Halaman pembuka aplikasi Univoca. (Foto: Jason Strother)

Halaman pembuka aplikasi Univoca. (Foto: Jason Strother)

Aksen orang Korea Utara kadang jadi bahan ejekan di program komedi di Korea Selatan. Bagi sebagian orang di sini, aksen itu terdengar aneh dan kuno.

Tapi Lee Song-ju mengatakan bila dia berbicara lewat telepon, tidak ada yang tahu kalau dia orang Korea Utara.

Pria berusia 28 tahun ini mengaku aksen itu membuat dia malu saat tiba di Korea Selatan pada 2002.

“Aksen Korea Utara saya sangat kental. Orang-orang kerap bertanya soal asal usul saya. Jadi bila ada yang bertanya saya terpaksa berbohong. (Mengapa Anda malu?) Karena saya tidak mau bercerita soal itu. Orang tahu kalau Korea Utara adalah negara yang sangat miskin,” tutur Lee.

Dia bilang orang Korea Selatan akan memandang rendah dirinya dan dia tidak akan bisa punya teman. Jadi dia belajar akses lokal dengan cukup cepat.

Asimilasi aksen adalah salah satu cara para pembelot bisa beradaptasi di sini kata Sokeel Park, direktur strategi dan kajian di kelompok pendukung pengungsi Liberty in North Korea, LINK.

Tapi menurutnya tantangan terbesar linguistik bagi pembelot yang baru tiba adalah mempelajari semua kata baru, yang diperoleh Korea Selatan selama tujuh dekade terakhir sejak semenanjung ini berpisah.

“Ada banyak perubahan lingusitik terutama di Selatan akibat pengaruh globalisasi dan terutama Bahasa Inggris. Jadi ketika mereka datang kemari, mereka kaget ada banyak kata serapan yang tidak dikenal, misalnya saat masuk ke sebuah kedai kopi,” jelas Park.

Bagi pembelot Korea Utara yang sedang belajar kosa kata dan ekspresi Korea Selatan, ada sebuah aplikasi di telepon pintar yang bisa membantu menjembatani perbedaan bahasa itu.

Aplikasinya bernama Univoca, kependekan dari unification vocabularyatau kosa kata unifikasi.

Unicova memungkinkan penguna mengetik atau mengungah foto dari kata yang tidak dikenal dan memberikan terjemahannya dalam bahasa Korea Utara.

Juga ada menu yang memberi saran soal kalimat praktis, seperti cara memesan pizza dan ada video yang menjelaskan beberapa istilah saat berkencan.

Salah seorang pengembang aplikasi, Jang Jong-chul dari perusahaan iklan Cheil Worldwide menjelaskan bagaimana mereka memilih kosa kata. Dia membuka sebuah buku yang kata-kata di beberapa halaman sudah tandai.

“Pertama, kami menunjukkan buku teks tata bahasa Korea Selatan ini kepada para pembelot remaja. Mereka lalumemilih kosa kata yang asing bagi mereka. Kami juga berkonsultasipada orang Korea Utara yang lebih tua untuk membantu terjemahannya.Sejauh ini mereka telah menambahkan sekitar 3.600 kata di databaseaplikasi,” jelas Jang.

Sebelum dia mulai mengerjakan aplikasi ini, kata Jang, dia tidak pernahmenyadari betapa terbatasnya kosa kata Korea Utara. Atau adabeberapa ekspresi yang sekarang sudah tidak digunakan di Selatan,masih digunakan di Utara.

Saya ingin mendapat opini orang Korea Utara soal aplikasi terjemahanini.

Jadi saya meminta Lee Song-ju memasangnya di teleponnya.

Kami lalu berjalan-jalan di sekitar pusat perbelanjaan di bawah Se AhTow-wa, cara Korea menyebut tower atau menara, yang tampaknya bisa menjadi kata pertama yang dicoba.

Ternyata tidak ada terjemahan kata menara dalam bahasa Korea Utara.

Kemudian kami melewati sebuah toko es krim.

Dia lalu mengetikkan es krim dan mendapat terjemahannya.

Kami mencoba lagi – kali ini kami bertemu Dunkin Donuts. Dan ternyata terjemahan yang diberikan aplikasi itu untuk kata Donat, sama seperti yang digunakan di Korea Utara.

Jadi berdasarkan tes cepat ini, kosa kata di aplikasi ini tampaknya masih ada yang kurang tepat.

Mungkin pengembangnya bisa mendapatkan beberapa bantuan dari Han Yong-woon.

Dia adalah ahli kamus Korea Selatan yang selama beberapa tahun terakhir bekerja sama dengan rekan-rekannya dari Korea Utaramenyusun kamus bersatu Korea yang pertama.

Dan dari apa yang dia pelajari, dia mengaku tidak percaya kalau bahasa Korea Utara itu terjebak di masa lalu.

“Semua bahasa itu hidup dan berkembang, bahkan bahasa Korea Utara. Selama bertahun-tahun, mereka juga meminjam istilah asing terutama dari bahasa Rusia dan Tiongkok,” kata Han.

Ketegangan politik menghambat penyelesaian kamus bersama ini. TapiHan berharap proyek ini akan selesai dalam beberapa tahun lagi.

Adapun aplikasi bahasa Korea Utara Univoca, adalah aplikasi open source sehingga pengguna dapat menambahkan kata-kata baru yang ditemuinya.

Pembelot Lee Song-ju mengaku awalnya dia skeptis, tapi akhirnya dia menyukai aplikasi ini. 

“Menurut saya ini cukup bagus dan dirancang dengan baik. Tidak begitu banyak fungsinya tapi sangat berguna bagi pembelot Korea Utara yang baru saja tiba di sini,” aku Lee.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!