Unit cuci darah di rumah sakit di Anuradhapura, Sri Lanka. (Foto: Ric Wasserman)

Unit cuci darah di rumah sakit di Anuradhapura, Sri Lanka. (Foto: Ric Wasserman)

Panen padi sedang berlangsung di utara Sri Lanka. Cuaca hari ini sangat panas. Para lelaki dan perempuan berbaris membungkuk memotong padi sambil bercanda.

Tapi jika Anda adalah petani di utara Sri Lanka, hidup Anda mungkin dalam bahaya. Dalam dua dekade terakhir, ribuan petani tewas akibat penyakit ginjal yang tidak jelas penyebabnya.

Karnu Jemanta dan saudaranya yang sedang bekerja di sawah mereka di luar desa Rambewa, merasa khawatir.

”Sekarang kami belum sakit tapi mungkin saja waktunya tak lama lagi. Orang-orang dari Kementerian Kesehatan datang dan bilang mungkin penyebabnya bahan kimia atau air. Kami juga dianjurkan minum lebih banyak air saat bekerja. Kami melakukan apa yang mereka katakana,” kisah Karnu.

Di rumah kecilnya dekat desa Rambewa, Puntibanda yang berusia 74 tahun, terbaring di tempat tidur. Dia mengalami gagal ginjal stadium akhir.

”Empat teman petani saya juga meninggal dengan kondisi yang sama dengan saya. Kami semua minum air dari kanal yang airnya berasal dari ladang, kalau terpaksa. Dokter bilang saya menderita gagal ginjal tapi dia tidak tahu penyebabnya,” tutur Puntibanda.

Ketika saya tiba di unit penyakit ginjal di rumah sakit di kota Anuradhapura, tampak jelas kalau penyakit ini telah menjadi epidemi. Hari ini, ada lebih dari seratus orang yang mengantri untuk periksa ginjal.

Menurut Kementerian Kesehatan Sri Lanka diperkirakan jumlah orang yang terinfeksi mencapai 400 ribu orang.
 
Dokter Rajeewa Dissanayake adalah ahli penyakit ginjal di unit ginjal rumah sakit Anuradhapura.

”Menurut saya ini terjadi sejak 15 hingga 20 tahun lalu. Mereka melihat secara rinci dan menemukan kalau ada banyak pasien dengan penyakit ginjal di sini. Mereka melakukan biopsi dan hasilnya menunjukkan Nefritis interstisial kronis yang bukanlah penyebab umum penyakit ginjal.”

Saya mengikuti Dokter Rajeewa ke bangsal cuci darah. Di sana ada sekitar 20 mesin cuci darah yang pastinya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan yang sangat besar.

Sebuah program pemindaian membantu menemukan orang-orang yang terinfeksi, kata Dokter Rajeewa.

”Sejauh ini ada 150 ribu orang yang sudah dipindai dan diantaranya sudah ada yang dideteksi dan mulai diobati. Masalahnya kami tidak tahu penyebab penyakit ini jadi sulit untuk mencegahnya.”

Lebih dari 20 ribu orang tewas dan banyak lainnya akan menyusul, jika penyebab penyakit ini tidak ditemukan.

Dokter Channa Jayasumana dari Fakultas Kedokteran Univesitas Rajarata mengatakan penelitian soal ini harus diperbanyak.

Dia telah meneliti penyakit ginjal di Sri Lanka selama 10 tahun terakhir dan mengatakan ada dua pertanyaan penting yang harus dicari jawabannya.

”Mengapa epidemik ini muncul setelah 1990? Selain itu ada apa dibalik distribusi geografis unik ini? kaya Dr.  Channa.

Dokter Jayasumana membuka peta Sri Lanka di komputernya dimana berbagai daerah yang terdampak penyakit ginjal disoroti.

Dia menunjuk pada daerah yang bebas sakit ginjal. “Anda lihat, penyakit ini terbatas pada daerah-daerah tertentu di zona kering di Sri Lanka, tapi tidak di Semenanjung utara. Cuaca di sana cukup panas dibandingkan Anuradhapura - tapi tidak ada penyakit. Mengapa bisa begitu? Bisa jadi karena masalah teroris. Selama 30 tahun terakhir, pemerintah Sri Lanka tidak membolehkan pengiriman agrokimia ke daerah yang lebih utara. Orang-orang di daerah utara tidak menggunakan bahan kimia, karena teroris menggunakan bahan kimia dan pupuk untuk membuat bahan peledak.”

Kajian epidemiologi Dokter Jayasumana merujuk pada agrokimia – tapi sejauh ini belum ada bukti empirisnya.

Satu hal yang pasti: 80 persen mereka yang terinfeksi adalah petani miskin.

Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, merilis sebuah kajian tahun 2013 terkait epidemik penyakit ginjal di Sri Lanka. Hasilnya menunjukkan ada beberapa kemungkinan penyebab yaitu rendahnya tingkat kadmium dan logam berat lainnya, pestisida, dehidrasi dan faktor genetik.

Anehnya, epidemi ginjal yang mirip juga terjadi di Amerika Latin. Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti Swedia yang dipimpin spesialis ginjal, Dokter CG Elinder menemukan dehidrasi kronis adalah penyebabnya.

Di Amerika Latin yang menjadi korban adalah petani tebu.

“Kami telah melakukan pemeriksaan khusus pada pasien dan kami lihat ginjal mereka tidak terlihat seperti terkena bahan kimia. Yang kami lihat adalah ginjal yang dipengaruhi oleh kekurangan oksigen. Itu bisa berarti mereka mengalami dehidrasi kronis dan kehilangan elektrolit,” kata Dr. CG Elinder.

Di cuaca panas, memotong tebu sepanjang hari dan tidak cukup minum bisa menyebabkan kerusakan kronis pada ginjal, kata Dokter Elinder.

Tapi para peneliti tidak tahu apakah penyebab epidemi ginjal di Amerika Latin dan Sri Lanka sama. Dalam beberapa bulan ini, tim peneliti Swedia dan Sri Lanka akan bertemu di utara Sri Lanka untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

Epidemi penyakit ginjal ini sebenarnya bukanlah hal baru. Faktanya ini sudah diketahui sejak dua dekade lalu.

Meski ribuan kematian terjadi di beberapa benua, sulit untuk menemukan dana yang cukup untuk penelitian, kata Dokter Annika Werneson, ahli patologi di tim peneliti Swedia.

Dia frustrasi karena penyakit ini tidak mendapat perhatian yang layak dari negara-negara maju.

“Jika epidemi ini terjadi di Eropa, kita pasti akan bisa mendapat banyak uang untuk penelitian,” kata Dr Annika. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!