AntBuddy adalah pemenang kompetisi Start Up Vietnam. (Foto: Lien Hoang)

AntBuddy adalah pemenang kompetisi Start Up Vietnam. (Foto: Lien Hoang)

Banyak negara ingin punya Lembah Silikonnya sendiri dan Vietnam salah satunya. 

Pekan lalu, impian beberapa pengusaha Vietnam ini makin mendekati kenyataan berkat kompetisi startup.

Lien Hoang dari Kota Ho Chi Minh menyusun laporan tentang kompetisi itu.

Jika Anda belajar sesuatu tentang Perang Vietnam, Anda mungkin mendengar bagaimana Vietnam dianggap sebagai underdog atau pihak yang lemah. 

Tapi orang Vietnam cerdas dan punya tekad dan ini menjadi modal mereka mengalahkan negara yang lebih kaya, Amerika Serikat.

Sekarang ini, analogi tadi mungkin bisa digunakan untuk beberapa startup teknologi. 

Mereka adalah orang-orang muda yang cerdas tapi tidak punya uang sebanyak perusahaan-perusahaan besar. Tapi mereka pekerja keras dan kadang, ide mereka bisa mengubah seluruh industri.

Mungkin itu sebabnya startup begitu populer di Vietnam karena lewat startup orang yang terlihat lemah bisa menjadi besar.

Underdog seperti Manh Tuan, pemilik situs Ez4home.com, membantu masyarakat merenovasi rumah mereka.

Dia melemparkan ide startup di sebuah kontes yang diadakan Tech Asia, baru-baru ini. 

Saya menghadiri kontes yang dipenuhi pengunjung itu. Banyak orang yang harus berdiri dan kita nyaris tidak bisa mendengar presentasi.

Ada lima perusahaan yang berupaya meyakinkan para juri kalau mereka punya rencana bisnis terbaik. Pemenang kontes ini akan mengunjungi Singapura untuk bertemu investor dan startup lainnya.

Salah satu kontestan adalah Windeliv. Ini adalah aplikasi ponsel pintar yang menghubungkan pembeli dengan orang yang bisa mengantar belanjaan pembeli dengan sepeda motor.

Pendiri Windeliv Dinh Thanh Cong beralasan di Vietnam banyak sepeda motor. 

Penduduk Vietnam sekitar 90 juta jiwa dan ada lebih dari 40 juta unit sepeda motor. 

“Dan tingkat pengangguran masih tinggi. Itu sebabnya saya percaya jenis model bisnis semacam ini bisa sukses di Vietnam. Tidak hanya Vietnam, tapi juga di Laos, Thailand, Kamboja, India, dan Indonesia,” Cong melanjutkan penjelasannya.

Anda mungkin berpikir startup itu dimana-mana sama. Anda punya teknisi yang terampil coding dan kemudian bekerja sama dengan orang-orang bisnis yang bisa menjualnya. 

Tapi startup juga berbeda untuk masing-masing negara. 

Misalnya, kontestan lain BeeIO yang membawa teknologi pertanian. Dan ini mungkin berguna mengingat dua pertiga Vietnam adalah daerah pedesaan. 

Ada juga Applikasi Vice, yang mendorong transaksi elektronik di toko-toko biasa. Ini karena masih banyak warga Vietnam yang berbelanja langsung ke toko-toko. 

Tapi keduanya tidak berhasil menjadi juara di kompetisi Tech in Asia. 

Satu dari tiga juri, Ryu Hirota, menggambarkan seperti apa perusahaan yang berhasil menang.

“Tidak punya hambatan bahasa. Sehingga mereka bisa menyebar ke banyak negara di Asia Tenggara,” kata Hirota.

Itu sebabnya para juri tidak butuh waktu lama untuk membuat keputusan.

“Itu konsensus. Jadi kami tidak perlu diskusi panjang.”

Jadi siapakah pemenangnya?

HTK Inc menciptakan AntBuddy, jenis perangkat lunak yang membantu rekan kerja berkomunikasi satu sama lain secara real time. 

Saya bertanya pada manajer produk AntBuddy, An Ha, bagaimana perasaannya jadi pemenangan.

“Kami berhasil memenangkan perjalanan ke Singapura dengan Tech  in Asia. Dan kami sangat gembira. Mulut saya sampai pegal karena terus tersenyum. Jadi begitulah...kami sangat senang,” ungkap Ha.

Ha mengatakan ini berarti perusahaannya makin dikenal.  

“Kami tidak punya modal dan sedang mencarinya. Jadi lewat acara Tech in Asia ini, kami punya lebih banyak kesempatan untuk bertemu investor. Dan kemenangan ini memberikan kami kredibilitas karena para juri percaya pada potensi kami, potensi aplikasi kami dan potensi pasar yang kami layani.”

Untuk startup yang ingin bersaing di masa depan, juri lain, Eddie Thai, punya beberapa saran.

“Pastikan Anda bisa menjelaskan masalah apa yang coba diselesaikan. Selain itu bisa mengatasi masalah ekonomi serta pastikan ide Anda berbeda dari yang lain.”

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!