Penjual sayuran di salah satu pasar di Kota Ho Chi Minh. (Foto: Lien Hoang)

Penjual sayuran di salah satu pasar di Kota Ho Chi Minh. (Foto: Lien Hoang)

Lihatlah angka mencengangkan ini: dari semua makanan di dunia, setengah diantaranya terbuang sia-sia.

Jadi apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi pemborosan? Ini pertanyaan yang semakin relevan bila kita mulai mempertimbangkan keamanan pangan di masa depan.

Di Kota Ho Chi Minh, Lien Hoang berbincang dengan beberapa ahli dari kawasan untuk mengetahui soal ini lebih lanjut.

Ini idenya: Jika Anda ingin terlihat sehat dan cantik, yang Anda butuhkan adalah ayam. Bukan untuk dimakan tapi untuk digosokkan ke kulit. Ya semacam itulah.

Sebuah tim ilmuwan Malaysia sedang berupaya menemukan manfaat kulit ayam.

Rupanya kulit ayam mengandung banyak elastin, yang mirip dengan kolagen. Ini bisa digunakan sebagai produk kecantikan, seperti krim, minuman atau komestik anti-penuaan.

Salma Mohamad Yusop adalah bagian dari tim peneliti. Dia seorang dosen senior di Program Ilmu Kimia dan Teknologi Pangan, Universitas Nasional Malaysia.

Dan dia punya slogan yang bagus untuk percobaan ilmiahnya, yaitu Jadi Kaya dengan Sampah.

Kekayaan dari sampah bisa jadi slogan untuk seluruh masyarakat, yang saat ini sedang berusaha membuat keseluruhan siklus makanan jadi lebih efisien.

Apakah Anda pernah melihat tempat sampah dan merasa agak bersalah karena membuang makanan? Ya itu yang saya rasakan. Jadi saya selalu senang ketika mendengar ada cara-cara baru yang sedang dikembangkan untuk mencegahnya, untuk meminimalkan sampah.

Seperti ayam. Ini adalah salah satu makanan yang paling populer di dunia. Tapi banyak bagian ayam yang harus dibuang sebelum terhidang di meja makan.

“Konsumen sekarang lebih memperhatikan kesehatan. Jadi mereka menghubungkan kulit unggas dengan penyakit kardiovaskular. Sehingga kulit unggas ini dibuang,” kata Salma.

Proyek Salma didanai pemerintah Malaysia dan juga melibatkan negara-negara lain. 

Tahun ini saja, Prancis menjadi negara pertama yang melarang supermarket membuang makanan yang belum rusak.

Di Denmark, sebuah toko baru bernama WeFood baru-baru ini mulai menjual produk yang sudah lewat masa kadaluarsanya. 

Inovasi juga datang dari Filipina. Saya bertemu Leif Marvin Gonzales, koordinator penelitian di program Pertanian dan Perikanan, Capiz State University.

Dia dan timnya menyadari ada begitu banyak kubis yang terbuang, mulai dari saat dipanen petani hingga dijual ke pembeli. Jadi mereka menguji berbagai teknik untuk meminimalkan limbah ini.

“Berdasarkan hasil penelitian ditemukan kalau terjadi penurunan hasil panen, mulai saat dipanen petani hingga ke tangan pembeli. Berkurangnya hampir 5-10 persen. Dan kami bisa mengurangi angka ini,” papar Gonzales.

Bagaimana caranya? 

Para peneliti punya empat metode: Pertama, mempertahankan daun terluar kubis untuk melindunginya. Kedua, membawa sayuran dalam peti plastik bukan karung. 

Langkah ketiga adalah mencampur aluminium dengan air dan menyiramkannya ke kubis untuk mengontrol bakteri. Dan terakhir, menggunakan plasting wrapping untuk mengurangi eksposur kubis terhadap oksigen.

Gonzales dan Salma berbincang dengan saya di Konferensi Internasional tentang Lingkungan dan Energi Terbarukan, di Kota Ho Chi Minh, belum lama ini.

Acara ini diselenggarakan oleh Masyarakat Kimia, Biologi dan Teknik Lingkungan Asia-Pasifik.

Di acara itu saya juga berbincang dengan Hiroko Seki, peneliti di program Tekonogi dan Ilmu Kelautan Universitas Tokyo.

Dia melakukan tes untuk membandingkan penggunaan styrofoam dan kardus untuk mengangkut tuna. Dia menemukan kalau biaya produksi kardus lebih murah dan mudah terurai, jadi lebih baik bagi lingkungan.

Saya berbincang dengan Suki saat istirahat makan siang saat konferensi. 

Dia bercerita kalau timnya sedang menggarap sebuah prototipe dari kardus bergelombang yang bisa bertahan di dalam air.

Suki mengatakan hasilnya nanti bisa secara signifikan mengurangi sampah dalam logistik makanan laut di masa depan. Bahan-bahan yang bisa terurai bakteri seperti kardus lebih baik bagi lingkungan dan meminimalkan sampah.

Gonzales, peneliti Filipina yang fokus pada kubis, menjelaskan manfaat lain dari pengurangan sampah.

“Kita harus mengadaptasi teknologi ini, khususnya petani, pengecer, grosir, serta konsumen,  sehingga kita bisa meningkatkan keuntungan dan hasil produksi. Karena kita ingin mewujudkan swasembada serta untuk ketahanan pangan,” kata Gonzales.

Dan masyarakat bisa mengurangi sampah makanan yang berujung pada berkurangnya penyumbang utama emisi gas rumah kaca.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, misalnya hanya membeli barang-barang yang dibutuhkan dan tidak terlalu terobsesi dengan bentuk tubuh.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!