Penulis Singapura, Josephine Chia, membacakan beberapa baris dari bukunya yang berjudul Kampong Spir

Penulis Singapura, Josephine Chia, membacakan beberapa baris dari bukunya yang berjudul Kampong Spirit, Gotong Royong, Life in Potong Pasir. (Foto: Ignatius Dwiana)

Hujan turun di Minggu siang itu. Namun tak menyurutkan niat puluhan orang berkumpul di Taman Menteng Jakarta. Mereka ingin menyaksikan pembacaan puisi.
 
Acara ini merupakan bagian dari ASEAN Literary Festival yang berlangsung setiap tahun di Jakarta.
 
Abdul Khalik, Co-founder Muara Foundation, pelaksana acara mengatakan festival ini menjadi ajang penulis ASEAN mempromosikan karya mereka ke dunia internasional.
 
“Mereka melihat festival ini sebagai sebuah pertemuan yang bisa mempromosikan karya mereka. Kami juga berdiskusi soal menerjemahan karya sastra dan bagaimana membuat karya sastra di kawasan ASEAN bisa mendunia. Mereka sangat bersemangat karena dengan bergabung dalam ASEAN Literary Festival, bisa membuat mereka dikenal dunia atau paling tidak mereka dikenal di kawasan ini,” tutur Abdul.
 
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi membuka festival ini. “Saya yakin, festival ini tidak hanya memperkaya kesusasteraan ASEAN tapi juga akan memberi kontribusi pada perkembangan sastra dunia.”
 
Dibanding penulis Asia Selatan, penulis dari negara-negara ASEAN kesulitan mengenalkan karya mereka di luar negeri. Masalah utamanya bahasa, kata Abdul Khalik.
 
“India dan Pakistan dijajah Inggris, sehingga mereka secara alami bisa berbahasa Inggris dan bisa menulis dalam bahasa Inggris dengan lancar. Tapi di Indonesia, kita harus mengakui kalau hanya sedikit orang yang bisa menulis dengan lancar dalam bahasa Inggris.”
 
Dia ingin ada pusat terjemahan di kawanan ini.
 
“Kami mulai berpikir untuk membuat pusat terjemahan ASEAN. Di tempat ini semua karya sastra dari negara-negara ASEAN diterjemahkan semisal dari bahasa Indonesia ke bahasa Thailand, atau sebaliknya dan tentunya ke bahasa Inggris.”
 
Ma Thida adalah penulis, aktivis dan ahli bedah asal Myanmar. Novelnya berjudul ‘The Roadmap’ menerima “Freedom of Speech Award” dari Norwegia pada 2011.
 
Dia sudah menerbitkan sembilan buku dalam bahasa Inggris dan Burma.
 
Dia mengatakan, generasinya bisa menulis dalam bahas Inggris dengan baik tapi sistem pendidikan di Myanmar selama betahun-tahun menderita karena diabaikan.
 
“Karena pendidikan yang buruk baik di masa pemerintahan sosialis maupun militer, banyak penulis yang bisa membaca dalam bahasa Inggris tapi tidak bisa bicara dalam bahas Inggris atau bahasa Inggrisnya sangat terbatas. Karena itu karya para penulis Burma sulit dikenal dunia.  Karya kami juga tidak bisa diterjemahkan dengan mudah dan kami juga tidak punya banyak karya terjemahan dari seluruh dunia. Karena itu PEN Myanmar akan menjadi tuan rumah simposium terjemahan bulan Mei nanti di Myanmar. Acara ini untuk melatih generasi muda menerjemah dari bahasa Burma ke bahasa Inggis atau sebaliknya,” kata Ma Thida.
 
Penulis Singapura, Josephine Chia, membacakan beberapa baris dari bukunya yang berjudul Kampong Spirit, Gotong Royong, Life in Potong Pasir.
 
Buku ini meraih Penghargaan Sastra Singapura tahun lalu. Dia mengaku meski menulis dalam bahasa Inggris, dia selalu menggunakan istilah dalam bahasa lokal.
 
“Agar karya penulis ASEAN bisa diakui dunia, kita harus menulis dalam bahasa Inggris. Tapi dalam buku, saya memakai kata-kata bahasa Melayu seperti yang tadi Anda dengar. ‘P Ramlee datang, P Ramlee datang.’ Di dalam paragraf, saya akan menermahkannya dan memberinya makna. Jadi jika ada pembaca berbahasa Inggris, dia akan tahu apa arti kata Melayu yang saya gunakan tadi. Pemakaian kata melayu ini akan memberi rasa bahasa lokal dan ras saya dalam buku saya.”
 
Josephine mengatakan ini akan membuat pembaca internasional tahu betapa kayanya budaya di negara-negara ASEAN.
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!