Gajendra Singh. (Foto: Jasvinder Sehgal)

Gajendra Singh. (Foto: Jasvinder Sehgal)

Seorang petani di India tewas gantung diri di sebuah pohon di depan kerumunan massa aksi demo yang digagas Gubernur Delhi, Arvind Kejriwal.

Petani itu bernama Gajendra Singh dan berasal dari negara bagian barat, Rajasthan. Dia kemudian dibawa ke rumah sakit dan di sana dokter menyatakan dia sudah meninggal.
 
Lebih dari seribu orang menghadiri pemakaman Gajendra Singh. Diantara keluarga yang berduka ada pemimpin politik dari oposisi Partai Kongres.
 
Para saksi mengatakan Gajendra memanjat ke puncak pohon selama aksi demo anti-pemerintah dan mengikat selendang di lehernya.

Beberapa orang dilaporkan berupaya menghentikan dia saat mau gantung diri tapi saudara lelakinya Brijender yakin mereka bisa mencegahnya.

“Saudara saya mungkin masih hidup jika orang-orang yang ada di sana bersungguh-sungguh menyelamatkan dia. Saya tidak mau menyalahkan siapapun tapi yang saya tahu, seorang petani memanjat pohon untuk bunuh diri. Dia manusia yang harus diselamatkan. Ada yang salah ketika ada petani bunuh diri,” ungkap Brijender Singh.

Menurut sebuah laporan PBB yang dirilis tahun 2007, setiap 32 menit satu petani bunuh diri di India.

Kerabat Gajendra, Gopal Singh, mengatakan sebelum Gajendra bunuh diri, dia melempar catatan perpisahan ke kerumunan. Suratnya berisi curhatan hatinya tentang tanamannya yang rusak  akibat angin kencang dan hujan es bulan lalu.

“Semua tanamannya rusak karena angin kencang dan hujan es. Tapi pemerintah lokal menyatakan hanya 23 persen yang rusak jadi dia tidak berhak mendapatkan kompensasi pemerintah,” jelas Gopal Singh.

Kematian Gajendra memicu perdebatan panas di parlemen nasional.

Partai-partai oposisi menuntut penyelidikan independen terhadap kasus ini.

Saat berbicara di parlemen, Perdana Menteri Narendra Modi mengaku terkejut dengan kematian itu.

“Saya ikut berduka cita. Kita harus bekerja sama untuk mencari jalan keluarnya. Masalah nasib petani ini adalah masalah yang mengakar. Pemerintah terbuka menerima saran-saran dan akan mempertimbangkannya. Tidak ada yang lebih berharga dari kehidupan petani. Kita bersama-bersama akan mencari jalan. Kita tidak bisa mengkhianati kepentingan petani dan meninggalkan mereka tanpa dukungan tapi untuk itu kita harus bekerja sama.”

Sebuah komisi independen nasional yang menyelidiki tingginya angka bunuh diri petani menyampaikan temuannya pada 2006.

Tapi Dr Satish Batra, bekas kepala bidang ekonomi di Universitas Rajasthan mengatakan pemerintah gagal melaksanakan rekomendasi komisi itu.

“Kita harus memperhatikan soal pengujian kesuburan tanah, asuransi tanaman, dan pastikan petani mendapatkan harga yang pantas atas panen mereka. Jika Anda membandingkan dari tahun lalu, harga produk non-pertanian meningkat ketimbang harga produk pertanian. Itulah alasan terbesar mengapa petani terpaksa mengadopsi metode jahat ini. Menurut saya, jika kita melakukan reformasi kelembagaan, pemasaran dan sosial, kita mungkin bisa mengurangi kecenderungan untuk bunuh diri,” kata Satish Batra.

Adik dari Sultan Singh, petani asal Punjab yang berusia 72 tahun, bunuh diri tahun lalu.

Menurutnya, masalah yang dihadapi adalah soal utang dan RUU pengambilalihan lahan yang kontroversial yang disusun pemerintah.

“Petani berutang tapi kesulitan membayarnya. Dan RUU baru yang akan merampas lahan mereka ini semakin memperburuk masalah petani,” tutur Sultan Singh.

RUU itu mempermudah pembebasan lahan yang akan digunakan untuk proyek infrastruktur.

Pemerintah beralasan ini akan memulai kembali proyek-proyek yang terhenti di seluruh negeri, yang nilainya mencapai triliunan rupiah.

Pihak oposisi menyatakan ini akan mempermudah bisnis besar menendang petani dari tanah mereka.

RUU ini sudah disahkan di majelis rendah parlemen bulan lalu tapi belum disetujui majelis tinggi, di mana partai BJP yang berkuasa adalah minoritas.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!