Seorang pengungsi memegang pesan

Seorang pengungsi memegang pesan "Terima kasih Uni Eropa untuk menutup perbatasan" saat protes meminta pembukaan perbatasan di kamp darurat di perbatasan Yunani-Makedonia dekat desa Idomeni, Yunani, Jumat (18/3). (Foto: Antara)

Di Afghanistan, konflik dan kekerasan yang meningkat membuat kesempatan kerja di negara itu menurun.

Ini memicu warganya terlibat dalam imigrasi ilegal dan perdagangan manusia ke Eropa, Amerika Serikat, Kanada dan Australia.

Meski berbahaya, data dari Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi menunjukkan lebih dari 160 ribu orang menuju Eropa tahun lalu, sebagian besar dari Suriah yang dilanda perang.

Koresponden Mudassar Shah di Afghanistan bertemu beberapa anak muda dan calo di balik perdagangan orang ini.

Beginilah suasana pagi hari di Jalalabad, Afghanistan timur. 

Haroon Sarwari yang berusia 17 tahun dan Manzoor Ali, 18 tahun, bergegas mencegat taksi untuk pergi ke Kabul. Keduanya membawa ransel. 

Dua remaja yang bersahabat ini berencana pergi ke Eropa secara ilegal, dengan bantuan seorang agen.

Sepupu Haroon berhasil tiba di Jerman tiga bulan lalu, sehingga ayahnya mendukung rencana tersebut.

“Ayah saya menjual beberapa sapi dan meminjam uang dari teman-temannya untuk biaya saya ke Eropa. Dia sudah menyepakati harganya dengan calo yang bertanggung jawab membawa saya ke Eropa,” kata Haroon.

Tapi ayah Haroon, Sarwar Khan, mengaku sebenarnya ini keputusan yang sulit.

“Anak-anak adalah bagian dari tubuh dan jiwa tapi saya terpaksa mengambil keputusan ini. Situasi keamanan di negara ini tidak bagus dan di sini tidak ada pekerjaan. Agen itu mengatakan pada saya kalau Haroon butuh waktu tiga bulan untuk tiba di Eropa karena perjalanannya sangat berbahaya.”

Haroon dan Manzoor menempuh perjalanan selama tiga jam untuk sampai di Kabul.

Sepanjang perjalanan mereka berbincang tentang seperti apa kehidupan mereka kelak di Jerman. Mereka bilang akan bekerja apa saja di sana. Tapi mereka tidak pernah menyebut soal rintangan apa yang akan mereka temui selama perjalanan.

Sore harinya di ibukota Kabul, ratusan warga Afghanistan yang kebanyakan kaum muda, sedang mengantri untuk mendapatkan paspor elektronik.

Badan Pengungsi PBB (UNRA) dan Unit Riset dan Evaluasi Afghanistan (AREU) mengadakan sebuah survei pada Desember 2015. 

Hasil survei menemukan kalau kemiskinan, ketidakamanan dan pengangguran adalah alasan utama yang mendorong pemuda Afghanistan berimigrasi secara ilegal.

Pemerintah Afghanistan belum lama ini mengumumkan ada sekitar 250 ribu warga Afghanistan yang terdaftar sebagai pengungsi di negara-negara maju.

Dr Sayed Mahdi Mosawi adalah peneliti senior AREU. Dia menjelaskan salah satu temuan penting dari penelitian itu.

“Salah satu poin yang kami temukan adalah mereka yang melintasi perbatasan secara ilegal mengalami kesulitan dari calo perdagangan manusia dan polisi. Polisi memukuli dan menghukum imigran ilegal dan bahkan dalam beberapa kasus membunuh mereka,“ ungkap Mahdi.

Sekitar 16 juta warga Afghanistan adalah usia produktif tapi hanya tiga juta diantaranya yang punya pekerjaan. 

Mahdi mengatakan bila ada lebih banyak pekerjaan tersedia, kaum muda Afghanistan akan terdorong untuk tetap tinggal di dalam negeri.

Tidak sulit untuk menemukan calo yang bisa mengatur perjalanan ilegal di Kabul.

Tapi harganya tidak murah. Mereka menarik biaya mulai dari 65 juta hingga 157 juta, tergantung negara tujuan dan rute yang ditempuh.

Negara-negara Eropa yang berbeda punya tarif yang berbeda dan bila punya hubungan pribadi dengan calo, bisa mengurangi harga. 

Ramin Jan adalah seorang calo.

Saya bertemu dengan dia di pinggiran jalan di kota Jalalabad, tapi dia minta namanya disamarkan.

Usianya masih muda, kurang dari 30 tahun. Dia menjelaskan berapa biaya untuk menyelundupkan orang. Yang paling mahal adalah ke Inggris yaitu mencapai 157 juta.

Dia juga menceritakan cara kerja jaringan ilegal perdagangan orang.

“Kami punya jaringan calo. Kami membawa orang-orang dari Afghanistan barat ke Iran lalu ke Turki. Di sana kami menyerahkan orang-orang yang kami bawa ke agen. Mereka kemudian bertanggung jawab melanjutkan perjalanan dan membawa orang-orang itu ke negara-negara Eropa. Awalnya, sulit untuk menemukan lima orang saja yang mau membawa mereka ke Eropa. Tapi sekarang ada 25 sampai 30 orang yang selalu siap dalam satu bulan untuk membawa mereka ke Eropa,” jelas Ramin Jan.

Putra Sharifa Omeri tewas di Iran delapan bulan lalu dalam perjalanan mereka ke Eropa lewat Turki. 

Sharifa tidak bisa melupakan ketika anaknya ditembak mati dari depan ketika mencoba lari dari polisi perbatasan.

Dia mengaku sejak itu waktu rasanya berhenti dan perjalanan itu tidak sebanding dengan resikonya.

“Saya berharap tidak pernah mengizinkan dia meninggalkan negara ini. Harusnya saya memaksa dia untuk tinggal sehingga saya tidak kehilangan dia,” sesal Sharifa.

Meski lapangan pekerjaan yang tersedia masih kurang, pemerintah mendesak pemuda Afghanistan untuk tetap tinggal di dalam negeri. Pemerintah juga berjanji akan menindak penyelundupan manusia.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!