Amandemen UU Larangan Pekerja Anak India membolehkan anak usia dibawah 14 tahun untuk bekerja. (Foto

Amandemen UU Larangan Pekerja Anak India membolehkan anak usia dibawah 14 tahun untuk bekerja. (Foto: Jasvinder Sehgal)

Tiga putri Saveera Khan sedang membantunya membuat gelang.

Mereka sedang bekerja di depan sebuah tungku panas yang mencairkan bubuk untuk membuat gelang lac yang alami.

Anak-anak ini menggunakan bahan kimia berbahaya seperti debu silika Kristal dan menghirup asap berbahaya dari debu beracun.

Mantasha adalah putri bungsunya yang berusia 7 tahun. Dia bersekolah bila pekerjaan di rumah tidak begitu banyak.

“Hanya saudara laki-laki kami yang bersekolah. Kami para gadis di keluarga ini kebanyakan bekerja di rumah. Tungku itu sangat panas dan kadang kami terbakar. Mata kami juga sakit,” kata Mantasha.

Kakaknya Shazia yang berusia 12 tahun mengatakan sebagian besar temannya juga bekerja di bisnis keluarga.

“Mereka membordir, mencelup kain, menggosok permata dan perhiasan. Meski banyak dari pekerjaan ini berbahaya bagi kesehatan mereka, orangtua tetap memaksa mereka bekerja. Mereka tidak mau bekerja tapi orangtua memaksa mereka. Ini berdampak buruk pada pendidikan kami. Uang yang kami dapat membantu keluarga tapi merusak masa depan kami.”

Saveera Khan adalah ibu para gadis ini. Dia kesal ketika saya tanya mengapa dia membiarkan anak-anaknya bekerja begitu dekat dengan tungku.

“Tuan, mengapa Anda mengkhawatirkan anak-anak saya? Mereka anak-anak saya dan mereka bekerja untuk keluarga. Mengapa Anda marah? Setiap hari mereka ke sekolah dan bekerja di waktu luang mereka. Jadi apa masalahnya? Bukankah Perdana Menteri kita, Modi, jualan teh saat masih kecil? Sekarang pemerintah mau melonggarkan aturan jadi apa masalahnya? Ujar Saveera.

Apa yang dilakukannya sekarang tidak melanggar hukum.

Amandemen terhadap UU Larangan Pekerja Anak bertujuan memungkinkan anak di bawah usia 14 tahun bekerja dalam ‘perusahaan keluarga’ – seperti industri pembuatan karpet, penggulungan rokok beedi atau penggosokan permata.

Pemerintah India beralasan ini akan membantu keluarga miskin mencari uang dan memberi anak-anak ‘semangat berwirausaha’.

Membiarkan anak bekerja hanya bisa dianggap legal bila pekerjaan itu tidak menggangu pendidikan mereka dan pekerjaan itu tidak berbahaya.

Aktivis hak anak mengatakan pemerintah menghancurkan upaya beberapa dekade para aktivis hak anak untuk membuat anak tidak lagi bekerja tapi harus bersekolah.

Vijay Goel sudah menyelamatkan dua ribu anak dari pekerjaan berbahaya dalam dua tahun terakhir. “Sangat sulit membedakan mana pekerjaan berbahaya dan yang tidak. Contohnya anak diperbolehkan bekerja di lahan pertanian leluhurnya, yang disebut sebagai pekerjaan tidak berbahaya. Tapi apa yang terjadi jika dia terluka oleh salah satu peralatan pertanian seperti kapak atau sekop?”

Tapi pemerintah beralasan mereka membantu anak-anak dan perubahan ini mencerminkan realitas tenaga kerja negeri itu.

“Bahkan jika Anda berkecimpung dalam industri hiburan atau Anda mengambil salah satu program anak-anak, ada banyak anak dibawah usia 14 tahun yang punya bakat besar dan perlu dipuji. Saya pikir sangat jelas ada pekerjaan yang berbahaya bagi anak-anak dan ada yang tidak. Ini yang harus dipantau orangtua,” ujar Shaina N.C, juru bicara partai India yang berkuasa, Bharatiya Janata Party.

Tapi aktivis hak anak khawatir pemantauan ini tidak akan terlaksana.

Selain itu amandemen ini akan paling berdampak pada anak-anak dari kasta terendah, khususnya Dalit, Adivasi dan anak Muslim.

Mereka sering dipaksa bekerja karena keluarga mereka tidak punya alternatif. Kelompok-kelompok ini sangat rentan untuk diperdagangkan sebagai budak.

Shanta Sinha adalah bekas ketua komisi perlindungan hak-hak anak. “Ini hari yang sangat menyedihkan bagi anak-anak negeri ini. Kami pikir perubahan dalam UU Pekerja Anak ini akan benar-benar mengakhiri pekerja anak. Tapi  tampaknya UU ini akan melegalkan pekerja anak lewat pintu belakang dengan memungkinkan anak-anak bekerja di rumah. Tapi menurut saya ini bukan jenis bantuan untuk keluarga. Jika semua anak bersekolah, keluarga mereka akan jadi lebih baik.”

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!