Kamp penampungan warga Langtang di Kathmandu. (Foto: Rajan Parajuli)

Kamp penampungan warga Langtang di Kathmandu. (Foto: Rajan Parajuli)

Ketika gempa pertama mengguncang pada 25 April, Sange Lama sedang berada di kedai tehnya bersama keluarganya di daerah Langtang yang terpencil namun ramai. Desa itu berada di sepanjang jalur populer pendakian.

“Tanah mulai bergetar. Istri saya bilang ‘ini gempa, duduk, duduk.” Saya lalu lari keluar tapi langit-langit kedai rubuh mengenai pundak saya. Saya lalu berupaya lari bersama istri saya dan kami bersembunyi di balik batu besar untuk menyelamatkan diri,” kisah Sange.

Setelah getaran berhenti, dia mendaki bukit setinggi 100 meter menuju penginapannya untuk menyelamatkan seorang pendaki German.

Dia lalu mendengar suara yang sangat keras dan dia kemudian berlari kembali ke kedai tehnya. Tapi ketika dia tiba di sana, desa itu telah hilang.

“Salju mengubur seluruh desa sehingga terlihat putih dimana-mana. Dari100 rumah yang ada di sana, tidak ada yang tersisa, tidak ada manusia, burung dan hewan ternak. Semua bangunan di sana beratap seng yang kemudian beterbangan mengenai orang. Saya pingsan setelah melihat tangan, kaki dan kepala orang berserakan di mana-mana,” lanjut Sange.

Saat Sange sadar, dia diberitahu kalau ayah dan ibunya tidak berhasil selamat dalam salju longsor yang menghantan Lembah Langtang, sesaat setelah gempa itu.

Salju longsor juga melanda Thangsek, satu jam perjalanan dari Langtang.

Chhojangmo Tamang berhasil menyelamatkan tiga putrinya ketika bukit es menimpa mereka. Tapi dua diantara putrinya mengalami cidera kepala yang serius.

“Suasananya benar-benar gelap selama lima menit setelah salju lonsor terjadi. Saya hanya ingat ada dinding es besar runtuh ke arah kami. Ketika saya sadar, saya menemukan putri saya di bawah bukit dan masih bernafas,” tutur Chhojangmo.

Mereka diselamatkan sebuah helikopter tentara dua hari kemudian dan dibawa ke rumah sakit di Kathmandu. Di sana putrinya harus menjalani operasi besar.

Sementara suami Chhojangmo meninggal. Para tetangga mengatakan mereka melihat jenazahnya terkubur salju.

Tidak ada jalan di Lembah Langtang, sehingga daerah itu hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki atau menggunakan helikopter.

Tim penyelamat baru bisa mencapai daerah itu dua hari pasca gempa pertama.

Ngawang Dorje yang berhasil selamat dari salju longsor di desa Thangsek mengaku melihat banyak orang sekarat.

“Jika saat itu akses bisa segera terbuka dan ada peralatan, kami bisa menyelamatkan hingga 30an orang. Hari pertama ada satu helikopter yang datang tapi balik lagi. Helikopter itu tidak menyelamatkan satu pun korban. Banyak yang terkubur di salju. Mereka berharap mendapat air. Tapi kami tidak bisa memberikannya karena semuanya tercampur lumpur, baru dan debu. Beberapa orang meninggal tanpa sempat mendapatkan air,” kata Ngawang.   

Dalam dua pekan terakhir, tim penyelamat pemerintah telah membawa ratusan korban dari Lembah Langtang ke ibukota.

Mereka kini tinggal di tenda-tenda di depan sebuah kuil Buddha.

Chhojangmo, yang berada di sini bersama tiga putrinya, mengaku ingin pulang ke desanya yang berada di pengunungan.

“Tidak ada yang saya sukai di sini. Kami berasal dari daerah dingin sehingga cuaca di sini terasa terlalu panas. Makanan dan airnya juga berbeda sehingga kami tidak nafsu makan. Kami makan hanya supaya bisa tetap hidup. Anak-anak juga meminta agar kami segera pulang,” kata Chhojangmo.

Dia seperti penduduk desanya, hidup dari pariwisata pendakian. Salju longsor mematikan itu juga menewaskan turis asing dan sejumlah lainnya masih hilang.

Chhojangmo ingin membuka kembali kedai tehnya tapi dia khawatir tidak ada pendaki lagi yang datang.

“Saya yakin masih bisa bertahan dengan berjualan teh. Ada yang bilang kalau turis tidak mau lagi datang ke sana tapi ada yang yakin, mereka akan datang. Saya hanya bisa berdoa para turis akan datang lagi ke desa kami. Kami tidak punya lahan untk bertani. Bagaimana kami bisa bertahan hidup bila tidak ada turis yang datang?” harap Chhojangmo.
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!