Demo anti-Islam dan demo tandingan mendukung Muslim berlangsung di Australia awal April 2015. (Foto:

Demo anti-Islam dan demo tandingan mendukung Muslim berlangsung di Australia awal April 2015. (Foto: Snehargho Ghosh)

Di Sabtu siang yang terik di Melbourne, ratusan orang berkumpul sambil mengibar-ngibarkan bendera Australia dan memprotes apa yang mereka sebut meningkatnya pengaruh Islam di Australia.

Di Melbourne, aksi ini dihadiri lima ribu orang dan aksi serupa juga digelar di beberapa kota besar lain.
 
Mengusung tema ‘‘Reclaim Australia’, para pengunjuk rasa menyuarakan sejumlah keprihatin, mulai dari terorisme, masuknya UU berdasarkan hukum Islam di Australia dan makanan bersertifikat Halal.

Namun jumlah peserta protes anti-Islam ini jauh lebih sedikit ketimbang peserta unjuk rasa tandingan melawan Islamofobia dan fanatisme agama.

Maree Adgemis, yang berusia 30 tahun dan memakai jilbab adalah salah satu dari perempuan Muslim yang berani ikut aksi tandingan ini.

“Kami bukan ancaman bagi masyarakat. Kami manusia normal, yang ingin damai. Ya ada beberapa orang di luar sana yang tidak ingin itu, tapi itu ada dalam setiap masyarakat. Jadi itu juga tanggung jawab kami sebagai umat Islam untuk mengatakan seperti ini kami dan ini nilai yang kami anut. Meski ada perbedaan, kami punya persamaan. Tapi media menunjukkan perbedaan kami untuk memisahkan dan menggunakan rasa takut itu. Maka menjadi tanggung jawab kami untuk keluar dan menunjukkan dukungan kami,” tegas Maree.
 
Dua aksi ini berkembang makin intens menjelang sore dan suasananya sangat tegang.

Kedua kelompok saling pukul dan bentrokan pun tak terelakkan. Ratusan polisi yang dikerahkan menjaga kedua kelompok ini gagal menjaga keduanya tetap terpisah.

Beberapa pria berkepala plontos dan bertato neo-nazi bergabung di kelompok anti-Islam, namun ada juga keluarga-keluarga.

Margaret Rowe-Keys, seorang seniman berusia 52 tahun membantah tuduhan kalau aksi yang mereka lakukan itu rasis. Dia hanya khawatir dengan ‘nilai-nilai Islam’ yang tidak sejalan dengan cara hidup orang Australia.

“Menurut saya ketika bangsa lain datang ke sini untuk mendapat hidup yang lebih baik, mereka harus menerima kebebasan beragama bagi semua orang. Tapi kita kini hidup di bawah satu jadi menurut saya kita tidak bisa hidup bersama dengan dua hukum. Mereka yang datang kemari harus menghormati hukum-hukum itu bukannya membawa hukum baru yang bertentangan dengan hukum yang sudah kami bangun lebih dari 200 tahun. Itu kekhawatiran saya. Kami senang dan menyukai multi-etnis tapi multi-kulturalisme sulit untuk berhasil," kata Margaret.

Belum ada gerakan yang signifikan dari komunitas Muslim Australia untuk memperkenalkan hukum Islam di negara itu. Di sini sekolah-sekolah Islam, seperti sekolah swasta agama lain di Australia, menerima dana dari pemerintah.

Pemakaian cadar oleh perempuan Muslim di depan umum, yang disebut beberapa orang beresiko secara keamanan dan biaya yang harus dibayarkan perusahaan makanan untuk sertifikasi Halal juga merupakan keprihatinan yang diangkat para demonstran selain soal terorisme internasional.

Jauh dari aksi demonstrasi itu, sikap anti-Muslim di beberapa komunitas berdampak nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa perempuan Muslim mengaku melepas jilbabnya bila keluar rumah karena tkut dilecehkan.

Dan Lembaga Pendaftaran Islamofobia Australia menyatakan menerima sejumlah besar laporan soal pelecehan verbal dan fisik di depan umum, terutama terhadap perempuan Muslim yang memakai jilbab.

Di pinggiran Melbourne bagian utara, saya bertemu dengan pengajar kajian Muslim  dan multi-kulturalisme, Shakira Hussein, untuk membahas meningkatnya gerakan anti-Islam.

“Selama tahun 1990-an dan saat Perdana Menteri John Howard menjabat, kami melihat banyak sikap rasis ditujukan pada orang-orang Asia. Warna kulit mereka tidak sama denagan kami karena berasal dari negara yang berbeda. Kami di sini berarti orang Australia berkulit putih. Setelah peristiwa 11 September, sikap ini khusus ditujukan terhadap Muslim. Sikap ini dianggap sebagai bentuk yang lebih terhormat dari rasisme karena tidak didasarkan pada gen dan warna kulit Anda atau faktor-faktor yang tidak bisa Anda kendalikan. Rasisme meski diragukan, kemudian didasarkan pada perilaku orang,” papar Shakira.

Q. Seberapa mewakili unjuk rasa warga Australia yang lebih luas terhadap Muslim?

“Tentu saja rasisme yang lebih keras yang ditunjukkan dalam aksi itu sangat tidak representatif. Ada semacam rasisme yang lebih ringan dan Islamofobia yang lebih bisa diterima dan tidak terbatas pada satu sisi politik saja.”

Q. Apakah menurut Anda sentiman Anti-Islam akan terus berkembang di Australia?

“Generasi awal para migran dari Yunani dan Italia juga menghadapi rasisme ketika mereka tiba di Australia. Tapi kemudian mereka bisa menyesuaikan diri Sama dengan para migran yang berasal dari Asia Tenggara, dari Vietnam dan Kamboja. Kesulitan bagi Muslim yang tinggal di Australia adalah peristiwa di luar negeri, tidak hanya di negara asal mereka tapi juga di negara Muslim lain. Peristiwa itu membawa dampak di sini tapi kami tidak bisa sepenuhnya tahu dan sangat sulit memprediksinya. Kejadian di Suriah dan Irak berdampak dalam kehidupan di Australia dan Muslim tidak tahu harus berbuat apa.”

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!