Pengemudi ojek online Rifka Kurniawan. (Foto: Nicole Curby)

Pengemudi ojek online Rifka Kurniawan. (Foto: Nicole Curby)



Banyak jalanan Jakarta yang macet di jam-jam sibuk. 

Agar bisa menembus kemacetan para pemakai kendaraan umum biasa mengandalkan ojek untuk sampai di tempat tujuan.

Munculnya aplikasi ojek online tahun 2015, makin memudahkan warga Jakarta dan kota-kota besar lainnya untuk bepergian.

Nicole Curby mencari tahu suka duka perempuan yang terjun menjadi pengemudi ojek online ini.

Pertumbuhan mobil dan jalan yang tidak sebanding di Jakarta, membuat jalanan di ibukota ini kerap macet. Banyak warga Jakarta harus menghabiskan waktu berjam-jam di jalanan setiap hari, pagi dan malam.

Salah satu cara cepat dan murah melewati macetnya kota adalah dengan sepeda motor.

Jadi banyak warga yang kemudian memilih bepergian dengan ojek. 

Sampai beberapa waktu lalu, kebanyakan tukang ojek pangkalan dan online yang saya temui adalah pria.

Ini bukan berarti tidak ada perempuan yang bawa sepeda motor di Jakarta. Ada banyak. Tapi tidak halnya yang berprofesi sebagai tukang ojek. 

Jadi saya memutuskan untuk bertanya pada beberapa orang pekerja yang sering naik ojek online. 

Q. Sudah pernah naik ojek online sama driver perempuan? 

“Belum pernah…Saya belum pernah order untuk driver wanita.” 

“Belum… belum pernah naik...bukan perempuan, tapi laki laki.”

Fajar adalah pelanggan setia ojek online tapi sangat jarang mendapatkan pengemudi perempuan. 

“Saya dapat beberapa kali. Satu kali saya masih ingat supirnya meminta maaf karena dia perempuan. “Anda tidak keberatan mengambil supir perempuankan?” Dan saya jawab,”Tentu saja tidak, memangnya kenapa?” kisah Fajar.

 

Meski jarang dijumpai, pengemudi perempuan itu ada. 

“Nama saya Rifka kurniawan. Saya driver wanita sudah lebih kurang setahun.”

“Kadang ada customer yang ngga mau sama driver cewek. Kadang mereka pikir kasihan juga mau dicancel. Kadang kalau sudah ketemu customer, kenapa Pak? Jangan dicancel Pak kasihan juga saya bilang gitu,” tutur Rifka.

Rifka menyukai pekerjaannya. Tapi dia mengaku yang berat adalah perjuangan sehari-hari untuk dapat diterima secara setara - dan itu bukan dari pengemudi laki-laki tapi penumpang.

“Tadi pagi niy saya ngalamin. Saya sudah dapat orderan begitu saya samperin, memang belum ketemu saya customernya, cuma dia telefon saya alasan dia sudah dijemput temannya,” kisah Rifka. 

“Ya saya sempat kesal, kenapa? Apa karena saya perempaun? Saya bilang gitu, makanya dengan alasan sudah dijemput minta dicancel? Saya bilang.”

Stereotip usang tentang pengemudi perempuan tampaknya masih sulit untuk diubah.

“Ada yang bilang seperti itu, Katanya driver wanita yang mungkin masih baru belajar, kita ngak juga salahin juga mereka,” kata Rifka.

Wilhelmina, juga pengemudi ojek online, sepakat dengan Rifka. 

Menurutnya beberapa pria secara terbuka jelas merasa tidak nyaman disopiri perempuan.

“Laki-laki kadang saya datang, yah Mba saya yang bawa motor ya. Malu saya Mbak masak perempuan yang bawa motor.  Akhirnya dia yang bawa motor saya yang duduk dibelakang,” kata Wilhelmina.

Ini juga dirasakan Rizal, pengguna setia ojek online.

“Awal awal saya agar kurang sering karena saya biasanya mendapat order dengan laki laki, tapi tiba tiba dapat driver perempuan. Saya juga jarang banget hampir tidak pernah naik motor dengan driver perempuan (laughs).”

Wilhelmina dan Rifka mengatakan mereka kadang-kadang membiarkan penumpang laki-laki membawa motor dan mereka duduk di belakang. Tujuannya agar penumpang tidak membatalkan pesanan dan mencari ganti pengemudi laki-laki.

Tapi ketika saya bertanya pada penumpang perempuan, mereka mengaku lebih suka pengemudi perempuan jika bisa memilih.

“Lebih suka perempuan, lebih nyaman sesama perempuan. Selain itu, karena orang muslim, lebih muhrim sesama perempuan.”

 

Di tengah maraknya kasus pelecehan seksual, ada alasan mengapa perempuan lebih memilih supir perempempuan. Seperti yang dikatakan penumpang ojek online, Josta.

“Contohnya seperti terakhir kali, pengemudi ojek saya bertanya, “Di mana suami Anda” atau “Anda lajang atau bukan”. Saya pikir itu bukan urusan dia,” tutur Josta.

Dan semakin banyak perempuan yang menjadi tukang ojek kata Rifka. 

Dia sendiri mengkoordinir 100 pengemudi perempuan dan menurutnya jumlah ini terus bertambah.

Meski masih ada tantangan, Wilhelmina mengatakan beberapa penumpang semakin merasa nyaman dengan keberadaan pengemudi perempuan.

“Kalau yang perempuan yang saya jemput di Bank Indonesia dia ngantuk kan berangkat pagi. “Mbak maaf ya saya mau tidur, maksudnya tidur di belakang saya, mau megang ini (pingang).” Oh ya silahkan. Kalau bisa pegangan. Kalau ngga pegangan takut jatuh aja kan. Ya udah nga papa. Ada juga waktu itu laki-laki juga tidurnya pulas.” 

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!