Jurnalis India mengalami intimidasi saat meliput pemberontakan Maois. (Foto: Bismillah Geelani)

Jurnalis India mengalami intimidasi saat meliput pemberontakan Maois. (Foto: Bismillah Geelani)

Keprihatinan meningkat menyusul kekerasan, intimidasi dan penangkapan yang dialami jurnalis di Negara Bagian Chhattisgarh di India.

Menurut Persatuan Editor India, pelaku kekerasan baik negara maupun non-negara membidik para jurnalis yang mengungkap kebenaran,

Seperti yang dilaporkan Bismillah Geelani, beberapa reporter dan aktivis terpaksa meninggalkan negara bagian itu dalam beberapa pekan terakhir.

Malini Subramaniam adalah seorang jurnalis lepas yang berasal dari kota Hyderabad.

Dia membuat liputan tentang apa yang dilihatnya sebagai jurang dalam pemberitaan soal pemberontakan Maois, dari negara bagian Chhattisgarh.

Beberapa bulan menggarap tulisan ini, dia jadi tahu mengapa tidak banyak yang membicarakan soal ini. Dia tahu setelah mengalami intimidasi.

“Sejak saya mulai melaporkan dari Januari, saya mulai mendapat ancaman. Saya ditanyai kelompok intoleran bernama Samajik Ekta Manch. Lalu polisi mendatangi dan bertanya di mana saya tinggal, apa pekerjaaan saya, mengapa saya menulis soal ini. Puncaknya tempat tinggal saya dilempari batu dan pemilik rumah mengusir saya. Polisi tidak ingin saya mengungkap soal ini,” kata Subramaniam.

Shalini Gera, seorang pengacara hak asasi manusia, yang bekerja di daerah itu punya pengalaman serupa.

“Pertama ada beberapa laporan anonim ke polisi terhadap kami. Keluhannya bukan sesuatu yang penting tapi polisi rajin menindaklanjutinya dan mengusik kami. Lalu ada kelompok intoleran yang bikin jumpa pers melawan kami. Mereka melakukan kampanye fitnah, unjuk rasa melawan kami dan membakar gambar-gambar kami di pasar,” kisah Gera.

Chhattisgarh merupakan salah satu benteng gerakan Maois India.

Pemberontak Maois mengklaim memperjuangkan hak-hak masyarakat adat dan miskin di pedesaan.

Mereka punya basis dukungan yang kuat di sepanjang daerah kesukuan dan beroperasi di hampir 200 distrik. Sementara di India ada 600 distrik.

Pemerintah telah meluncurkan beberapa operasi militer untuk mengusir mereka selama bertahun-tahun. Tapi sejauh ini belum begitu berhasil.

Aktivis HAM seperti Gera mengatakan polisi menargetkan masyarakat adat atas nama memerangi Maois.

“Kami mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membuat polisi tidak nyaman. Seperti pertemuan palsu atau kekerasan seksual massal. Intinya siapa saja yang mempertanyakan strategi polisi dalam operasi anti-naksal dibungkam dengan intimidasi, diancam, diusir, atau dipenjara,” kata Gera lagi.

Dalam beberapa pekan terakhir enam orang jurnalis dipaksa keluar dari daerah itu dan sedikitnya empat orang ditahan atas tuduhan mendukung Maois. 

“Ini upaya sengaja untuk berperang tanpa saksi. Ini upaya untuk memastikan tidak ada orang luar melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ini bukan hanya soal Maois, bukan tentang siapa yang Anda dukung. Ini soal kita dibolehkan melihat apa yang sebenarnya yang terjadi di negara ini,” jelas analis Shivam Vij.

Vij mengatakan ada juga kekhawatiran soal serangan baru pemerintah yang mungkin sedang berjalan, yang tidak ingin terungkap.

Tapi juru bicara pemerintah Gopal Krishan Agarwal membantah telah menindak jurnalis.

“Maois telah melepaskan teror dalam skala besar. Dan jika ada rasa takut, itu bukan hanya untuk jurnalis tapi juga masyarakat umum dan pasukan keamanan. Semua orang di negara bagian itu hidup dengan rasa takut,” kata Krishan.

Namun Vinod Verma, anggota Persatuan Editor India tidak yakin dengan hal itu. Verma memimpin tim jurnalis senior mengunjungi daerah itu belum lama ini.

Jurnalis di Chhattisgarh, katanya, digolongkan dalam tiga jenis. Pertama, katanya adalah jurnalis intoleran dan pemerintah.

“Kedua jurnalis yang tidak begitu pro pemerintah. Ini adalah jurnalis yang ingin melakukan pekerjaan dengan jujur tapi tidak bisa karena ada tekanan. Terakhir adalah orang-orang yang ingin mengungkap kebenaran dan pemerintah menjuluki mereka jurnalis pro-Maois,” jelas Verma.

Meski pemerintah memutuskan membentuk komite untuk menyelidiki keluhan itu, analis seperti Shivam Vij tidak berharap ada perubahan.

“Maois mengatakan Anda tidak melaksanakan konstitusi, demokrasi Anda palsu, tidak ada itu kesetaraan dan kebebasan berbicara seperti yang Anda katakan. Sekarang dengan mengusir aktivis HAM dan jurnalis, Anda hanya akan membuktikan ucapan mereka benar.”

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dan Dewan Pers India juga telah menyatakan keprihatinan serius terkait ancaman yang dialami jurnalis di Chhattisgarh.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!