Warga New Delhi sedang mengantri air. (Foto: Bismillah Geelani)

Warga New Delhi sedang mengantri air. (Foto: Bismillah Geelani)

India tengah menghadapi krisis air terburuk dalam beberapa dekade.

Ketinggian air di hampir seluruh bendungan di negeri itu bahkan turun ke tingkat yang mengkhawatirkan. Sementara sungai-sungai mengering dengan cepat.

Seperti yang dilaporkan Bismillah Geelani, banyak yang menyalahkan lemahnya kebijakan pemerintah dalam situasi genting ini.

Di negara bagian Mahrashtra, puluhan laki-laki, perempuan dan anak-anak mengelilingi sebuah tangki air yang berada di jalan utama.

Mereka membawa kendi, ember dan wadah lainnya agar terisi penuh dengan air.

Renuka, usianya 35 tahun. Ia mendekati tangki dan berusaha mengisi lima kendinya.

“Saya harus menunggu selama 15 hari untuk mendapatkan air sebanyak ini. Tapi ini untuk berapa lama? Air dari keran sudah tidak mengalir selama dua bulan terakhir sementara kolam dan sumur kami juga kering. Tidak ada air sama sekali,” keluh Renuka.

Tapi Manohar hanya bisa mendapat satu ember air saja. Ember lain yang telah terisi, tumpah saat seseorang berupaya merebutnya.

Krisis air ini, kata Manohar, telah mengubah ‘saudara menjadi musuh’.

Mahrashtra telah dihantam kekeringan parah selama tiga tahun berturut-turut.

Di masa lalu, gagal panen menjadi kekhawatiran utama masyarakat yang sebagian besar petani. Bahkan bencana ini berujung pada serentetan aksi bunuh diri. Tapi saat ini, para petani tak begitu peduli dengan tanaman yang mengering.

Harveesh Singh, jurnalis pertanian mengatakan, petani lebih khawatir pada diri mereka sendiri.

“Ini situasi yang mengerikan. Selama ini kekhawatiran lebih pada tanaman yang layu, meningkatnya biaya tanam dan kurangnya hasil panen. Tapi yang kami saksikan sekarang adalah sebuah bencana. Bahkan di Maharshtra, cadangan air di bendungannya tinggal lima persen. Ini bukan lagi hanya soal pertanian. Masyarakat sudah tidak punya cukup air minum. Sekarang ini soal hidup mereka dan hewan ternaknya,” jelas Harveesh.

Ketika setetes air begitu berharga, seorang menteri lokal justru membuang puluhan ribu liter air. Ini dilakukan untuk menghilangkan debu yang berterbangan saat helikopternya mendarat dari kunjungan daerah. Hal itu langsung mengundang kemarahan.

Kemarahan serupa juga ditujukan pada pemerintah yang mengizinkan tujuh pertandingan turnamen kriket Liga Premier India digelar di negara  bagian itu. Diperkirakan tujuh juta liter air akan terbuang untuk merawat lapangan kriket.

“Jika Anda melihat kebijakan air di negara bagian Maharashtra, ada pedoman jelas yang harus diikuti: air harus dimanfaatkan sesuai urutan prioritas. Prioritasnya adalah untuk minum, memasak dan pertanian. Negara bagian tidak bisa mengadakan pertandingan olahraga ketika sebagian besar daerah sedang menghadapi kekeringan akut. Ini adalah masalah moral sekaligus hukum,” papar Rakesh Singh, Juru Bicara Loksatta, sebuah LSM pendamping petani.

Tapi Maharashtra bukan satu-satunya yang mengalami kekeringan. Setidaknya ada 12 negara bagian lain yang bernasib sama. Dan hampir setengahnya dalam keadaan parah.

Di negara bagian selatan, Karnataka dan Telangana, masyarakat harus berjalan kaki beberapa kilometer di bawah terik matahari untuk mendapat se-ember air minum.

Sedangkan di negara bagian utara, Punjab, petani tidak bisa mengairi sawah mereka. Sementara di Gujarat dan Madhya Pradesh, tentara bersenjata dikerahkan di sekitar tempat penampungan air untuk mencegah ‘pencurian air’.

Menteri Pertanian, Radha Mohan Singh menyalahkan kondisi cuaca sebagai penyebab krisis.

“Ini adalah bencana alam dan kita tidak bisa menghentikan alam. Curah hujan sangat sedikit tapi kami sudah melakukan semua hal untuk meminimalkan dampaknya. Kami bekerja sama dengan semua pemerintah negara bagian dan memberikan mereka bantuan yang diperlukan,” kata Singh.

Hanya saja, pegiat lingkungan mengklaim kebijakan pemerintahlah yang memperparah situasi.

Himanshu Thakkar, koordinator Jaringan Bendungan, Sungai dan Masyarakat Asia Selatan, menjelaskan.

“Menurut saya, ini adalah musim panas terburuk yang pernah dialami India pasca kemerdekaan. Tentu saja kurangnya curah hujan dalam dua tahun terakhir ikut berperan. Selain itu kurangnya tindakan pencegahan, salah urus dan kurangnya kebijakan dan mekanisme yang jelas dalam alokasi air sesuai prioritas.”

Thakkar juga mengatakan, obsesi pemerintah membangun bendungan dan sungai penyambung  menyebabkan terabainya kebutuhan air India.

“Kebutuhan air India bukan dari sungai, kanal atau bendungan. Tapi air tanah. Lebih dari dua pertiga irigasi berasal dari air tanah, lebih dari 85 persen pasokan air pedesaan dipenuhi oleh air tanah. Jadi kita sangat bergantung pada air tanah. Semua kebijakan, perencanaan, praktik dan proyek air kita harus difokuskan pada bagaimana mempertahankan air tanah,” tutup Thakkar.

Para ahli menyebut, sistem resapan air tanah seperti sungai, hutan, lahan basah dan kumpulan air lainnya telah mengering atau sangat tercemar.

Menurut Kantor Pusat Dewan Air, 40 persen penduduk negara ini tidak punya akses terhadap air minum pada tahun 2030 mendatang, jika situasi saat ini terus berlanjut.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!