Profesor Tomoko Ohta di senimar penyerahan Penghargaan Crafoord di Stockholm. (Foto: Ric Wasserman)

Profesor Tomoko Ohta di senimar penyerahan Penghargaan Crafoord di Stockholm. (Foto: Ric Wasserman)

Profesor Tomoko Ohta naik ke panggung di acara seminar penghargaan Crafoord.

Ia terlihat linglung. Ketekunannya berkarya di bidang evolusi lebih dari 60 tahun, terbayar saat dia menjadi pemenang Penghargaan Crafoord dalam bidang biosains.

Kuliahnya mencakup apa yang dikerjakannya di bidang mutasi gen.

Ilmuwan Royal Swedish Academy, Kestin Johanesson, menceritakan seperti apa situasinya pada tahun 1960an. “Pada saat itu, yang dipercaya adalah seleksi alam merupakan hal penting bagi perubahan populasi dan organisme.”

Kemudian Dr Ohta menemukan sesuatu yang baru terkait mutasi gen atau proses alami yang mengubah susunan DNA. Menurut dia, itu tidak selalu berarti buruk, hanya sedikit berbeda.

“Dia datang dengan gagasan: banyak dari mutasi itu tidak sepenuhnya membawa keburukan bagi kesehatan. Jadi mereka hampir netral, tetapi tidak sempurna netral. Dalam sebuah populasi besar, nasib mutasi ini akan benar-benar berdasarkan pilihan,” jelas Johanesson.

"Berdasarkan pilihan" dalam konteks genetik berarti generasi baru akan mewarisi beberapa sifat orangtua mereka. Jika hal ini terjadi secara cukup banyak, maka spesies atau populasi kemudian dikatakan telah berevolusi.

Dr Ohta membuktikan kalau seleksi alam berjalan dengan baik pada populasi yang lebih kecil. Mutasi baru akan punya kesempatan lebih besar untuk bertahan hidup dalam kelompok-kelompok kecil. Dan ini akan meningkatkan kecepatan evolusi.

Tapi Profesor Ohta ingat kata-kata pahit yang dia dengar tahun 1960-an. Saat itu ia mengajukan teorinya yang ditolak oleh komunitas ilmuwan genetika yang semua anggotanya laki-laki.

”Itu tidak mungkin benar, kata mereka. Dan masyarakat genetika tidak menerimanya. Beberapa pandangan mereka yang sebelumnya tidak tepat, sangat membatasi pemikiran mereka,” kisah Dr Ohta.

Sebelumnya dipercaya kalau semua individu dalam suatu populasi punya gen yang identik. Sekarang kita tahu, melalui analisis DNA, hampir semua individu punya susunan gen yang berbeda, meski spesies mereka kelihatannya sama.

Terobosan Dr Ohta pada mutasi hampir netral berbuah kemajuan dalam berbagai bidang. Saat ini analisis DNA membantu menangkap penjahat. Perusahaan menjual alat tes gen di internet kepada  orang-orang yang ingin tahu apakah gen mereka mungkin membawa sifat penyakit serius.

Pada saat istirahat, para peneliti muda genetika berdiskusi soal sudut baru dari terobosan baru Dr Ohta.

Salah satunya adalah Dr. Tomoko Steen, seorang farmakolog klinis. Dr Steen mengambil PhD-nya dengan mengangkat teori hampir netral-nya Dr Ohta ini. Hari ini dia menggunakan pengetahuan itu untuk membantu orang-orang di daerah yang terkena radiasi di Fukushima, Jepang.

“Saya peduli dengan masyarakat, jadi saya beberapa kali mengunjungi Fukushima. Saya aslinya juga dari Nagasaki. Ilmu pengetahuan tidak berdasar bisa menimbulkan masalah. Jadi saya ingin mendapatkan ilmu yang akurat sehingga orang benar-benar bisa tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya,” kata Steen.

Meski dia yang memperoleh penghargaan, Dr Ohta mempersembahkan penghargaan ini untuk Darwin.

“Saya hanya seorang ilmuwan biasa tapi saya berpikir menggunakan pemikiran evolusi dan pertimbangan interdisipliner sangat penting. Ini dimulai pada masa Darwin. Dia benar-benar menyatukan paleontologi dengan geologi. Itu adalah ilmu yang sangat berbeda.”

Saat duduk di ruang Nobel di Akademi Sains Swedia, Profesor Ohta tersenyum ketika saya bertanya bagaimana perasaannya saat ini. “Saya merasa sangat senang.”
  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!