Unjuk rasa warga Muslim Kashmir terkait rencana memukimkan warga Hindu di kota khusus. (Foto:  www.t

Unjuk rasa warga Muslim Kashmir terkait rencana memukimkan warga Hindu di kota khusus. (Foto: www.tribuneindia.com)

Avtar Krishan dulu punya rumah besar dan usaha buah-buahan yang sukses di daerah administratif Kashmir India.

Tapi di tahun 1990an, dia terpaksa pergi dari rumahnya setelah pemberontakan bersenjata melawan kekuasaan India, pecah di wilayah itu.

Kini dia tinggal di sebuah ruangan kecil bersama ibu, istri dan tiga anaknya yang sudah besar di kamp pengungsi di Jammu bagian utara.

“Kami melihat banyak pasang surut dan penderitaan tapi ikatan emosional kami dengan Kashmir tetap utuh. Itu adalah tanah nenek moyang kami, tempat kami dilahirkan dan dibesarkan, asal bahasa, budaya dan sejarah yang unik. Dan kami kehilangan semua itu pada suatu hari dan sejak itu kami terpaksa menjalani kehidupan yang sengsara. Meski tinggal di sini, tempat kami bukan di sini. Sangat menyakitkan terusir dari kampung halaman seperti ini,” kisah Krishan.

300 ribu orang Hindu Kashmir lainnya juga mengalami hal yang sama.

Orang Hindu Kashmir mengatakan setelah kerusuhan itu mereka tidak lagi merasa aman tinggal di lembah itu.

Pembunuhan terhadap beberapa orang Hindu oleh militan Kashmir memperkuat  rasa tidak aman itu dan memicu terjadinya perpindahan besar-besaran.

Penulis Simriti Kak, yang juga terpaksa meninggalkan rumahnya, mengatakan mereka pikir bisa kembali.

“Kami tahu kalau kami akan pulang. Tapi minggu berganti bulan dan tahun. Kami pikir pemerintah akan mengumumkan kalau militan telah diusir dan tidak ada lagi ketegangan dan konflik bersenjata sehingga semua orang yang mengungsi bisa pulang. Tidak ada yang menyangka bisa selama ini.”

Jumlah orang Hindu Kashmir sekitar lima persen dari keseluruhan populasi di lembah itu.

Selama berabad-abad mereka hidup berdampingan dengan Muslim secara damai dan harmonis.

Kepergian mereka dari lembah itu merupakan pukulan besar pada toleransi dan kerukunan yang merupakan tradisi kuno Kashmir.

Ini menciptakan kekosongan budaya dan mendorong munculnya himbauan dari mayoritas Muslim agar mereka kembali.

Zareef Ahmad adalah seorang penyair Muslim Kashmir. “Mereka orang kita juga. Tanah ini juga tanah mereka. Kami telah mengajak mereka untuk pulang karena ini adalah rumah bersama dan kami merasa tidak lengkap tanpa satu sama lain. Memang benar ada masalah politik di sini tapi itu tidak bisa menghentikan kami untuk hidup bersama.”

Selama bertahun-tahun, warga Muslim Kashmir biasa, pemimpin politik dan hampir semua kelompok separatis telah mendesak orang Hindu Kashmir untuk kembali ke rumah mereka.

Tapi masih ada beberapa ratus keluarga ragu-ragu untuk pulang karena masalah keamanan.

Sushil Pandit berasal dari kelompok akar rumput kelompok Kashmir Hindu di Kashmir.

“Kami pindah karena ada ancaman terhadap hidup kami. Hari ini kami tidak pulang karena di sini ada rumah, pekerjaan dan kami mendapat uang tunai. Yang penting adalah seperti apa Kashmir yang sekarang dan apakah di sana aman. Kami tidak menunggu undangan untuk pulang. Kalau kondisinya sudah membaik kami akan pulang,” kaya Pandit.

Sekarang partai nasionalis Hindu yang berkuasa BJP, ingin membangun kota-kota terpisah di Kashmir di mana orang Hindu Kashmir bisa hidup dengan perlindungan pasukan keamanan pemerintah.

“Cara mengatasi masalah ini adalah dengan memastikan mereka mendapat tempat rehabilitasi yang layak. Kami sebagai partai dan pemerintah berkomitmen untuk mengembalikan orang Hindu Kashmir ke tempat asalnya secara terhormat dan bermartabat,” kata Jatinder Singh, menteri muda di Kantor Perdana Menteri.

Tapi baik politisi Kashmir arus utama dan kelompok separatis dengan keras menentang rencana tersebut.

Mereka berpendapat ini akan makin memecah kedua komunitas dan proses perdamaian terancam gagal.

Mohammad Yasin Malik adalah Ketua fron pembebasan Jammu dan Kashmir.

“Ini akan menjadi bencana karena akan menciptakan suasana ketakutan dan meninggalkan warisan kebencian dan ketidakpercayaan. Generasi mendatang kami yang meski bersekolah, bermain dan tumbuh bersama-sama akan tetap asing satu sama lain dan bahkan mungkin menjadi musuh. Kami tidak akan membiarkan mereka mendirikan dinding-dinding kebencian dan memecah belah kami.”

Pemerintah negara bagian yang awalnya setuju dengan rencana ini, berubah pikiran.

Mufti Mohammad Saeed adalah Gubernur Kashmir. “Kampung halaman terpisah untuk orang Kashmir Hindu tidaklah mungkin. Siapapun yang ingin datang kemari harus tinggal bersama kami seperti sebelumnya. Kami tidak akan membuat cluster terpisah seperti yang mereka lakukan di Israel. Kami tidak akan membiarkan sejarah kita bersama berakhir seperti ini.”

Para pengamat mengatakan pemerintah seharusnya fokus pada menyelesaikan konflik.

Lebih dari 100 ribu orang tewas di Kashmir sejak awal militansi anti-India, dua dekade lalu.

Mayoritas dari mereka yang tewas adalah orang Muslim Kashmir.
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!