Ilustrasi

Ilustrasi

Mansoor Shah yang berusia 30 tahun mengelola sebuah toko di salah satu jalanan yang sibuk di Peshawar. Ia mengaku khawatir begitu melihat tulisan ‘Hidup ISIS’ di dinding dekat tokonya.
 
“Ada ketakutan di kalangan pengusaha tak lama munculnya graffiti itu. Mereka khawatir akan dianggap pendukung ISIS karena ISIS adalah simbol ketakutan dan teror,” kata Mansoor Shah.
 
Selebaran juga ditemukan di kamp-kamp pengungsi Afghanistan di Peshawar. Isinya mengajak masyarakat untuk bergabung dengan ISIS untuk memerangi orang Amerika dan mengusir orang-orang yang mereka anggap kafir dari Afghanistan.
 
Sardar Babak adalah bekas Menteri Pendidikan di wilayah ini. “Saya sepakat kalau disebutkan beberapa militan Taliban telah bergabung dengan ISIS dan mulai menyebar pengaruhnya di wilayah kita.”
 
Dalam video ini, seorang perempuan meminta para ibu polisi, tentara dan mahasiswa Pakistan untuk mengirimkan anak-anak mereka bergabung dengan kelompoknya untuk memperjuangkan Islam.
 
“Kami diancam di waktu malam. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi pada kami. Tapi kami tahu satu hal, kalau kami sendirilah yang bertanggung jawab atas diri kami. Kami datang demi Allah dan tidak takut untuk mengorbankan diri bagi Allah bila dibutuhkan. Kami tidak akan mundur bahkan bila diminta memberikan hidup kami.”
 
Video ini diyakini berasal dari Islamabad karena video ini memakai nama Lal Masjid atau Masjid Merah. Video seperti ini juga membuat Nasreen Bibi, seorang mahasiswa di Peshawar, takut.
 
“Saya mendengar tentang ISIS dari media dan merasa takut saat mendengar cerita-cerita soal apa yang sudah mereka lakukan di Irak dan Suriah, terutama pada perempuan. Perempuan tidak boleh sekolah dan bahkan sekolah-sekolah dibom. ISIS akan memperburuk kondisi kami,” ujar Nasreen Bibi.
 
Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS juga dikenal dengan nama Dawlah al Islamiyah fi al Iraq wal Shâm atau DAISH.
 
Profesor Ibrahim adalah pemimpin politik dari Jumat Islami. Dia dipilih Taliban untuk bicara atas nama mereka kepada pemerintah.
 
Dia khawatir dengan masuknya ISIS ke Pakistan. “ISIS membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Seseorang yang tidak tahu mengapa dia dibunuh. Sementara sang pembunuh tidak tahu alasan mengapa dia membunuh. Begitulah situasinya. Saya rasa ISIS akan melakukan hal yang sama di Pakistan, dengan apa yang telah mereka lakukan di Irak dan Suriah. Tuhan melarang mereka kemari.”
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!