Kebaya Bernoda Darah dan Pussy Hats di Women’s March Jakarta

Perempuan di Indonesia punya gagasan sendiri tentang feminisme, kesetaraan, dan keragaman.

Senin, 13 Mar 2017 11:35 WIB

Aksi Women's March di Jakarta. (Foto: Vitri Angreni)

Aksi Women's March di Jakarta. (Foto: Vitri Angreni)


Gaung gerakan feminis dan demonstrasi secara nasional saat pelantikan Presiden Amerika Donald Trump juga sampai di Indonesia. 

Di Jakarta, ratusan orang turun ke jalan pekan ini/lalu dan beberapa ada yang mengenakan ‘Pussy hat’ berwarna merah muda seperti rekan-rekan mereka di Amerika Serikat. 

Tapi seperti yang didengar Nicole Curby,  perempuan di Indonesia punya gagasan sendiri tentang feminisme, kesetaraan, dan keragaman.

Ratusan orang yang ikut aksi Women’March meneriakkan kata ‘Perempuan Bersatu!’

Pada Sabtu 4 Maret lalu, sebelum Hari Perempuan Sedunia, di Jakarta ada aksi Women’s March, yang ingin dikaitkan dengan gerakan global.

Andrea Andjaringtyas Adhi, adalah peneliti di Universitas Indonesia. Untuk acara ini, dia merajut sendiri ‘pussy hat’nya.

Topi itu terbuat dari bahan wol dan berwarna merah muda. Bentuknya seperti telinga kucing. 

Ini adalah simbol aksi perempuan yang berlangsung di seluruh dunia setelah Presiden Trump dilantik Januari lalu.

“Meski kepanasan dan berkeringat, ini adalah simbol solidaritas dengan perempuan di seluruh dunia. Meski topi ini tebal tapi tetap bagus untuk dipakai. Ini tanda kalau kita bersama-sama dalam gerakan ini,” jelas Andrea.


Meski topi ini tidak cocok dengan iklim di Indonesia, tapi tuntutan para demonstran tetap relevan.

Beberapa perempuan di sini memakai kebaya putih yang berlumuran darah. 

Ini menjadi simbol jumlah perempuan yang tewas dan mengalami kekerasan setiap tahun, kata salah seorang penyelenggara aksi, Stephanie Tangkilisan.

“Kami ingin punya simbol yang bisa mewakili betapa gentingnya situasi ini. Dan agar punya efek mendalam ketika orang melihat perempuan Indonesia yang berdarah,” tutur Stephanie.

Ada hampir 260 ribu kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan tahun lalu, menurut Komnas Perempuan. Sekitar 3.500 diantaranya adalah kasus kekerasan seksual.


Salah satu poster yang cukup provokatif di aksi Women’s March menyingung soal budaya pemerkosaan dan pentingnya persetujuan.

Kekerasan seksual, pernikahan remaja, tingginya angka kematian ibu dan sunat perempuan adalah masalah yang masih terjadi di Indonesia.

Para demonstran juga menuntut adanya perhatian pada kondisi buruh migran perempuan, kurangnya bantuan bagi mereka yang hidup dengan HIV / AIDS, serta perjuangan untuk hak-hak LGBTQ.

Panitia aksi, Kerri dan Stephanie, mengatakan mereka ingin memastikan suara perempuan Indonesia yang beragam latar belakangnya ini bisa didengar.

Di sini, keragaman itu juga terlihat dari segi orientasi seksual ...

Setelah reaksi negatif dari para pemimpin negara dan agama terhadap LGBTQ tahun lalu, perempuan transgender bernama Syakila Siti Firmonda menekankan kalau kesetaraan milik semua perempuan.

“Tentu saja sangat penting karena ini terkait dengan kami trans perempuan. Karena kita sudah termasuk bagian dari perempuan. Dimana trans perempuan kerap dan rentan mendapatkan kekerasan seksual,” kata Syakila. 


Namun mengingat situasi saat ini, tidak terlalu mengejutkan sebenarnya masuknya isu LGBTQ memecah belah peserta aksi. Beberapa bahkan memilih untuk tidak bergabung karenanya.

Dan meski Women’s March kali ini diikuti ratusan orang, untuk ukuran aksi di Jakarta, ini relatif kecil.

Hanya beberapa bulan yang lalu, unjuk rasa dari kelompok agama diikuti ratusan ribu orang. Beberapa pihak menyebut ini adalah tanda berkembangnya konservatisme agama di seluruh negeri.

Pekerja film Amelia Hapsari membawa putrinya yang berusia dua setengah tahun, Kartika, di aksi Women’s March ini. Amelia berharap bisa menunjukkan Indonesia yang beragam pada putrinya.

“Meningkatnya suara-suara yang ingin Indonesia menjadi lebih seperti Negara Islam dan semakin menyalahkan perempuan atas apa yang mereka pakai, membuat saya khawatir,” keluh Amelia. 

“Jika kita menuju ke arah sana, saya tidak ingin putri saya tumbuh besar di sini. Saya berharap dengan Indonesia yang toleran dan demokratis, dia bisa mewujudkan mimpinya. Dia  bisa memiliki hak dan posisi yang setara dengan orang Indonesia lainnya.”


 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Menristek Minta Dosen Mundur Karen HTI, Pengamat: Itu Ngawur

  • Jokowi : Pengadaan Alutsista Harus Lewat G to G
  • Indonesia Jadi Tuan Rumah Konferensi Anti Terorisme
  • Terus Lakukan Intimidasi Penggusuran, Warga Dobrak Gerbang PT KA Bandung

Indonesia mengalami masalah ketimpangan (inequality) dan tengah berupaya memeranginya. Simak perbincangannya hanya di Ruang Publik KBR, Rabu 26 Juli 2017 pukul 09.00-10.00 WIB.