Industri penangkapan tuna berkelanjutan di Filipina. (Foto: Madonna Virola)

Industri penangkapan tuna berkelanjutan di Filipina. (Foto: Madonna Virola)

Roberto Cueto adalah pengurus Asosiasi Penangkapan Tuna di Kota Mamburao. Mereka hanya menangkap tuna dewasa dan berkualitas bagus dengan kail tradisional atau kawil.
 
“Kami ke Selat Mindoro. Ada 300 nelayan menggunakan beberapa kapal. Kami menggunakan kail untuk menangkap Tuna. Kalau hasil tangkapan kami tidak banyak, kami tetap berada di laut selama beberapa hari,” kata Roberto.
 
Setiap kapal yang menangkap ikan di Selat Mindoro membawa tiga hingga enam nelayan. Hanya saja, hasil tangkapan mereka tak selalu bagus.
 
“Tahun 1995, marak penangkapan ikan ilegal dengan sianida dan dinamit. Hasil tangkapan tidak sebagus sekarang. Beberapa orang menggunakan peledak dan jaring besar. Pada 2008, kami belajar cara berkelanjutan dalam menangkap Tuna dan mulai mengunakan kail. Kami mulai memproduksi Tuna berkualistas ekspor yang harganya dua kali lipat lebih tinggi,” tambah Roberto.
 
Menurut World Wildlife Fund (WWF), 60 persen cadangan Tuna dunia ditangkap secara berlebihan. Di mana setengah dari produksi Tuna yang dikonsumsi dunia berasal dari Barat dan Pasifik Tengah. Dan Filipina, menjadi salah satu pemasok utama produk Tuna.
 
Pada 2011, WWF memulai sebuah proyek dengan mitra Eropa dan Filipina terkait pengembangan penangkapan Tuna yang berkelanjutan.
 
Proyek ini bertujuan mencegah penangkapan berlebihan atas cadangan Tuna sirip kuning yang ada di perairan Filipina. Dan juga untuk mengamankan sumber pendapatan ribuan nelayan dan keluarga mereka yang sangat tergantung pada perikanan.  
 
Di Mindoro Barat, WWF bekerja di 36 desa nelayan di sepanjang pantai barat. Saya berbicara lewat sambungan telepon dengan Joann Binondo, manejer proyek WWF.
 
“Kita tahu kalau cadangan Tuna itu sering berpindah dan kita berbagi dengan negara-negara lain di kawasan Pasifik, Filipina Barat. Itu sebabnya kami ingin Tuna-tuna ini dikelola secara berkelanjutan, tidak hanya di tingkat lokal tapi juga skala regional,” kata Joann.
 
Inspektur polisi senior, Ronnie de Villa, adalah anggota Satuan Tugas penjaga laut. Hanya nelayan terdaftar yang diperbolehkan menangkap ikan dan mereka harus tetap berada dalam radius 15 kilometer dari kampung halaman mereka.
 
“Kami terus berpatroli untuk memastikan laut tetap aman. Kami juga terus mendidik masyarakat lewat seminar dan dialog dengan para nelayan terutama soal UU yang melindungi laut,” kata Ronnie.
 
Sunshine Singun adalah ahli pertanahan di kota itu. Dia mengatakan Mamburao menjadi kota pertama yang menerima Sertifikasi Uni Eropa karena memenuhi semua standar untuk mengekspor tuna berkelanjutan.
 
“Di masa lalu, kita tidak melihat Tuna sebagai komoditas utama karena Mamburao adalah komunitas pertanian dan juga masyarakat nelayan. Tapi ini membuka mata saya kalau Tuna kami berkualitas tinggi,” jelas Sunshine.
 
Dia juga mengatakan kelompok lain di negeri itu bisa belajar dari mereka.
 
“Bulan lalu, kami kedatangan tamu dari Pasukin, Ilocos Norte. Mereka kemari untuk belajar bagaimana Mamburao mampu mempertahankan kualitas Tuna kami dan bagaimana praktik manajemen yang baik dalam penangkapan ikan. Walikota kami ingin kota-kota lain bisa mengikuti jejak kami dengan mempraktekan sistem manajemen Tuna yang baik.”
 
Setiap tahun mereka menggelar festival Tuna. Para nelayan berpawai di atas kapal sambil membawa Tuna tangkapan terbaik, sementara penduduk desa menari di sekitar mereka.
 
Joann Binondo dari WWF berharap pada 2017 mereka bisa mendapatkan sertifikat ekolabel dari Marine Stewardship Council atau MSC.
 
“Ini yang pasar internasional inginkan. Label biru di produk mereka sebagai tanda produk Tuna dari sumber berkelanjutan,” jelas Joann.
 
Kembali ke pantai di Selat Mindoro, Roberto Cueto berharap makin banyak nelayan yang melindungi laut sehingga bisa menjadi sumber penghidupan generasi berikutnya.
 
“Sulit untuk menjadi nelayan karena sangat berbahaya. Saya tidak ingin anak-anak saya juga jadi nelayan. Tapi salah satu anak saya yang sudah lulus kuliah, membeli sebuah kapal dan sangat berminat jadi nelayan karena hasil tangkapan saat ini sangat bagus,” kata Roberto.
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!