Biksu kepala Rathsana . (Foto: Ric Wasserman)

Biksu kepala Rathsana . (Foto: Ric Wasserman)

Sinar bulan purnama menghiasi upacara tradisional di Kataragama, di barat daya Sri Lanka. Ada nyala lilin, dan para pemuja mempersembahkan bunga, buah-buahan dan dupa.

Bendera Sri Lanka terlihat berkibar di atasnya. Dalam setiap sudutnya ada daun, yang mewakili empat agama di pulau itu: Buddha, Hindu, Islam, dan Kristen.
 
Ini susunan yang indah tapi menipu. Perdamaian antar agama di sini telah rusak sejak 15 Juni tahun lalu.
 
Ratusan penganut Buddha anti-Muslim, yang dipimpin puluhan biksu dari organisasi ekstremis Bodu Bala Sena menyerbu kota kecil Dharga. Tempat ini terletak di pinggiran kota Aluthgama, selatan ibukota Kolombo yang banyak dihuni warga Muslim.
 
Penganut Buddha membakar mobil, para Muslim melempar batu. Militer pun melepaskan tembakan. 50 orang terluka dan empat Muslim tewas. Rasa sakit masih terasa sembilan bulan pasca kejadian.
 
Di seberang sebuah Masjid di Dharga, saya melihat seorang pria muda memakai kruk memasuki sebuah rumah.

Mohammed Afkar, yang berusia 20 tahun baru pulang dari Masjid. Dia kehilangan sebelah kakinya dalam penembakan. Ibunya Zeenathul mengatakan mereka tidak mengerti apa yang terjadi.
 
“Apa yang sudah dia lakukan? Kekuatan saya terletak pada masyarakat kami dan keyakinan saya pada tuhan. Saya tidak percaya pada janji-janji dari pemerintah manapun,” tutur Zeenathul.
 
Sebuah investigasi independen dilakukan atas aksi kekerasan itu karena pemerintah tidak memberikan penjelasan apapun.
 
Laporan ini menggarisbawahi soal kondisi Muslim yang terpinggirkan dan superioritas umat Buddha. serta fakta kalau Bodu Bala Sena telah menyiarkan pidato kebencian.
 
Saya melewati gerbang menuju rumah Mohammed Nijabdeens di Dharga. Nijabdeen adalah seorang Muslim dan menjadi kepala desa di sini selama 37 tahun.

Sulit untuk mengatakan siapa yang melempar batu pertama kali. Video yang direkam ponsel pribadi menunjukkan massa Buddha yang membawa karung berisi batu.
 
“Ketika massa Buddha masuk ke desa, kami melarikan diri ke Masjid. Ketika kami menolak untuk pergi, militer melepaskan tembakan. Dua anak laki-laki tertembak di kaki. Kami membawanya ke rumah sakit tetapi kelompok Buddha memblokir pintu masuk sehingga keduanya tidak bisa diobati. Karena terlambat dapat pertolongan, kaki keduanya terpaksa diamputasi,” kisah Nijabdeen.
 
Nijabdeen mengeringkan kacamata tebalnya dan menoleh pada istrinya yang ada di dapur.
 
”Kami ingin hidup damai. Bersama-sama. Seperti sebelumnya. Tapi saya takut penindasan terhadap kami, umat Muslim, akan terus berlanjut.”
 
Dia mengatakan ketegangan mulai tumbuh ketika komunitas Muslim makin besar. Saat dia ditunjuk sebagai kepala desa tahun 1972, ada sekitar dua ribu  Muslim di Aluthgama. Sekarang jumlahnya mencapai 25 ribu orang.

Jumlah penduduk Muslim hanya 8 persen dari keseluruhan populasi di Sri Lanka. Tapi komunitas Muslim dianggap pesaing ketat dalam bisnis bagi orang Buddha Sinhala yang ada di daerah itu.

Dalam upaya mereka untuk menciptakan sebuah negara berdasarkan etnis, lebih dari 90 ribu Muslim diusir dari wilayah utara oleh Macan Tamil selama perang sipil. Namun, komunitas Muslim tetap netral.

Setelah berperang 30 tahun dengan Macan Tamil, yang menewaskan 100 ribu jiwa, muncul ketakutan baru di kalangan mayoritas Buddha terhadap fundamentalisme Islam.
 
Jurnalis Keerthi Warnakulsunya bekerja untuk surat kabar The Island. “Masalah utamanya adalah Kongres Muslim Sri Lanka. Mereka meminta zona terpisah di provinsi timur. Ini sesuatu yang sangat mengganggu orang Sri Lanka. Karena mereka takut kelompok ini suatu hari nanti akan membuat masalah besar di sini. Rakyat Sri Lanka pikir akan ada bentrokan nantinya.”
 
Tidak ada bukti kalau kekerasan ekstremis Islam ada di Sri Lanka.

Tahun lalu, Ashin Wirathu, seorang biksu Buddha dari gerakan ultra nasionalis 969 Burma datang ke Sri Lanka. Tujuannya membangun kemitraan dengan kelompok anti-muslim Sri Lanka, Bodu Bala Sena.

Rambukpitiya Rathana yang telah menjadi biksu kepala Buddha, di dekat Aluthgama, selama 45 tahun khawatir.
 
“Ada banyak orang dengan agenda rasial yang menggunakan orang-orang yang memakai jubah. Jelas kalau Bodu Bala Sena tidak mengikuti filosofi Buddha. Seorang penganut Buddha yang sebenarnya, akan menolak Bodu Bala Sena bekerja sama dengan pemerintah dan akan melawan mereka.”
 
Pemerintah sebelumnya, Rajapakse, membentuk aliansi dengan Bodu Bala Sena. Dalam pemilihan Presiden Januari lalu, kelompok minoritas termasuk Muslim sangat menentang mereka.

Presiden baru, Mathripala Sirisena, telah berjanji kalau Bodu Bala Sena tidak akan mendapatkan dukungan dan meminta media untuk tidak memberi mereka ruang.

Selain itu, dia meminta para biksu ekstrimis untuk merefleksikan peran penting mereka dalam merajut perdamaian di dalam masyarakat.

Tapi biksu Buddha ekstrimis masih berkotbah di kuil-kuil mereka. Biksu kepala Rathsana mendongak pada patung Buddha besar di kuilnya. “Kami merasa malu karena filosofi kami dikotori oleh Bodu Bala Sena.”
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!