Transgender di Afghanistan harus menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan ganda. (Foto Mu

Transgender di Afghanistan harus menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan ganda. (Foto Mudassar Shah)



Di Afghanistan Timur, sekelompok perempuan transgender membentuk sebuah organisasi bernama Khazina. Dalam Bahasa Pashto, itu berarti 'transgender'.

Tapi dalam masyarakat Afghanistan yang sangat konservatif, hidup para transgender tergantung pada seberapa bisa mereka merahasiakan identitas gender dan kelompok baru mereka.

Koresponden Asia Calling KBR, Mudassar Shah, menyusun kisahnya dari provinsi Nangarhar.

Jeli berusia 22 tahun. Selama 12 tahun terakhir, dia bekerja dari subuh hingga sore, tujuh hari seminggu, di toko penjahit kecil di Jalalabad, Afghanistan.

Bekerja di sini memungkinkan Jeli menjalani kehidupan ganda yang sangat dia dambakan - mengenakan pakaian perempuan secara diam-diam.

“Dengan menjadi penjahit, saya mendapat kesempatan untuk memakai gaun perempuan setiap hari. Saya berpura-pura memeriksa gaun dan panjangnya. Mengenakan pakaian perempuan adalah semacam katarsis bagi saya dalam masyarakat yang didominasi laki-laki ini,” tutur Jeli.

Jeli adalah seorang perempuan transgender.

Sejak kecil, dia tidak pernah merasa seperti anak laki-laki dan lebih memilih untuk bermain bersama anak perempuan.

Tapi di luar keluarganya, hanya beberapa teman yang tahu identitas dia yang sebenarnya sebagai perempuan transgender.

Setiap dua pekan sekali, sekitar lima teman yang juga perempuan transgender mengunjungi Jeli.

Mereka duduk di atas karpet merah yang lembut saat Jeli menyajikan teh hijau di sebuah ruangan kecil di belakang toko.

Salah satu teman Jeli bernama Asad menghidupkan musik dan mulai menari. Tapi Jeli mengatakan mereka harus berhati-hati agar pertemuan mereka tidak ketahuan.

“Kami hidup dalam masyarakat konservatif. Mereka mengharapkan semua orang itu sama. Mereka yang tidak mengikuti nilai-nilai yang ada, harus hidup secara rahasia. Jika tidak, mereka akan dibunuh oleh keluarga sendiri. Kami merahasiakan semuanya, termasuk nama dan identitas kami sebagai perempuan transgender, sampai napas terakhir,” ungkap Jeli.

Di Afghanistan, homoseksualitas dan cross-dressing atau berpenampilan seperti lawan jenis dianggap tidak senonoh dan tabu.

Setelah Taliban mengambil alih kekuasaan  tahun 1990, hukum-hukum ini diterapkan dengan ketat.

Bahkan hukuman untuk kasus perzinahan dan hubungan seks di luar nikah dilakukan di depan publik.

Kelompok transgender dan perempuan di sana kerap mengalami pelecehan fisik dan verbal tapi para pelakunya tidak pernah dihukum.

Saya bertemu juru bicara polisi Nangarhar, Hazrat Hussain Mashraqiwal.

Kepadanya saya bertanya soal isu-isu yang berdampak pada kelompok transgender di sini. Tapi dia enggan untuk menjawab dan bahkan tidak mau membahasnya  sama sekali.

“Sejujurnya saya tidak punya informasi mengenai keberadaan transgender di kota Jalalabad karena tidak ada yang meminta informasi mengenai komunitas ini,” kilah Hazrat.

Mahfooz Kakar adalah jurnalis di provinsi Nangarhar. Dia mengatakan isu transgender tidak masuk dalam media Afghanistan.

Bahkan mereka tidak paham. Itu sebabnya sebagian besar jurnalis membutuhkan pelatihan terkait isu ini.

“Saya yakin kebanyakan orang bahkan tidak memandang transgender itu sebagai manusia, setara dengan laki-laki dan perempuan. Saya yakin sebagian besar jurnalis akan mengolok-olok saya jika saya meminta mereka untuk membuat laporan soal komunitas transgender,” kata Mahfooz.

Asad, teman Jeli yang berusia 20 tahun, sering berada di dekat toko penjahit itu.

Dia menjual lipstik, cat kuku dan kosmetik lainnya menggunakan sebuah keranjang kecil. Barang-barang ini menurutnya bisa memberinya kenyamanan.

Menjadi bagian dari komunitas transgender kecil ini, katanya, adalah langkah pertama dalam menciptakan ruang yang aman bagi orang-orang transgender.

“Akan memakan waktu untuk sampai pada posisi bisa menuntut hak-hak kami. Kelompok inimembantu kami berkumpul dan saling berbagi masalah. Berkumpul bisa membantu mengatasi trauma psikologis, terutama ketika seseorang dalam komunitas kami mengalami pelecehan seksual atau pemerkosaan,” jelas Asad.

Komunitas transgender Afghanistan hidup dalam ketakutan. Orang-orang kerap mencari tahu identitas asli mereka dan melakukan penyerangan.

Meski jalan yang akan ditempuh panjang tapi Jeli, Asad dan teman-teman mengatakan mereka harus memulainya.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!