Di gedung tua ini, para penyair perempuan di Kabul, Afghanistan, berkumpul. (Foto: Shadi Khan Saif)

Di gedung tua ini, para penyair perempuan di Kabul, Afghanistan, berkumpul. (Foto: Shadi Khan Saif)

Restoran-restoran yang ada di sepanjang jalan mengundang para pembeli untuk mencoba kebab panggang mereka ... dan alunan musik terdengar dimana-mana...

Di antara bangunan yang ada di sini terdapat bangunan tinggi dan tua – perpustakaan kota – tempat para penyair perempuan berkumpul.

Setiap Selasa sore, para penyair perempuan baik yang sudah lama ataupun masih baru, datang kemari.

Pertemuan ini digagas Sahira Shareef, seorang politikus dan seniman,tujuh tahun lalu.

“Jika ada yang bilang latar belakang di balik komunitas sastra ini adalah politik, itu tidak salah. Saya melihat politik tidak hanya untuk mendapatkan kursi di Parlemen tapi juga untuk memperjuangkan hak-hak perempuan lewat gerakan sastra.”

“Kami selalu kekurangan sumber daya. Tujuh tahun lalu kami memulainya di ruangan kecil di sebuah sekolah menengah. Lalu Kementerian Pendidikan memberi kami ruang di pojokan ruangan makan. Dan perpustakaan ini menjadi sarana untuk membawa gerakan ini ke depannya.”

Pembacaan puisi mingguan ini melahirkan “Mirman Adabi Baheer” atau Gerakan Sastra Perempuan.

Gerakan ini beranggotakan sekitar 200 penulis dan penyair perempuan yang mengeksplorasi beragam isu mulai dari budaya, cinta, perdamaian , olahraga dan politik. Dan mereka telah mempublikasikan 15 buku .

Najib Manaly adalah pemilik gedung perpustakaan kota. Di sana ada bank buku, resotoran kecil dan fasilitas ruang pertemuan.

“Alasan kami mendukung gerakan sastra perempuan adalah karena Afghanistan butuh semua kekuatannya termasuk perempuan. Perempuan Afghanistan harus bersuara dan mengekspresikan pandangannya. Untuk itu mereka harus mengembangkan ekspresi sastranya. Ini yang dilakukan Mirman Adabi Baheer dan itu sebabnya kami mendukung mereka,” kata Manaly.

Sekitar 50 perempuan ikut acara ini. Meski sekarang kota itu lebih aman, perempuan Afghanistan di Kabul masih menghindari keluar pada malam hari.

“Kami punya masalah transportasi di Kabul. Kami tidak bisa meminta perempuan untuk pergi ke suatu tempat yang jauh dari rumah mereka. Selain itu juga ada kendala keluarga dan organisasi. Semua ini membuat perempuan sulit untuk keluar dan menunjukkan apa yang mampu mereka lakukan,” tambah Manaly.

Warga Kabul bernama Wazma Fazli yang berusia 23 tahun adalah salah satu anggota termuda dari gerakan Mirman Adabi Baheer.

“Saya suka puisi terutama ritme dan alirannya sehingga kita bisa mengekspresikan perasaan kita. Saya terutama suka puisi tipe Landai yang singkat dan teratur,” kisah Fazli.

Landai adalah puisi tradisional yang terdiri dari dua baris. Isinya bisa sesuatu yang lucu, seksi, berisi kemarahan dan tragedi dan secara tradisional bercerita tentang cinta dan kesedihan.
 
Dipercaya pencipta sebagian besar landai adalah perempuan desa.

Perempuan dari luar Kabul yang ingin ikut serta dalam acara mingguan bisa lewat telepon dan membacakan puisi mereka lewat pengeras suara telepon.

Pendiri gerakan ini, Sahira Shareef, mengatakan mereka ingin memicu revolusi.

“Dalam beberapa tahun terakhir triliunan rupiah dihabiskan untuk menggelar seminar dan pelatihan untuk memberdayakan perempuan. Tapi yakinlah yang dibutuhkan hanya beberapa kata bermakna dalam dari beberapa puisi yang bagus. Kata-kata ini lebih berefek panjang ketimbang pelatihan-pelatihan itu,” tutur Sahira.
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!