misalnya membaca satu puisi sebelum tidur. Dan yang terakhir tidak terburu-buru untuk menerbitkan puisi,” jelas Pinto.


Pinto mengatakan banyak hal lain yang bisa dilakukan untuk mendorong anak mau menulis puisi.

Dia menjelaskan apa yang dia lihat sebagai mata rantai yang hilang.

“Menurut saya yang perlu dilakukan adalah mendidik kembali anak-anak tentang puisi. Di sekolah-sekolah India, kita mengajar anak-anak untuk belajar puisi dengan cara menghafal. Sangat jarang mereka berinteraksi dengan keindahan ritme bahasa. Padahal mereka harus belajar puisi dengan hati. Jadi hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat anak menyadari kalau puisi adalah mengubah dunia,” papar Pinto.

Namun dia mengaku tetap ada tantangan.

“Kita tidak boleh menciptakan kata. Kita diharapkan menggunakan kosakata yang ada dan kerap menggunakan kata rumit untuk menggambar hal sederhana. Kita  lebih banyak membaca buku Amerika dan Inggris. Cerita pertama yang kita baca selalu tentang Jane dan Richard yang tinggal di London. Tapi saya ingin membaca buku tentang Leopon yang tinggal di Beijing atau anak kecil yang besar di Jakarta atau Fiji,” harap Pinto.

Anak-anak tampak menikmati acara itu.

“Kami belajar bagaimana menulis puisi dan menggunakan kosakata untuk menulis puisi yang bagus. Kita bisa menulis puisi tentang apa saja. Jadi saya masih harus banyak berlatih,” ungkap Harshita yang berusia 12 tahun.

Para orang tua juga bergabung dalam festival itu. Tapi orangtua Harshita ini tidak ingin dia menjadi seorang penulis.

Sementara Anupama Sharma, ibu dari seorang putri berusia lima tahun, punya pendapat berbeda.

“Dia ingin jadi seniman jadi saya tidak akan menyuruh dia jadi insinyur. Dia sudah menulis beberapa puisi pendek.”

Pinto mengatakan orangtua harus membimbing anak-anak mereka. Dan ini nasihatnya untuk para orangtua.

“Anak akan meniru apa yang Anda lakukan. Jika mereka melihat Anda pulang dan bersantai dengan buku, mereka juga secara spontan akan membaca. Tapi jika Anda pulang lalu sibuk dengan telepon Anda, anak juga akan melakukan hal yang sama. Dan Anda tidak bisa menyalahkan mereka karena melakukannya,” kata Pinto.

Di India kebiasaan menulis dan membaca menurun dari hari ke hari. Tapi Pinto berharap pendengar muda Asia Calling sedang mengembangkan kebiasaan membaca yang baik!

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!