Melukis mural di kontainer di Festival Seni Jalanan New Delhi. (Foto: Bismillah Geelani)

Melukis mural di kontainer di Festival Seni Jalanan New Delhi. (Foto: Bismillah Geelani)

Ibukota India, New Delhi, menjadi tuan rumah Festival Seni Jalanan Perkotaan. Acara ini diramaikan seniman jalanan dari dalam dan luar negeri. Mereka punya satu misi: mengubah lanskap kota itu.

Agar seni bisa diakses oleh semua orang, panitia menggunakan trotoar dan dinding di kota itu sebagai tempat untuk berekspresi.

Koresponden Asia Calling KBR, Bismillah Geelani, bertemu beberapa seniman dan menyusun laporannya untuk Anda.

Inland Container Depot yang berada di pinggiran Delhi adalah pelabuhan darat terbesar di Asia.

Kawasan ini biasanya ramai dengan suara klakson dan kendaraan yang lalu lalang. Tapi beberapa hari ini, kawasan itu jauh lebih tenang.

Pelabuhan telah diubah menjadi tempat Festival Seni Jalanan Delhi. Acara ini diramaikan kehadiran puluhan seniman Delhi yang bekerja dengan latar belakang pertunjukan musik dan tarian.

Akshat Nauriyal adalah salah satu pendiri Start India Foundation, penyelenggara festival. 

“Lewat festival ini kami mencoba membawa keluar karya seni dari galeri konvensional dan ruang tertutup, agar bisa dinikmati masyarakat luas. Di India menikmati karya seni dianggap sebagai hak istimewa kelompok elit atau kelas menengah ke atas. Maka kami ingin mendemokratisasikan seni dan membuatnya bisa diakses semua orang,” jelas Nauriyal.

Ini adalah Festival Seni Jalanan keempat dan setiap tahun panitia makin kreatif. 

Tahun ini mereka menggunakan kontainer barang sebagai kanvas.

Seniman Perancis Sowat melihatnya sebagai kembalinya seni jalanan ke asalnya.

“Graffiti lahir di gerbong kereta api. Idenya adalah membuat sebuah museum yang bisa berkelana; Lukis karyaAnda di satu tempat dan lukisan itu kemudia berkelana ke seluruh kota atau negeri. Jadi menurut saya yang menarik adalah dimana kontainer itu akan berahir dan siapa yang akan melihatnya. Itu sebabnya saya berpikir lebih luas dari sekedar seni jalanan. Graffiti di kontainer ini tidak hanya dilihat orang kota tapi saya ingin orang di desa juga melihatnya,” kata Sowat.

Para pengunjung juga sangat bersemangat melihat kontainer yang dihiasi karya-karya seni yang indah.

“Delhi menjadi pusat seni dunia karena di sini ada banyak museum dan galeri seni. Tapi ini adalah sesuatu yang sangat bagus. Penggunaan kontainer sebagai media seni adalah sesuatu yang baru dan berbeda. Saya sangat senang berada di sini,” kata Abhilash Khandekar seorang jurnalis senior yang menulis kolom seni untuk salah satu koran terkemuka India.

Beberapa karya seni yang menonjol diantaranya adalah mural besar astronot yang menatap ke angkasa dan seorang dewi India sedang menunggang naga.

Selain itu juga ada sebuah kata "Breathe" atau ‘Bernafas’ yang dilukis dengan tinta hitam khusus yang terbuat dari materi tertentu dan karbon. Ini untuk menegaskan kebutuhan mendesak akan udara bersih.

Seniman lokal Harsh Raman menggunakan palet warna cerah untuk membuat mural yang dia gambarkan sebagai Dewa seni jalanan.

“Di India ada Dewa untuk semua hal tapi tidak ada Dewa untuk seni jalanan. Jadi saya berpikir akan menarik untuk mengeksplorasi ide menciptakan semacam Dewa untuk seni jalanan dan menciptakan semacam kuil bergerak.”

Tapi Gaia, seniman jalanan dan muralis dari Amerika Serikat, lebih peduli dengan pemanasan global.

“Apa yang Anda punya di sini yaitu mobil Zusuki Alto Maruti. Dan potret seorang pria bernama Malcom McLean yang dikenal karena inovasi kontainer dan membuat standarisasi kontainer dan dimanfaatkan oleh segala macam perusahaan pelayaran luar negeri,” kata Gaia.

Dengan memasukkan salah satu mobil paling laris di India dalam lukisannya, Gaia sedang mencoba untuk menyoroti hubungan antara hidup perkotaan dan pemanasan global.

“Yang ingin saya katakan adalah gaya hidup tradisional yang sederhana sedang berubah menjadi gaya hidup perkotaan di seluruh dunia. Kita melihat munculnya megapolitan dan kedatangan tenaga kerja besar-besaran dari desa ke kota. Ini memunculkan kebutuhan untuk punya fasilitas dan kemudahan, seperti akses mendapatkan obat-obatan, air bersih dan juga mobil pribadi.“

Ada juga potret almarhum penyair dan aktivis Iran Farough Farrukhzad menandakan pentingnya perjuangan atas hak-hak perempuan dalam masyarakat konservatif. Lukisan ini dibuat seniman Iran bernama Nafir.

Sebagai bagian dari festival, panitia bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mengubah sebuah wilayah pemukiman di Delhi menjadi distrik seni pertama negara itu.

Mural dinding megah yang dibuat seniman lokal dan internasional telah mengubah daerah Lodhi di Delhi, yang punya banyak bangunan bersejarah, menjadi sebuah galeri seni terbuka.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!