Blogger Bangladesh yang melarikan diri ke Swedia. (Foto: Ric Wasserman)

Blogger Bangladesh yang melarikan diri ke Swedia. (Foto: Ric Wasserman)

Sejak Februari tahun ini, enam blogger Bangladesh tewas - dibacok sampai mati. Puluhan lainnya terpaksa meninggalkan negara itu setelah menerima ancaman juga akan dibunuh.

Di sebuah konferensi baru-baru ini yang digelar di Swedia, hadir para blogger yang baru tiba di negara itu dan seorang jurnalis korban penyiksaan. 

Mereka menceritakan apa yang mereka lihat sebagai ancaman menakutkan yang berkembang terhadap kebebasan berbicara di negara mereka.

Kita simak laporan yang disusun Ric Wasserman berikut ini. 

Saya bertemu lagi dengan Tasneem Khalil setelah empat tahun berlalu. Dia baru saja melarikan diri dari Bangladesh dan mendapat suaka di Swedia.

Di surat kabar terbesar Bangladesh, Daily Star, Tasneem yang vokal menulis tentang pembunuhan di luar proses peradilan. Tindakan ini dilakukan pasukan Batalyon Gerak Cepat atau RAB.

Akibatnya Tasneem diseret dari rumahnya, dilemparkan ke dalam sel dan disiksa berulang kali. Teman-temannya di kedutaan Swedia di Dhaka kemudian menyelundupkan dia keluar dari negara itu. 

Saat ini dia berada Stockholm dan ikut ambil bagian dalam forum yang membahas pelanggaran hak asasi manusia.

“Saya bicara tentang dua hal. Satu adalah sistem teror negara, yang juga menjadi tema buku saya yang baru terbit. Dan juga soal situasi di Bangladesh, terutama soal pembunuhan brutal yang terjadi,” papar Tasneem.

Tasneem secara khusus berbicara tentang para blogger di Bangladesh yang menjadi target dan dibacok sampai mati.

Tapi mengapa blogger menjadi sasaran ... dan mengapa sekarang?

Aksi protes berlangsung setelah pelaksaan hukum gantung terhadap dua pria, yang dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati tahun lalu. Keduanya diyakini melakukan kejahatan perang selama perang kemerdekaan tahun 1971 melawan Pakistan.

Sejak itu sudah 10 blogger yang dibunuh. Beberapa orang mengatakan mereka dibunuh sebagai balas dendam atas hukuman gantung itu. Tapi Tasneem Khalil mengatakan Al Qaeda berada di belakang pembunuhan para blogger.

“Ada kelompok yang berafiliasi dengan Al Qaeda, bernama Ansar al Islam, Bangladesh. Mereka adalah pengikut Anwar al-Awlaki. Tidak ada cara lain yang bisa menggambarkan mereka selain pemberontakan melawan ateis dan pemikir bebas di Bangladesh. Dan mereka melakukan serangkaian pembunuhan,” kata Tasneem.

Salah satu penulis yang dibunuh adalah Avijit Roy, yang dibacok hingga tewas tahun lalu. Istrinya pun ikut menjadi korban pembacokan.

Kasus terbaru terjadi beberapa pekan lalu yang menimpa Nazimuddin Samad. Mahasiwa ini dibacok berulang kali dan kepalanya ditembak.

Empat blogger laki-laki dan perempuan yang hadir dalam konferensi itu sekarang tinggal di Swedia. Mereka berasal dari keluarga Muslim dan Hindu.

Mereka punya kesamaan yang membuat mereka dibenci banyak orang di Bangladesh. Mereka tidak hanya menulis tentang hal yang tabu seperti homoseksualitas tapi mereka juga ateis, orang yang tidak percaya pada Tuhan.

Foring Camelia adalah blogger dan sutradara. Dia melarikan diri ke Swedia tahun lalu setelah berulang kali diancam akan dibunuh. Kejahatannya? Mengadvokasi hak-hak perempuan dan menjadi seorang ateis.

“Islam punya beberapa jenis aturan yang melanggar hak-hak perempuan. Mereka tidak percaya pada kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Karena saya seorang perempuan dan saya bisa melakukan semuanya, dibandingkan dengan laki-laki. Jadi perasaan ini membuat saya menjadi ateis,” aku Foring.

Banyak blogger di Bangladesh saat ini memulai kiprahnya dengan menjadi bagian dari Mukto Mona. Awalnya ini adalah grup email yang kemudian berubah menjadi kelompok online untuk berdiskusi para pemikir bebas.

Tapi penulis di Mukto Mona dengan cepat menemukan kalau ekstrimis dan negara menentang mereka.

UU Komunikasi Informasi dan Teknologi pasal 57 menyatakan: jika ada orang dengan sengaja menerbitkan materi dalam bentuk elektronik yang berisi prasangka terhadap citra Negara atau perseorangan, atau menyakiti keyakinan agama, maka pelaku akan dihukum maksimal 14 tahun dan minimal 7 tahun penjara.

Tiga puluh kasus berada di pengadilan sementara ratusan lainnya sedang diselidiki.

Meski berbahaya tapi kami harus menyuarakannya kata Siddhartha Dhar, sahabat Ananta Bijoy Das, yang tewas tahun lalu.

“Ketika orang-orang seperti kami memulai kegiatan ini, kami tahu akan ada ancaman terhadap kehidupan kami dan kami menerima fakta ini.”

Das diharapkan menghadiri konferensi soal kebebasan pers di Stockholm seminggu setelah ia dibunuh. Namun para pejabat konsuler Swedia di Bangladesh menolak permohonan visanya.

Ola Larsmo, ketua PEN Swedia, sebuah asosiasi penulis dunia, menerima beberapa surat per minggu dari para blogger yang terancam di Bangladesh.

Saya bertanya apa yang bisa dilakukan PEN untuk membantu menghentikan pembunuhan di Bangladesh.

“Kami meminta pemerintah Bangladesh meningkatkan standar mereka dalam melindungi para blogger ini,” tuntut Ola Larsmo. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!