Toko roti JC Misquita yang membuat roti yang disantap Umat Kristen di Karachi saat Paskah. (Foto: Na

Toko roti JC Misquita yang membuat roti yang disantap Umat Kristen di Karachi saat Paskah. (Foto: Naeem Sahoutara)

Pasca serangan mematikan yang menargetkan orang-orang Kristen di kota Lahore Pakistan pekan lalu, ini mungkin adalah salah satu kisah tentang kerukunan beragama di selatan negara itu, Karachi.

Di sana, setelah melewati masa Prapaskah, warga Kristen merayakan Paskah dengan roti bertanda salib yang sangat terkenal. Roti ini dibuat tukang roti Muslim.

Bisnis ini telah berjalan di Karachi selama lebih dari satu abad.

Koresponden Asia Calling KBR, Naeem Sahoutara, mengunjungi toko roti legendaris itu dan menyusun kisahnya untuk Anda.

Pasar di daerah komersial Karachi dipenuhi para pembeli di menit-menit terakhir menjelang hari raya Paskah.

Umat Kristen sibuk membeli pakaian baru dan hadiah untuk teman dan keluarga.

Di antara mereka, banyak yang mengantre di toko roti JC Misquita, salah satu toko roti tertua di Pakistan.

Maria yang berusia 30 tahun ini berencana membeli tiga lusin roti hangat untuk keluarganya. Tapi ternyata tidak mudah membeli roti terkenal ini di Karachi. Sebab ia harus memesan jauh-jauh hari sebelumnya.

“Mudah? Tidak. Karena banyak yang antri. Karena itu kami harus pesan terlebih dahulu beberapa hari sebelumnya, agar tidak kehabisan,” ungkap Maria.

Sesungguhnya, ada toko lain yang menjual roti yang sama seperti JC Misquita, tapi menurut Maria, roti yang dijual di sini lebih enak.

“Rotinya segar dan enak dan rasanya juga bisa diuji dengan yang lain. Di toko roti lain sebenarnya ada tapi mereka lengket.”

Orangtua Maria bahkan sudah membeli roti di toko ini bertahun-tahun yang lalu dan dia melanjutkan tradisi itu kepada empat anaknya.

Toko roti JC Misquita awalnya dibuka tahun 1858 oleh seorang pria Kristen bernama Joseph Cason Misquita, di pusat kota Karachi. Di sana tinggal ratusan keluarga asal koloni Portugis, Goa.

Komunitas kecil ini kemudian dikenal sebagai orang Goa dan mereka membawa rasa Portugis dalam budaya dan makanan Pakistan. Termasuk roti hangat dengan lambang salib di atasnya.

Seorang mekanik berusia 64 tahun, Stanley Francis sudah mengunjungi JC Misquita selama bertahun-tahun.

“Dia sangat terkenal dan rotinya sangat lezat. Itu sebabnya saat saya muda, saya selalu ke toko itu. Dan rasanya masih sama sampai sekarang dan cara membuatnya pun tetap sama,” kata Francis.

Orangtua Stanley malah sudah membeli roti di toko itu sebelum ia lahir. Sejak itulah, roti Paskah ini menjadi bagian tradisi keluarganya.

“Ini sudah jadi tradisi sejak lama. Roti ini untuk disantap saat Jumat Agung. Dan ada lambang salib di roti itu. Kalau Anda datang besok pas Jumat Agung, toko ini akan sangat ramai.”


Di halaman belakang, para pekerja toko sibuk menempatkan roti yang belum dibakar di dua oven besar.

Dan ini adalah Syed Haider Abbas Zaidi. Ia bercerita, setelah kematian pemiliknya yang beragama Kristen bertahun-tahun yang lalu, kini toko roti tersebut dikelola seorang Muslim –itu adalah ayahnya.

Dan pasca ayahnya meninggal, ia mengambil alih usaha keluarganya.

“Hari ini, tidak ada yang tahu siapa Misquita. Sekarang ini jadi identitas kami dan kami adalah Muslim,” kata Syed.

Dia mengaku selama Paskah, tokonya menjual sekitar lima ribu roti yang dibuat oleh karyawannya yang loyal.

“Kami mempekerjakan tiga generasi pekerja, yang juga bekerja dengan ayah saya. Kami tidak mempekerjakan orang luar. Pada acara-acara khusus, kami secara pribadi mengawasi pekerjaan mereka. Beginilah cara kami mempertahankan rasa roti kami.”

Syed memeriksa setiap nampan roti panggang yang keluar dari oven panas.

Dia menjelaskan bagaimana semua bahan disatukan sebelum dibagi menjadi potongan-potongan kecil. Kemudian lambang salib ditempelkan ke roti sebelum dipanggang lagi lalu dikemas.

Pada hari Jumat Agung, warga Kristen menyampaikan doa khusus untuk mengingat penyaliban Yesus Kristus dan bagi korban terorisme.

Serangan terhadap kelompok agama minoritas seperti Kristen, Hindu dan Syiah meningkat di Pakistan selama beberapa tahun terakhir.

Tapi Syed Haider Abbas Zaidi, yang seorang Muslim Syiah, mengatakan baginya agama harus menyatukan bukan memecah belah.

“Tidak ada perbedaan antara Muslim dan Kristen. Semua orang Kristen yang tinggal di Karachi mengenal kami. Kami tidak membedakan mana yang Kristen, mana yang Muslim. Karena generasi kami tetap hidup berdampingan,” kata Syed.

Meski ada masalah di Pakistan, tapi ada harapan kalau persatuan yang akan menang.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!