Anak-anak korban  bom Bali mengisi acara peringatan Bom Bali tahun 2014. (Foto: Rebecca Henschke)

Anak-anak korban bom Bali mengisi acara peringatan Bom Bali tahun 2014. (Foto: Rebecca Henschke)

Semua anak ini kehilangan orangtua akibat aksi terorisme. Hari ini mereka sedang latihan untuk tampil dalam acara peringatan bom Bali tahun 2002 yang mematikan itu.

“Saya Aldi umur 14 tahun. Saya Alif umur 15 tahun.”

Ayah mereka sedang dalam perjalanan pulang lewat Kuta saat bom kembar itu meledak di sana. Sejak itu, sang ayah tidak pulang lagi bertemu keluarganya.

“Sangat besar ya. Mama jadi single parent sekarang dan bekerja dua kali lebih keras untuk menghidupi keluarga. Sangat berpengaruh sekali. Saat kita ada pertemuan keluarga, kita iri melihat orang dengan bapaknya dan kita tidak. Kita cuma sama ibu aja,” tutur Aldi and Alief.

Pelaku serangan mengaku mengikuti himbauan Osama Bin Laden untuk membunuh warga sipil Amerika sebagai bentuk balas dendam atas pembunuhan Muslim di Afghanistan yang dilakukan Amerika Serikat.

Tapi Aldi, Alief dan ayah mereka yang tewas juga adalah Muslim. “Kita semua saudara di sini. Tidak ada perbedaan agama, ras atau apapun. Cuma mungkin karena ajarannya dari kecil sudah berbeda dengan kita, jadi beda banget, nga baik. Dan Islam tidak mengajarkan kekerasan kepada umat. Sangat salah sekali orang itu. Kecewa dan sangat marah sebenarnya cuma mau gimana lagi. Mungkin sudah takdir dari Yang Di Atas, ya udah.”  

Nyoman Rencini sedang menonton tiga putrinya berlatih. Suaminya, Ketut Sumarawa, saat itu bekerja sebagai supir yang sedang menunggu turis di luar Paddy Pub saat bom meledak.  

Sebelum suaminya meninggal, keluarga mereka hidup miskin. Dan hidup makin berat saat Nyoman Rencini jadi orangtua tunggal.

“Saya sebagai seorang ibu, saya kan juga kepingin ..CRIES.. anak saya itu seperti orang lain, anak- anak lain yang senang hidupnya. Mau ini bisa mau itu bisa. Yang bisa saya lakukan cuma menasehati anak, jangan. Ngga ada kata IYA, jalanlah. Ngga ada. Cuma bisa menekan dia, jangan nak, sabar ya. Itu yang bisa saya ucapkan sama anak-anak,” kisah Nyoman Rencini.  

Dia bercerita kalau putri bungsunya, yang sangat dekat dengan ayahnya, yang paling terpengaruh.

“Menyadari anak saya itu seperti tidak berpikiran normal. Ya, dia seperti normal tapi dalam mengendalikan dirinya ngga normal. Terbukti selama dia sekolah, baru SMP waktu itu, saya sering dapat panggilan dari gurunya, kalau anak saya ngga ke sekolah.”

Ini adalah kisah yang dialami hampir semua keluarga korban aksi terorisme.

Di sebuah ruangan hotel tidak jauh dari tempat ledakan bom, sebuah sesi terapi sedang berlangsung.

Seorang gadis bernama Lina berdiri dan bertanya pada psikiater bagaimana cara membujuk adik perempuan yang tidak mau ke sekolah.

“Apa yang ibu saya lakukan, karena setiap adik saya memberikan harapan bahwa besok dia sekolah dan ibu saya berharap, tiba-tiba dia ngga sekolah lagi dan ibu saya sakit hati lagi. Selalu seperti itu. Ibaratnya dia pegang kontrol untuk ibu saya. Terima kasih,” tamya Lina.

Psikiater Made Nyandra mengatakan tidak mau ke sekolah adalah gejala beberapa masalah yang lebih dalam.  Dia meminta sang ibu yang juga berada di sana, untuk tidak memaksa sang anak dan mengikuti beberapa terapi secara pribadi.

Kegiatan ini diadakan oleh Paguyuban Isana Dewata, sebuah komunitas bagi para janda dan anak-anak lokal korban bom Bali.

Ni Luh Erniati adalah ketua kelompok itu. Dia membesarkan dua anaknya sendirian sejak suaminya, Gede Badrawan, tewas.

“Yang susah yang kedua. Waktu itu baru berusia satu setengah tahun, dia belum mengerti apa-apa. Dan waktu itu mungkin dia kangen sama bapaknya, dia baru bisa bilang ‘Pa’. Setiap cowok yang deketin dia mau. Dia senang. Dia pernah nangis satu minggu, setiap malam nanyain bapaknya. Karena sebelumnya saya bilang bapaknya kerja, nanti pulang bawa mainan. Setelah kelas 4 dia mengerti. Dia melihat foto bapaknya setiap malam. Mungkin hari itu adalah waktunya saya kasih tahu dia. Akhirnya saya kasih tahu ‘Adek Bapak ngga akan pulan karena Bapak sudah sama Tuhan. Bapak ngga pulang dia sudah tenang di sana. Trus Adek jangan nangis’ saya bilang gitu. ‘Adek sayang mama kan? Kalau Adek sayang mama, Adek jangan nangis. Karena kalau Adek nangis, mama sedih.’ Sambil nangis saya ngomong gitu. Akhirnya tangisnya reda karena ngga mau lihat mamanya nangis.”  

Dia mengatakan anggota komunitasnya kini khawatir dengan kemunculan organisasi Negara Islam (IS).

Banyak anggota kelompok teroris Jemaah Islamiyah yang dinyatakan bersalah dan dipenjara karena melakukan aksi kekerasan di Indonesia, kini telah bebas.

“Di dalam penjara bisa insyaf, bisa sadar akan apa yang dilakukan. Tapi setelah keluar bertemu dengan teman-temannya lagi, dia akan berbaik lagi,” tutur Ni Luh Erniati.   

Untuk saat ini dia fokus pada menciptakan toleransi diantara generasi mendatang. Organisasinya juga memberikan beasiswa pada anak-anak korban agar bisa menamatkan sekolah. Dan mereka adalah  kelompok anak muda yang mengesankan.

Di acara peringatan peristiwa itu, putri bungsu Nyoman Rencini yang sangat dekat dengan ayahnya, membacakan sebuah puisi, dihadapan Gubernur Bali dan beberapa diplomat.

Puisinya tentang bagaimana kelompok Isana Dewata menjadi keluarganya dan membantunya keluar dari awan hitam yang mengungkungnya.

Alief yang berusia 14 tahun, yang ayahnya juga tewas dalam aksi bom itu, sudah punya rencana apa yang akan dilakukannya dengan hidupnya. “Saya dari kecil pinginnya siy jadi seorang penerbang atau pilot. Nanti lulus SMA saya pengen sekolah pilot.”  

Adiknya, Aldi yang punya bakat menyanyi – tampil sebagai penyanyi solo saat kelompok itu tampil di depan 500 penonton lebih malam itu.

Lagu Bali yang dinyanyikan Aldi malam ini mengajak kita untuk hidup harmonis. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!