Pilot perempuan pertama di Angkatan Udara Afghanistan, Niloofar Rahmani. (Foto: Ghayor Waziri)

Pilot perempuan pertama di Angkatan Udara Afghanistan, Niloofar Rahmani. (Foto: Ghayor Waziri)

Niloofar Rahmani berusia 18 tahun saat dia mendengar ada pengumuman kalau Angkatan Udara Afghanistan ingin merekrut pilot perempuan.

Dia lalu belajar bahasa Inggris selama enam bulan agar bisa memahami instruktur pilotnya dari Amerika Serikat. Dia lalu berlatih selama satu setengah tahun di pangkalan udara Shindand di Provinsi Herat Afghanistan.

“Menurut saya dalam memulai pekerjaan apapun seseorang harus punya sikap dan berani mengambil langkah pertama, untuk mengubah budaya dan situasi. Itu alasan saya memilih menjadi pilot perempuan pertama di negeri ini. Saya menghancurkan kutukan yang dihadapi perempuan di dunia penerbangan sebagai pilot dan membuka pintu bagi perempuan lain yang mau bergabung. Cita-cita menjadi pilot adalah cita-cita ayah saya tapi saya yang mewujudkannya,” kisah Niloofar.

Tapi kerabat jauhnya menuduh dia telah mempermalukan seluruh keluarga.

Selain itu, simpatisan Taliban berulang kali mengancam akan membunuh Rahmani serta orangtua dan saudaranya.

“Ya saya beberapa kali diancam oleh kelompok pemberontak dan beberapa orang lain. Ini akan dialami siapa saja yang mengambil langkah pertama. Tapi tidak satupun ancaman ini menghentikan saya dari pekerjaan ini. Karena ancaman ini, keluarga saya harus pindah rumah setiap tiga bulan agar kami tetap aman,” tutur Niloofar.

Untuk keberaniannya ini, Niloofar menjadi satu dari 10 perempuan yang dianugerahi International Women of Courage Award dari Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, bulan lalu.

Dia yakin menerima perhargaan ini semacam ini akan mendorong perempuan berani mengambil resiko.

“Saya sangat senang saat berada di panggung dan menerima penghargaan ini. Ini bukan hanya untuk saya tapi untuk semua perempuan terutama perempuan Asia. Jika kita berani mengambil resiko, kita bisa memperoleh hak yang sama.”

Emal Khairkhwah adalah salah satu rekannya. “Dalam situasi aman maupun berbahaya, saya melihat dia selalu berani dan bekerja keras. Sebenarnya tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, tapi dalam masyarakat kami yang konservatif, perempuan menghadapi banyak tantangan tapi dia tidak pernah menyerah.”
 
Setiap hari Niloofar mengenakan baju terusan berwarna abu-abu dengan lambang penerbang dan kerudung hitam.

Saat ini ada 60 perempuan lain yang bekerja di Angkatan Udara Afghanistan tapi Rahmani masih satu-satu pilot perempuan.

“Dia adalah pilot perempuan yang pemberani. Angkatan Udara Afghanistan menerima perempuan lain untuk bergabung dalam Angkatan Udara. Syaratnya mereka harus sehat, sudah lulus sekolah, menguasai bahasa Inggris dan lulus ujian masuk,” kata Bahadoor Khan adalah salah satu komandan Niloofar.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!