Umat Kristen di Aceh Singkil merayakan ibadat Paskah di tenda. (Foto: Rio Tuasikal)

Umat Kristen di Aceh Singkil merayakan ibadat Paskah di tenda. (Foto: Rio Tuasikal)

Dalam beberapa bulan terakhir, sembilan gereja dirobohkan pemerintah daerah Aceh dan dua lainnya dibakar kelompok intoleran.

Sudah enam bulan ini warga Kristen di sana terpaksa beribadah di bawah tenda.

Hujan turun membasahi tanah Aceh Singkil siang ini. Puluhan umat Kristen, laki-laki, perempuan, dan anak-anak berkumpul merayakan ibadah Kamis Putih.

Di antara jemaat yang ikut ibadah, ada Rosmayanti Manik.

Satu tangannya memegang Alkitab, sementara tangan yang lain menggenggam payung.

“Sedihlah, sedih sekali melihat keadaan seperti ini. Kemarin pun ketika Minggu kami ke gereja, hujan basah-basah dan semua terpaksa berdiri. Harus sempit-sempitan karena satu payung tiga orang,” ungkap Rosma.

Mereka beribadah di bawah tenda yang berada di kawasan kebun sawit. Sebelumnya, jemaat sempat mendirikan tenda itu di pinggir jalan, tapi dilarang pemda.

Dan karena banyak umat Kristen petani, mereka mendirikan tenda ibadah di dalam kebun.

Di atas tenda, terpal biru disulap menjadi atap gereja dengan berlantaikan tanah. Hujan yang turun itu pun membuat ibadah berlangsung dalam keadaan basah.

Penatua Gereja, Efrika Munte, berdoa agar mereka punya gereja baru. “Kami sangat berharap kami punya gedung gereja, tempat kami bisa beribadah dengan nyaman.” 

Gereja mereka, Gereja Mandumpang dibakar Agustus tahun lalu. Polisi menyebut penyebabnya akibat korsleting. Tapi mereka percaya, kelompok intoleran lah yang jadi dalang pembakaran.

Warga sekitar melihat ada jerigen di sekitar gereja di hari terjadi kebakaran. Sejak itulah, umat Kristen di sana terpaksa beribadah di tenda.

Aceh menerapkan hukum Syariah dan hubungan antara warga Kristen dan Islam tidak selalu berjalan mulus.

Pada 1979 pemerintah daerah mengeluarkan aturan yang membatasi jumlah Gereja di Singkil, yaitu empat gereja dan 16 gereja kecil atau undung-undung.

Sementara jumlah pembangunan Masjid di sana tidak dibatasi.

Ketegangan pun muncul dan puncaknya adalah penghancuran dan pembakaran gereja pada Oktober lalu.

Tapi Ramli Manik, seorang ulama lokal mengatakan, kehidupan warga Kristen dan Islam harmonis selama puluhan tahun.

Dia bahkan mengunjungi tetangganya yang beragama Kristen sehari sebelum Perayaan Jumat Agung.

“Kita Islam ini yang tahu hukum Islam maaf bicara, tidak pernah diajarkan kepada kita untuk berbuat anarkis. Jadi kita Islam itu rahmatan lil alamin. Malu dong kita Islam jadi peruntuh...jadi penghasut. Malu dong,” ujar Ramli.

Tapi tidak semua orang di sana seperti Ramli Manik. Dan ini menjadi perjuangan yang berat bagi warga Kristen di Aceh Singkil.

Tanpa izin dari pemerintah –yang sudah mereka nantikan selama bertahun-tahun, mereka tidak akan bisa membangun rumah ibadah baru.

Ini menciptakan suasana muram di Paskah tahun ini, kata penatua Gereja, Norim Berutu.

“Harusnya ada ibadah-ibadah selama satu minggu ini. Kami tidak bisa lakukan karena situasinya di sana (semak-semak), lampu nggak ada, semak-semak bagaimana jalannya. Jadi kami banyak gangguan pelaksanaan kegiatan ibadah,” papar Norim.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!