Pengacara lingkungan Gerthie Anda berada di garis depan gerakan lingkungan di Palawan, Filipina. (Fo

Pengacara lingkungan Gerthie Anda berada di garis depan gerakan lingkungan di Palawan, Filipina. (Foto: Ariel Carlos)

Aktivis lingkungan menghadapi bahaya yang mematikan di Filipina.

Dalam laporan Global Witness yang berbasis di London pada 2015, Filipina dinyatakan sebagai negara paling berbahaya bagi aktivis lingkungan di Asia.

Tapi seperti yang dilaporkan Jofelle Tesorio dan Ariel Carlos dari Palawan, Filipina, ada beberapa aktivis lingkungan perempuan luar biasa yang tidak takut bahaya.

Bila Anda bertanya pada warga di Provinsi Palawan siapakah ‘Green Lady’ maka mereka akan menyebut nama pengacara sekaligus aktivis lingkungan, Gerthie Mayo-Anda.

Dia dianggap tokoh yang mewakili gerakan lingkungan di provinsi ini.

Di tengah maraknya pertambangan, pembangunan dan isu lingkungan lainnya, ia mendirikan Lembaga Bantuan Hukum Lingkungan atau ELAC pada 1990-an.

“Saya ingin menggunakan pengetahuan dan keterampilan saya sebagai profesional di bidang hukum. Fokus saya bagaimana masyarakat bisa bertahan hidup dan menyandarkan hidup pada ekosistem yang sehat,” kisah Gerthie.

Selama lebih dari 25 tahun, dia terlibat dalam hampir semua masalah lingkungan di sana. Ini membuatnya diberi gelar 'Srikandi Hutan'.

Lembaga Gertie berperang melawan pembalakan liar, penangkapan ikan, pertambangan dan ekspolitasi sumber daya alam lainnya.

“Ketika Anda bicara soal proyek ekstraktif seperti pertambangan dan energi atau mendorong tata kelola lingkungan yang baik, terasa sangat sulit. Penyebabnya karena Anda berhadapan dengan pemangku kepentingan yang kuat, yang membuat kerja-kerja advokasi menjadi sulit.”

Palawan merupakan daerah ekologi terakhir di Filipina dan dinyatakan sebagai Cagar Biosfer UNESCO karena sebagian besar keanekaragaman hayati utama ada di sini. 

Provinsi ini juga merupakan medan pertempuran bagi para aktivis lingkungan, yang sebagian besar adalah perempuan.

Cynthia Sumagaysay sangat vokal menentang rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara. Karena itu dia dia dimusuhi banyak politisi pro-batubara dan investor.

“Warga Palawan sedang ditipu dengan sesuatu yang tidak benar-benar mereka pahami. Saya merasa mereka dibohongi. Warga diberitahu kalau pembangkit listrik batu bara ini sangat dibutuhkan padahal itu tidak benar,” uangkap Cynthia.

Tapi dia tidak takut.

“Rasa takut saya sudah hilang. Saya sudah bilang kalau semua orang akan mati, termasuk pelaku kejahatan. Saya lebih takut hidup saya terbuang karena tidak melakukan sesuatu untuk memperbaiki dunia ini.”

Menurut lembaga internasional Global Witness, Filipina adalah negara paling berbahaya di Asia untuk aktivis lingkungan.

Antara 2012 hingga 2013, total 88 aktivis lingkungan tewas di negara itu. Sementara posisi tertinggi di dunia ditempati Brazil dengan 448 kasus dan Honduras dengan 109 kasus kematian.

Pengacara Gerthie Anda mengatakan penyebabnya adalah budaya impunitas.

“Kami merasa terganggu karena ini terjadi di sebuah negara kecil. Ini menunjukkan kalau budaya impunitas masih ada. Kurangnya kemauan politik dari pihak-pihak yang bertanggung jawab masih terus menjadi tantangan.”

Aktivis lingkungan lainnya Marivic Bero adalah sekretaris jenderal Koalisi Melawan Perampasan lahan. Dia mengatakan menjadi aktivis lingkungan di Filipina identik dengan menghadang bahaya.

Kelompoknya bekerja sama dengan organisasi petani dan masyarakat adat yang terkena dampak akuisisi lahan untuk perkebunan skala besar, seperti perkebunan sawit dan pertambangan.

“Sebagai perempuan aktivis LSM, saya merasa khawatir setiap kali ke lapangan. Tapi ini tidak bisa dielakkan karena dalam proses melindungi lingkungan, Anda akan melawan orang-orang atau perusahaan yang kuat, politisi dan pejabat pemerintah,” kata Marivic.

Palawan adalah contoh kecil di mana aktivis lingkungan dan politisi saling berhadap-hadapan di Filipina.

Politisi kerap mengabaikan dampak lingkungan untuk memberikan jalan bagi investasi, yang sering merupakan ekspolitasi sumber daya alam.

Ini menciptakan kehidupan yang lebih berbahaya bagi aktivis lingkungan.

Kembali Marivic Bero.

“Saya bisa katakan setiap kali kami ke lapangan, kami menghadapi bahaya. Tapi bagi saya, jika waktunya Anda akan mati, ya mati. Lebih baik Anda mati karena membantu orang lain.”

Para pembela lingkungan juga menerima ancaman dan kekerasan fisik serta kebebasannya dibatasi. Dan ini membuat perempuan di posisi tidak aman.

Pengacara Gerthie Anda mengatakan laki-laki dan perempuan sama-sama rentan.

“Saya mendengar dari rekan-rekan pegiat HAM dan lingkungan di beberapa forum, tentang pemimpin adat perempuan dibunuh di Cordillera atau bahkan di Mindanao. Tidak ada jaminan penuh kalau posisi perempuan aman. Kami juga diancam seperti laki-laki.”

Gerthie percaya pembunuhan aktivis lingkungan akan terus terjadi jika sistem yang korup tetap berlanjut.

Tapi dia dan perempuan aktivis lingkungan lainnya, bertekad akan terus membela bumi tanpa rasa takut.

Bagi rekannya, Marivic Bero, mereka melakukan ini untuk generasi yang akan datang.

“Saya melakukan ini untuk anak-anak saya, selain memperjuangkan hak-hak masyarakat adat. Saya ingin anak dancucu saya bisa hidup dalam lingkungan yang damai. Mereka masih bisa mencium bau udara segar, melihat berbagai jenis burung, memanjat pohon dan melihat hutan.”

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!