Acara peluncuran buku Marcos Martial Law Never Again yang ditulis Raissa Robles (paling kanan). (Fot

Acara peluncuran buku Marcos Martial Law Never Again yang ditulis Raissa Robles (paling kanan). (Foto: Jofelle Tesorio)

Tahun-tahun gelap pemberlakuan darurat militer kembali menjadi sorotan di Filipina. Penyebabnya, putra satu-satunya bekas diktator, Ferdinand Marcos, maju sebagai wakil presiden dalam pemilu Mei ini.

Organisasi hak asasi manusia, korban penyiksaan, dan keluarga korban tewas dan hilang selama Marcos berkuasa, bersuara menentang pencalonannya.

Jofelle Tesorio menyusun kisah ini dari Manila, Filipina untuk Anda.

Aktivis dan penyanyi Filipina terkenal Noel Cabangon menyanyikan lagu kebangsaan, My Country atau Negeri ku.

Sebagian besar penonton mengangkat tinju mereka ke udara saat bernyanyi bersama.

Mereka hadir dalam acara peluncuran buku berjudul, Marcos Martial Law: Never Again.

Buku setebal 240 halaman ini berisi cerita masa-masa sebelum, selama dan setelah darurat militer di Filipina, 1972-1981.

Penulis buku itu Raissa Robles, seorang jurnalis politik. “Saya punya bukti hidup dan kesaksian tentang apa yang terjadi saat pemberlakuan darurat militer.”

Raissa butuh waktu beberapa tahun untuk mendokumentasikan cerita para korban seperti Bonifacio Ilagan. Dia seorang aktivis mahasiswa di tahun 70-an yang ditahan dan disiksa rezim berkuasa saat itu.

“Saya senang buku ini terbit karena ini adalah tamparan di wajah Bongbong Marcos. Seorang pria yang tidak mau disangkutpautkan dengan darurat militer. Saya tidak tahu bagaimana dia akan menyangkal buku ini,” ungkap Bonifacio.

Putra satu-satunya Ferdinand Marcos dan punya nama sama dengan sang ayah ini, di Filipina lebih dikenal dengan nama Bongbong Marcos. Dia maju menjadi wakil presiden dalam pemilu mendatang.

Korban penyiksaan dan penahanan, keluarga korban tewas dan hilang, akademisi dan organisasi hak asasi manusia tidak ingin dia menang pemilu. 

Bonifacio Ilagan menjelaskan bagaimana dia diperlakuan rezim ayah Bongbong.

“Salah satu metode penyiksaan yang digunakan saat itu dinamakan Jembatan San Juanico. Mereka akan mengikat leher dan kaki Anda di tempat tidur dan membuat Anda seperti mengambang di udara. Saya mengalaminya. Jika penyelidik tidak suka jawaban saya, mereka akan memukul perut saya hingga terjatuh. Lalu mereka akan memposisikan saya lagi seperti sebelumnya.”

Ia dipukuli dan ada bagian tubuhnya yang dibakar.

Adik perempuan Bonifacio, yang juga seorang aktivis mahasiswa, diperkosa dan dieksekusi.

Adiknya adalah bagian dari Tagalog Selatan 10, kasus terbesar yang tercatat dalam penculikan politik selama darurat militer.

“Penyiksaan berlangsung selama berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Kami ditinju, ditendang dsb. Ketika mereka tidak menginterogasi kami, para penjaga memanggil kami untuk dipukuli,” papar Bonifacio.

Korban lain disetrum listrik agar mengaku.

Meski ada kesaksian dan gugatan class action yang diajukan para korban terhadap Marcos di Hawaii, keluarga Marcos tidak pernah meminta maaf.

Yang paling mendekati permintaan maaf, pernah dilakukan Bongbong, saat wawancara dengan televisi nasional, ABS CBN.

“Jika selama ayah saya berkuasa ... atau mereka menjadi korban karena sesuatu...tentu saja kami mohon maaf. Tidak seorang pun ingin itu terjadi. Tapi akankah saya minta maaf atas ribuan kilometer jalan yang sudah dibangun? Kebijakan pertanian yang membawa kita berswasembada beras? Tingkat melek huruf tertinggi di Asia Tenggara? Kenapa saya harus minta maaf?” kata Bongbong.

Dan meski para ekonom mengatakan klaim ini cacat, itu tidak menghentikan keluarga Marcos memposisikan diri mereka kembali ke kursi kekuasaan.

Imelda, janda bekas diktator Marcos yang terkenal dengan koleksi sepatu mewah nya, sekarang adalah anggota kongres. Sementara Bongbong yang saat ini seorang senator, merupakan kandidat kuat untuk memenangkan kursi wakil presiden. Sedangkan Imee, saudara perempuannya adalah seorang gubernur.

Penulis Raissa Robles mengatakan warga Filipina mengalami amnesia sejarah terkait keluarga Marcos.

“Kita lupa mendidik kaum pemuda apa yang sebenarnya terjadi selama kediktatoran Marcos. Apa yang Bongbong Marcos bisa lakukan adalah melepaskan diri sendiri dari semua siksaan dan kekejaman selama periode itu. Dia terus mengatakan dia tidak ada hubungannya dengan itu padahal dia ada hubungannya,” kata Raissa.

Raissa berharap bukunya tentang masa darurat militer ini akan membantu warga Filipina memutuskan masa depan mereka.

“Saya tidak tahu apa pengaruhnya pada pemilu tapi saya berharap ini akan membuka mata masyarakat tentang apa yang para pemimpin, bukan hanya Bongbong Marcos, janjikan. Beri saya kekuatan dan saya akan lakukan ini untuk Anda dalam waktu enam bulan. Anda lebih baik berhenti dan beristirahat sejenak.”

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!