Para pelajar di Institut Veerni di Rajasthan, India. (Foto: Jasvinder Sehgal)

Para pelajar di Institut Veerni di Rajasthan, India. (Foto: Jasvinder Sehgal)

Menurut PBB lebih dari sepertiga pengantin anak berasal dari India.

Sesuai UU, perempuan di sana baru bisa menikah setelah berusia 18 tahun. Tapi banyak orangtua yang menikahkan anaknya sebelum mencapai usia tersebut. 

Dan meski pernikahan anak sudah lama dilarang di seluruh negeri, tradisi yang sudah berusia ratusan tahun itu masih terus dilakukan di banyak negara bagian, termasuk di Rajasthan.  

Koresponden Asia Calling KBR, Jasvinder Sehgal, mengunjungi sebuah sekolah sekaligus rumah aman bagi anak-anak yang menikah di usia dini dan menyusun laporannya untuk Anda. 

Ini siang hari di Institut Veerni di kota Jodhpur di negara bagian Rajasthan. 

Lembaga ini adalah sekolah berasrama gratis yang memberikan pendidikan bagi para gadis yang berasal dari desa-desa yang jauh.

Ini waktunya istirahat dan para murid berkumpul untuk makan siang.

Sebelum makan, para murid yang berdoa.

“Menu hari ini adalah kacang, nasi, gulai kentang, pencuci mulut dan salad. Ini rasanya enak dan bisa memberi kami tenaga sepanjang hari,” itu adalah Dhapu, siswa di sekolah ini dan berusia 15 tahun. 

Setelah selesai makan siang, dia bercerita tentang dirinya.

“Nama saya Dhapu dan saya berasal dari desa tetangga. Saya kelas tujuh jurusan seni dan tinggal di institut ini. Saya menikah ketika saya masih kecil sekitar tahun 2009. Saat ini usia saya 15 tahun. Saya tidak begitu ingat apa yang terjadi dengan pernikahan itu tapi saya ingat suami saya tidak melakukan apa-apa.”

Dhapu adalah satu dari 70 gadis yang tinggal di sekolah berasrama ini, dimana sebagian besar siswanya sudah menikah.

Di sekolah ini selain mendapat mendidikan, mereka juga mendapat makan setiap hari, buku, seragam, dan pelatihan komputer.

Mahendra Sharma adalah Direktur Institut Veerni. 

Dia mengatakan sekolah ini memberikan kesempatan pada anak-anak yang dinikahkan di usia dini agar bisa mendapat pendidikan tanpa gangguan keluarga dan tekanan akibat pernikahan. Dan kadang ini bisa membawa perubahan besar dalam kehidupan mereka.

“Sebelumya sulit membawa anak-anak yang menikah di usia dini kemari. Orangtua mereka berpikir kalau pendidikan modern akan memanjakan mereka dan membuat mereka sombong. Kami pernah menerima siswi yang dinikahkan di usia 5 atau 6 tahun. Dengan bersekolah, kita bisa membantu menunda upacara pernikahan mereka. Pendidikan yang diterima para gadis itu membuat mereka lebih mandiri. Ini menjadi titik balik bagi orangtua, yang bisa melihat manfaat pendidikan pada anak perempuan mereka. Dan ini membuat banyak orangtua membatalkan pernikahan putri mereka,” kata Mahendra. 

Dan ternyata peminat sekolah ini sangat besar. Tahun lalu, sekolah ini punya empat tempat kosong dan mereka menerima lebih dari 200 pelamar. Lima puluh dari pelamar adalah pengantin anak.

Lembaga ini telah berjalan selama 12 tahun dan telah mendidik ratusan pengantin anak, kata Mahendra.

“20 pengantin anak menyelesaikan pendidikan mereka di sini tahun lalu. Sepuluh pengantin anak berhasil masuk universitas dan lima diantaranya di sekolah keperawatan.”

Meski ada upaya pemerintah, jumlah pernikahan anak di India belum berkurang. Kemiskinan dan kurangnya kesadaran dianggap sebagai penyebab utama mengapa tradisi ini tetap bertahan.

Vimlesh Sharma bekerja sebagai inspektur kesehatan di Sekolah Veerni selama sepuluh tahun terakhir. Dia membantu mengidentifikasi pengantin anak dan membawa mereka ke lembaga ini.

“Praktik pernikahan anak tidak bisa dihentikan begitu saja. Satu-satunya solusi mengatasi masalah ini adalah pendidikan. Itu sebabnya kami pergi ke desa-desa yang jauh untuk mendidik orangtua yang menikahkan anaknya di usia dini, kata Vimlesh. 

“Kami tidak mengkritik mereka. Kami hanya meminta mereka menyekolahkan putrinya sebelum diantar ke rumah suaminya. Ini kerap menunda pernikahan anak dan akhirnya pernikahan anak berubah menjadi pernikahan normal yang sah.”

Dhapu, seorang pengantin anak, berkomitmen untuk mengakhiri praktik ini.

“Saya ingin jadi polwan. Ini cita-cita saya sejak kecil. Saya ingin membantu para gadis muda agar tidak ada lagi yang menikah dini. Saya akan minta orangtua untuk berhenti menikahkan anak mereka diusia muda. Pernikahan anak adalah kejahatan dan tidak ada yang boleh melakukannya.”

Jika tren pernikahan anak ini terus berlanjut, 150 juta anak perempuan akan menikah sebelum ulang tahun mereka ke-18 dalam 10 tahun mendatang.  Itu artinya ada sekitar 15 juta anak menikah setiap tahun.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!