Dalam beberapa tahun terakhir terjadi serangan rasial di India. (Foto: Bismillah Geelani)

Dalam beberapa tahun terakhir terjadi serangan rasial di India. (Foto: Bismillah Geelani)



Rangkaian serangan terhadap para pelajar Afrika baru-baru ini membuat masalah rasisme di India menjadi sorotan internasional.

Serangan itu memicu kecaman luas di dalam dan luar negeri. Tapi seperti yang dilaporkan Bismillah Geelani, pemerintah India enggan mengakui adanya budaya rasisme yang sudah mengakar dalam di negara itu.

Sebuah video kekerasan beredar luas di India. Berisi rekaman saat sekelompok orang dengan kejam menyerang seorang pria Nigeria di sebuah pusat perbelanjaan di pinggiran kota Delhi. Mereka menendang, meninju dan memukulnya dengan tong sampah besi, kursi, batu bata atau benda apa saja yang bisa mereka raih.

Korban adalah mahasiswa Nigeria berusia  21 tahun bernama Endurance Amalawa. Dia kini terbaring di rumah sakit dengan perban menutupi kepala, lengan dan punggungnya. Di sebelahnya, terbaring kakaknya Precious Amalawa. Dia juga mengalami cedera tapi tidak separah sang adik dan masih bisa bercerita apa yang terjadi hari itu.

Mereka sedang berada Ansal Plaza untuk membeli baju dan makan ke KFC, kata Amalawa. Ketika sedang makan, katanya, mereka dapat info kalau ada penyerangan terhadap orang kulit hitam. Menurutnya mereka pun bergegas pergi dan mencegat bajaj tapi tidak ada yang mau berhenti. Saat itulah mereka melihat ratusan orang India membawa kayu, batu bata dan lainnya sambil berteriak-teriak. 

“Ayo lari,” kata Amalawa kepada adiknya dan mereka kembali ke Ansal Plaza. Di sana katanya polisi sudah menunggu. Mereka pun meminta tolong pada polisi dan orang di sekitar situ tapi tidak ada yang mau menolong.

Ketika berusaha masuk ke sebuah toko untuk berlindung, lanjutnya, karyawan toko mendorong mereka keluar tapi mereka berhasil menutup pintu. Massa yang marah pun menghancurkan kaca toko dengan batu bata. 

“Saya dan adik saya berusaha menghentikan mereka tapi kami tidak bisa bertahan,” tutur Amalawa. Para penyerang berhasil mendobrak pintu dan dia melihat sang adiknya diseret keluar dan dipukuli.

Precious Amalawa kemudian berlari ke ruangan lain dan menahan pintu dengan badannya tapi dia mengaku ada yang menusuknya dengan besi atau pisau. “Saat itu saya pasrah. Ibu dan ayah saya tidak ada di sini dan jika mereka ingin membunuh saya ya lakukan saja,” kenang Amalawa.

Para penyerang baru berhenti memukul ketika keduanya sudah tidak sadarkan diri dan dianggap sudah meninggal. Serangan itu terjadi saat ada demontrasi atas kematian seorang remaja laki-laki lokal yang diduga karena overdosis narkoba.

Warga lokal Manoj Kumar menuduh mahasiswa Afrika itu pengedar narkoba dan bertanggung jawab atas kematian itu. “Kami sudah muak dengan mereka,” ungkapnya. Orang-orang Afrika itu kata Kumar kerap memarkir mobil mereka di tengah jalan lalu minum dan menari. 

“Sangat berisik”, kata Kumar. Jika ada warga yang keberatan, mereka menantang warga. Menurut Kumar orang-orang itu adalah pengedar narkoba dan mau membawa kaum muda India ke jalan sesat.

Setidaknya ada tujuh mahasiswa Afrika lain menjadi target kekerasan massa di dan sekitar kota Delhi dalam beberapa pekan terakhir.

Serangan itu mengejutkan komunitas Afrika di India. Samuel Jack adalah Presiden Asosiasi Mahasiswa Afrika. Dia mengatakan sekarang komunitasnya hidup dalam ketakutan dan banyak yang serius mempertimbangkan kembali ke negara asal mereka.

“Para mahasiswa Afrika tidak aman,” kata Jack. Dia mengatakan jika Anda orang Afrika, Anda tidak berhak mendapatkan pengadilan yang adil karena semua sistem hukum melawan Anda. “Ini murni karena Anda berkulit hitam,” ungkap Jack. Kondisi ini menurut Jack membuat komunitas Afrika di India takut pergi kemana-mana karena serangan bisa terjadi sewaktu-waktu.

Ada sekitar 30 ribu mahasiswa Afrika di seluruh India. Dalam beberapa tahun terakhir, serangan terhadap mereka meningkat di seluruh negeri. Tahun lalu, seorang mahasiswa Kongo dipukuli sampai mati oleh sekelompok orang di New Delhi. Banyak orang Afrika bercerita mengalami penghinaan dan diskriminasi setiap hari.

Beberapa serangan baru-baru ini ikut mempengaruhi hubungan bilateral antara negara-negara Afrika dan India. Awal pekan ini semua duta besar Afrika di India mengeluarkan pernyataan bersama. 

Mereka menggambarkan serangan itu sebagai xenophobia atau ketakutan terhadap orang asing dan bermotif rasial. Selain itu, mereka menyalahkan pemerintah India karena gagal mengambil langkah-langkah pencegahan.

Pasca keluarnya pernyataan bersama itu, pemerintah India menangkap lima orang penyerang dan meyakinkan kalau masyarakat Afrika di negara itu dilindungi. Tapi pemerintah membantah serangan itu bermotif rasial.

Sheshadri Chari, juru bicara partai berkuasa Partai Bharatiya Janata (BJP), menyebut serangan itu tidak saling berhubungan dan punya pemicu yang berbeda-beda. Dan menurutnya sangat salah menuduh penduduk atau pemerintah India xenophobia atau rasis. “Itu kata-kata yang sangat kuat dan tidak bisa diterima,” kata Chari. 

Tapi bukan hanya orang Afrika yang menjadi sasaran diskriminasi rasial di India. Orang-orang dari negara bagian utara India juga kerap mengalami diskriminasi rasial. Mereka bahkan mendorong adanya reformasi legislatif.

Suhas Chakma adalah direktur Lembaga Asia untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di New Delhi. Dia mengatakan pemerintah sedang menyangkal dan sikap itu hanya memperburuk situasi yang sudah buruk.

Menurutnya ketika bicara soal rasisme, ada keyakinan hanya orang berkulit putih yang bisa melakukannya sedangkan orang berwarna kulit lain tidak. Tapi di India hari ini, katanya, orang  India malah melakukan kejahatan yang sama. 

“Rasisme ada di setiap masyarakat,” ungkap Chakma. Tapi yang jadi masalah lanjutnya, adalah ketika tidak ada pengakuan kalau masalah ini ada. Karean itu akan meyebabkan aturan soal itu tidak bisa dibuat dan sulit kesadaran, tutup Chakma.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!