Terpidana kasus terorisme, Mohammad Cholili alias Yahya (32) menerima surat pembebasan bersyarat di

Terpidana kasus terorisme, Mohammad Cholili alias Yahya (32) menerima surat pembebasan bersyarat di Kantor Bapas Lapas Lowokwaru, Malang, Jawa Timur. (Foto: Antara)

Banyak anggota kelompok teroris Jemaah Islamiyah yang dinyatakan bersalah dan dipenjara karena melakukan aksi kekerasan di Indonesia, kini telah bebas.

Termasuk para pelaku yang dipenjara karena membantu dan melakukan bom Bali yang menewaskan lebih dari 200 orang.

Rebecca Henschke mendapat kesempatan langka dan ekslusif untuk bertemu mereka.

Hari ini kita akan berjumpa lagi dengan Muhammad Cholili dan Anif Solchanudin yang belum lama ini bebas bersyarat.  

Saat ini dia Muhammad Cholili berusaha mencari rumah kontrakan di daerah ini yang mau menerima bekas napi teroris untuk tinggal bersama mereka.
 
Dia mengatakan sudah akan mendapatkan rumah dan tinggal tanda tangan perjanjian kontrak ketika sebuah surat kabar mengungkap identitasnya.

“Tahunya dari koran. Korannya judulnya bombastis la. ‘Kurir Dr Azahari bebas’. ngeri to...’Kurir Dr Azahari bebas’... ada fotonya...” tutur Cholili.
 
Rumah yang akan disewanya itu digeledah.

“Sudah rusak ngga bisa ditempati lagi. Pagarnya sudah ngga ada. Pintu-pintu, jendela ngga ada. Pintu rumah ngga ada, pintu dalam rumah ngga ada. Semua ngga ada pintunya. Makanya saya ngomong, ini bukan delik aduan. Masak ada orang rumahnya dirusak, polisi diam aja kalau ngga lapor? Saya sudah ngomong gitu sama Kapolseknya. Mereka pada tutup mulut. Padahal rumah itu sebenarnya kata Pak RW yang ngomong sendiri sama saya, rumah itu dalam penjagaan Babinsa dan Bimas. Bagaimana Babinsanya, rumah kayak gitu rusak kok nga tahu saya gitukan. Fungsinya sampeyan apa. Kita cuma biasa ngomong ngga bisa yang lain sebagainya. Repot kalau di Indonesia ini. Pengen jadi warga negara Australia saya. Dapat grasi kalau kena kriminal, kan gitu to?”  

Dia mengaku tidak tertarik bergabung dengan kelompok militan lain dan ingin fokus membangun hidupnya.

Wawancara terhenti ketika dia menjawab telepon dari istrinya yang baru saja dinikahinya saat di penjara. Umur istrinya baru 19 tahun dan saat ini sedang hamil anak pertama mereka.

Cholili mengaku tidak tahu soal cabang ISIS di Indonesia dan bersikukuh kalau Jemaah Islamiyah tidak mau melakukan aksi kekerasan.

“Ustad-Ustadnya Jammah Islamiyah sampai ngomong sendiri kan tidak mau terlibat dalam kekerasan. Mungkin ada oknum-oknum yang melakukan kekerasan kayak gitu. Selama ini JI yang saya tahu jaman dulunya baik-baik saja,” kata Cholili.

Tapi bekas rekan satu sel Cholili, Anif belum lama ini ditangkap polisi karena akan mendeklarasikan dukungan bagi ISIS di Solo.

Cholili ingin tahu mengapa dia ada di sana.

“Saya sekarang mulai lebih realistis. Kalau cuma isu-isu itu kalau bahasa Islamnya harus tabayun, harus mencari keterangan. Saya datang supaya saya tahu sendiri.  apa yang disampaikan, siapa pengisinya, saya kenal atau tidak. Itu penting bagi saya,“ kata Anif.

“Kalau pengajarnya Isis ya?” tanya Cholili.

“Itu sebenarnya tidak ... malah justru saya dulu kan pengajian di rumah-rumah, rumah itu kan ekslusif. Kalau ini kan terbuka, di Masjid besar. Nga datang awal terus sampai selesai itu nga,” jelas Anif.

“Kok diketahui datang ke situ gimana ceritanya?” tanya Cholili lagi.

“Ini yang tanya. Ente itu mendengar...” canda Anif.

“Maksud saya gini, saya itu heran, Anif ini kan nga melakukan kriminal kenapa kok masih dibuntuti terus? Kalau memang dia jahat kayak buronon gitu pantas dia dibuntuti, wong Anif dah baik-baik kok masih dibuntuti terus. Sampai dia tahu Anif tahu ada di deklarasi kan. Gimana ceritanya?” kata Cholili.

Sudah masuk waktunya sholat dan Cholili dan Anif pun pergi sholat.

Bekas pemimpin Jemaah Islamiyah Nasir Abbas ingin mereka bergabung dengan program deradikalisasi yang didukung pemerintah dan mulai terbuka dengan masa lalu  mereka.

Tapi keduanya bilang tidak tertarik. Mereka mengaku ingin fokus memperbaiki hidup mereka.

Dalam perjalanan pulang Nasir berkata dia mengkhawatirkan Cholili dan Anif. Dia menasehati mereka untuk tetap tetang dan sabar.

Dia mengaku telah melihat kasus-kasus dimana teroris yang sudah bebas, kembali melakukan aksi kekerasan karena tidak diterima masyarakat.

“Karena nga ada pilihan lain. Dia ingin jadi warga biasa yang ingin diterima oleh masyarakat yang lain. Tapi masyarakat tidak mau menerima dia. Lalu dia akan mencari orang-orang yang bisa menerima dia. Yang bisa menerima dia ya kelompok yang lama,“ jelas Nasir.

Dia juga mendorong Cholili dan Anif terbuka dengan masa lalu mereka, ini setidaknya mengurangi kemungkinan mereka bergabung kembali dengan kelompok militan.

Nasir mengaku mempersiapkan anak-anaknya untuk mampu menjawab tentang masa lalunya yang penuh kekerasan.

“Abimu itu teroris ya? Aku lihat Abimu di TV. Anak-anak jadi merasa minder. Maka sebelum mereka mendengar pertanyaan itu saya siapkan mereka. Kalau nanti ada teman-teman yang bertanya jawab: IYA. Abiku itu dulu teroris tapi sekarang itu BUKAN. Begitu. Sekarang Abiku itu memberi pencerahan pada orang supaya jangan jadi teroris. Jadi kalau setiap kali ada teman yang bertanya seperti mojokan dia, dia ngaku IYA. Tapi kemudian meluruskan kembali. Lalu lama-kelamaan teman-temannya merasa bangga. Berikutnya kalau Abinya nongol di TV, ‘eh Husna kulihat Abimu di TV ...keren...’. Berubah jadinya. Jadi kalau Cholili sama Anif ini begitu terus, maka dia akan menghadapi hal yang sama. Dia harus lawan. Dia harus hadapi,” papar Nasir.

Mahmudi Haryono alias Yusuf yang menjadi supir kami di Surabaya ikut  melakukannya.

Yusuf berada di penjara selama lima tahun karena membantu pelaku bom Hotel JW Marriott tahun 2003.

Dia kini menjalankan bisnis kecil-kecilan. Dia menyewakan mobil, mengelola restoran kecil dan menyembelih ternak di kampung halamannya.

Dia mengatakan sangat sulit untuk membangun kembali kepercayan keluarga dan masyarakatnya.

Tapi kini mereka bahkan membuat lelucon tentang itu.

“Satu RT tahu, kok Yusuf ini berani ya menyembelih kambing, di kampung tahu, biasanya dia dulu waktu jadi teroris nyembelih orang, katanya gitu (LAUGHS). Tapi mereka guyonnya gitu. Tapi itukan dulu...Ada dialog seperti itu. Sekarang hampir tiap hari nyembelih kambing (LAUGHS). Jadi ketakutan jadi hilang karena kebiasaan baru saya yaitu nyembelih kambing,” kisah Yusuf.   
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!