Kholisuddin, salah satu pelaku bom malam Natal tahun 2000. (Foto: TVTempo)

Kholisuddin, salah satu pelaku bom malam Natal tahun 2000. (Foto: TVTempo)

Kholisuddin meninggalkan rumahnya di Tasikmalaya pada usia 17 tahun. Dia pergi berperang bersama Mujahidin di Afghanistan melawan Rusia.

“Sejak kecil kayaknya udah ada ke arah sana. Suka film-film perang. Kalau ada film-film perang itu semangat sekali, suka sekali. Sampai dewasa seperti itu. Pengennya dulu itu jadi tentara. Tapi karena apa ya, lama kelamaan backgroundnya sekolahnya mungkin dari pondok pesantren juga, walaupun pondok pesantrennya tidak ada mengarah ke arah situ tapi nggak tahu ya mungkin sudah nalurinya seperti itulah. Sehingga  suatu saat istilahnya kalau pemain suka kita main bola, orang itu pasti larinya ke lapangan kan.”

Dia berjuang selama empat tahun di Afghanistan sebelum memutuskan pulang ke Tasikmalaya. Dia ingin melanjutkan apa yang diyakininya sebagai perang Islam di Indonesia dan bersama alumni Afghanistan dia bergabung dengan Jemaah Islamiyah.

“Kita kegatelan waktu itu. Jadi istilahnya kita udah dari medan perang. Datang ke Indonesia kondisinya seperti ini. Kan jauh banget, kayak kita jatuh dari langit banget gitu. Di sana kita sehari-hari pegang senjata, kemana-kemana kita selalu bawa senjata tiba-tiba datang ke Indonesia gak ada apa-apa. Jadi kayak bangun dari mimpi kita. Betul-betul ya Allah kita merasakan itu,” kisah Kholis.

Sekitar tahun 2000, dia bercerita salah satu pemimpin Jemaah Islamiyah, Hambali, yang kini ditahan di penjara Guantanamo, mengunjunginya.

Kholis mengaku Hambali bercerita padanya rencana mengebom gereja di Indonesia pada malam Natal.

“Dan dia membawa berita ngumpulin kawan-kawan lah di sini yang di Tasik. Jawa Barat terutama, dikumpulin sama beliau. Kita dalam ajang silaturahmi. Yang pertama itu. Yang kedua, antum pernah ke Afganistan, antum pernah belajar militer, belajar askari. Belajar senjata. Maka semua itu antum ingat-ingat lah. Jadi seolah-olah udah mau dekat nih (aksi bomnya). Kita pokoknya siap lah.”

Kholis setuju untuk melakukannya di Pangandaran Jawa barat. Hambali mengatakan ingin balas dendam atas terbunuhnya Muslim saat konflik agama di Ambon 1999.

“Pada waktu itu sebenarnya yang jadi incaran bukan di Pangandaran. Tapi di Tasik. Tapi Tasik kan kota sendiri masa mau di-bom.. Jadi kita pilih di daerah yang memang di tempat yang tidak terlalu banyak orang muslimnya. Walaupun ada muslim, tapi daerah Pangandaran kan daerah tempat seperti itulah yang namanya wisata kan. Akhirnya saya pilih di sana. Sebetulnya saya gak tahu juga itu gerejanya kecil sekali itu,” tutur Kholis.

Pada 24 Desember 2000 selama misa malam natal kelompok JI berencana meledakan bom di Gereja di beberapa kota.

“Nah pada tahun 2000 kami merencanakan seperti itu, mengadakan istilahnya pembalasan terhadap mereka walaupun tanpa menginikan korban. Tanpa harus ada korban. Sebetulnya itu cuma harassing aja. Cuma nakut-nakutin aja. Tidak sampai untuk membunuh. Awalnya seperti itu. Tapi kalau kena pun ya satu kilogram kan kalau di ruangan seperti ini ya sekitar 10-15 orang mah lewat kah dengan segitu itu. Di tes kan, detonatornya, bagus apa ngga kan gitu.  Pada waktu itu kebetulan bulan Ramadhan. Terus jadi kan suara ledakan seperti itu nggak mencurigakan. Mirip ledakan mercon aja dah. Kan gitu kan. Padahal suaranya lebih kenceng daripada mercon. Ya kita coba udah di tes,” kisah Kholis.

Kholis mengaku apa yang dilakukannya melanggar ajaran Islam,

“Diantaranya kan adab-adab jihad itu banyak. Diantaranya adalah tidak boleh memotong pohon di daerah musuh kalau memang tidak perlu. Tidak membunuh anak-anak, istri, dan orang perempuan lah pokoknya. Dan termasuk adalah tidak boleh menghancurkan tempat ibadah-ibadah mereka. Kan gitu adabnya. Jadi kita udah menyalahi juga sebetulnya dari situ.”

Dia mengaku pernah hampir tertangkap.

“Nah di perjalanan Ciamis ini, karena waktu itu di lampu merah di Ciamis terlalu tengah atau apa, sehingga polisi nyuruh ke pinggir. Razia lah.. Ana kan bawa ransel yang besar itu. Tas yang besar. Itu apa katanya. Pakaian. Apa? Ini kan udah mau liburan pak, saya bilang. Dia buka itu. Padahal di bawahnya itu kalau memang dia bongkar sampai bawah aduh... bahan peledak semua itu,” kisahnya.

Dia meneruskan misinya ke Pangandaran bersama temannya. Mereka merakit bom itu di sebuah penginapan dan mencari tempat untuk meledakkannya pada pukul 9 malam.

Target pertama adalah Gereja Bethel Indonesia dekat pantai Pangandaran.

“Iya targetnya ini. Waktu itu udah disurvei dua hari sebelumnya. Oh ini tempatnya di sini. Nah ketika kita survei lagi ternyata di sini tidak ada acara kan. Gak ada acara Misa. Acaranya cuma pada waktu sore hari, jam lima. Wah ini anak-anak gak bisa. Anak-anak gak ada dosa. Walaupun mereka sama tapi anak-anak gak punya dosa. Kita bukan untuk gitu,” kata Kholis.

Jadi mereka memutuskan untuk menyerang sebuah hotel di Pangandaran. Pada malam Natal, bom itu meledak saat temannya Unes membawanya dengan sepeda motor keluar dari hotel. Dia tewas seketika.

“Lewat kesana, langsung ke luar, saya nunggu di sini, duduk-duduk gitu kan. Baru aja dua tiga menit langsung bunyi BLARRR!! Yaudah. Nah dari situ saya solat, siap-siap dulu di mushola. Di sini ada mushola di depan. Abis solat magrib, ada orang teriak dari sana. Dia ngedengar ini. “Wuih itu katanya vespa teman kamu.” Oh gitu? Masa? Saya pura-pura gak tau. Padahal kita udah tahu, deg-degan juga. Udah ngira bahwa ini pasti teman saya nih kan gitu,” tutur Kholis.

Malam itu enam Gereka diserang. 18 orang yang tidak bersalah tewas dan banyak yang terluka. Sementara rencana Kholis gagal total.

“Gak ada evaluasinya ini. Orang ini juga istilahnya, ini kan bukan peraturan begini, kalau begini...nggak, ini kan bukan di medan jihad yang bisa diinikan. Harus ada analisis.”

Dia lalu meninggalkan keluarganya dan menjadi buron polisi selama empat tahun. Dia bolak-balik Indonesia-Filipina Selatan naik kapal. Dia ditangkap di perbatasan dan dipenjara selama empat tahun. Tahun 2008 dia bebas.
 
“Kita menganggap memang suatu kesalahan. Kita tidak boleh berbuat seperti itu lagi lah. Kecuali kalau memang sudah terjadi besar-besaran dan memang menjadi sebuah, yang sudah mendunia lah hal itu. Dan ada yang memang syariatnya harus seperti itu, ya kita.. Kalau sekarang ini kita aduh, memang satu kesalahan lah yang tidak boleh diulang lagi. Jelas ini kekhilafan.”

Sekarang dia bekerja sebagai sopir truk dan mengaku tidak tertarik lagi begabung dengan kelompok jihad,.

“Jihad itu ada arahan-arahan dalam membangun ekonomi untuk ke arah sana. Membikin apa kan gitu. Yang mengarah ke sana lah gitu. Ya ke arah jihad maksudnya. Untuk memperkuat Islam. Memperkuat Islam Indonesia,” tamhab Kholis.
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!