Ni Luh Erniati, keluarga korban bom Bali 2002 bertemu Nasir Abbas, guru para pelaku pengeboman. (Fot

Ni Luh Erniati, keluarga korban bom Bali 2002 bertemu Nasir Abbas, guru para pelaku pengeboman. (Foto: Rebecca Henschke)

38 warga Indonesia tewas dalam serangan bom di Kuta Bali pada Oktober 2002.

Nasir Abbas-lah yang mengajari para pelaku yang merencanakan dan membawa bom yang membunuh lebih 200 orang itu.

Di adalah guru kepala di Akademi Mujahidin Afghanistan. Dia mengajari mereka bagaimana cara membuat bom dan menggunakan senjata. Salah satu pelaku bom adalah saudara iparnya.

Suami Ni Luh Erniati, Gede Badrawan, sedang bekerja di Sari Club pada malam kejadian. Sesudah itu, ia tak pernah pulang.

Sekarang Ni Luh menjadi ketua sebuah organisasi bagi keluarga yang kehilangan anggota keluarganya karena terorisme.

Hari ini Nasir Abbas dan Ni Luh Erniati bertemu untuk berdiskusi tentang peristiwa itu untuk kali pertama. Rebecca Henschke menyaksikan pertemuan keduanya.

Anjing-anjing menggonggong ketika bekas pemimpin Jemaah Islamiyah, Nasir Abbas, tiba di rumah Ni Luh Erniati di Denpasar, Bali.

Ni Luh Erniati mempersilahkan Nasir masuk. Mereka duduk di sebuah ruangan yang dipenuhi foto-foto keluarga bersama suaminya yang tewas akibat bom Bali 2002.

“Suami saya itu kerja di Sari Club. Nah di situ ada cerita cinta kita. Trus yang paling menyakitkan hati saya kenapa pertama kali bertemu di sana dan saya harus kehilangan dia juga di sana. Itu bener-bener berat buat saya. Di Sari Club itu saya juga kerja di sana. Banyak cerita banyak kisah di situ sama beliau,” kisah Erni.

“Saya kepingin mendengar cerita dari pelaku kemaren. Apa sih dalam pikirannya itu ketika dia membuat rakitan itu? Ketika dia membawanya. Apa yang dia bayangkan? Apa yang sebenarnya dia inginkan? Emosinya saat itu dan sekarang ketika melihat korban yang jatuh itu orang-orang yang tidak berdosa. Bukan orang yang mereka cari sebeanrnya.”

Nasir Abbas dulu adalah pemimpin Jemaah Islamiyah, kelompok militan yang melakukan pengeboman. Ia mencoba menjawabnya.

“Mereka sudah membayangkan. Sudah membayangkan. Ya, jumlah banyak peledak sebesar itu, cara mereka menempatkannya, itu mereka sudah membayangkan.”

“Tapi sebenarnya yang mereka tuju itu siapa?”

“Sebenarnya yang mereka tuju itu siapa saja. Siapa saja.”

“Siapa saja?”

“Ya siapa saja dalam rangka untuk memarik perhatian Amerika yang dianggap musuhnya. Dan mereka beranggapan bahwa Bali itu banyak bulenya banyak orang Baratnya. Ya jadi dianggap pukul rata sama saja. Mau dari negara manapun sama saja. Begitu. Saya ingin ajak mereka berhenti.”

“Boleh tahu Pak Nasir dulu sebelumnya gimana ceritanya?”

 “Oh saya memang ...baiklah dulu takdirnya saya jadi guru mereka waktu di Afghanistan. Memang di sana tempat konflik begitu. Bagian saya adalah melatih senjata. Itu bidang saya. Kemudian saya pindah ke Filipina, tempat konflik juga. Jadi itu misi dari Jemaah Islamiyah itu untuk menegakkan negara di Indonesia. Itu misinya.”

Yang di sana itu?

“Bukan, di Indonesia. Jadi kami yang pernah ke Afghanistan, ke Filipina itu semua nanti akan konsentrasi di Indonesia untuk menegakkan negara di Indonesia. Begitu jadi negara dalam negara atau negara terpisah dari Indonesia. Itu yang diharapkan. Saya termasuk yang tidak setuju dengan seruannya Osama bin Laden, untuk membalas dendam dengan membunuh warga sipil di mana saja. Warga sipil Amerika dan sekutunya dimana saja. Maka ya saya tidak ikut campur, tidak terlibat. Begitulah. Karena saya merasa ikut berdosa sebab yang melakukan ini orang yang saya kenal, bahkan ada hubungan keluarga seperti Muchlas, dan ada yang pernah jadi murid saya di Afghanistan. Maka saya merasa bertanggung jawab untuk menghentikan, meluruskan begitu.”

Mereka berbincang selama sekitar satu jam...
 
Ni Luh Erniati mengatakan pada Nasir kalau dia khawatir dengan orang Indonesia yang ikut berjuang bersama kelompok militan Islam di Siria dan Irak.

Dia juga khawatir dengan para pelaku yang terlibat dalam peledakan bom itu bila bebas dari penjara.

“Di dalam penjara bisa insyaf, bisa sadar akan apa yang dilakukan. Tapi setelah keluar bertemu dengan teman-temannya lagi, dia akan berbalik lagi seperti itu,” ungkap Erni.

Nasir mengaku punya kekhawatiran yang sama. Dia menjelaskan kepada Ni Luh Erniati kalau dia sedang berusaha keras berkampanyekan melawan terorisme, kepada bekas teman-temannya yang ada di luar dan dalam penjara.

Saya membawa Ni Luh Erniati ke ruangan lain dan bertanya bagaimana perasaannya...

Q. Tadi pak Nasir Abbas bilang memang Bali targetnya, suami Anda bukan sengaja dibunuh tapi memang target. Bagaimana perasaan Anda mendengar itu?

“Kalau memang harus tertuju ke dunia atau Amerika sekalian, kenapa nga datang ke sana? Kenapa harus di Bali. Jadi orang yang nga berdosa, nga tahu apa-apa, jadi korban. Itu yang nga mereka pikirkan.”

Q. Bagaimana perasaan Anda setelah bertemu Pak Nasir Abbas yang adalah guru pelaku peledakan bom?

 “Kalau dulu sebelum ketemu Pak Nasir, mendengar namanya atau yang lain-lain juga yang berhubungan dengar teroris seperti itu, ada rasa tidak terima. Mungkin juga rasa marah, atau dendam karena yang kejadian kemaren. Dan siapa pun akan seperti itu. Bukan hanya saya. Tapi setelah bertemu beliau, mendengar ceritanya, jadi saya bisa terima dan bisa percaya. Pak Nasir tadi bilang merasa berdosa banget, karena salah satu dari mereka adalah keluarganya, bekas muridnya, dan beliau akan menebus semua itu dengan menyuarakan perdamaian, dengan menyadarkan mereka. Itu saya hargai banget.”

Ni Luh Erniati ingin mereka berfoto di luar rumah.

Nasir bertanya apakah dia makan anjing seperti beberapa kelompok masyarakat di Manado, Sulawesi Utara...Ni Luh Erniati menjawab tidak karena mereka menghargai anjing penjaga.

Saat di dalam mobil, saya bertanya pada Nasir bagaiamana perasaannya.

“Saya merasa lega ya. Setiap kali saya bertemu  korban bom siapa saja, saya merasa lega dan meringankan beban saya.”

Q. Tadi saya ingin menangis ketika mendengar dia. Bagaimana perasaan Pak Nasir?

“Memang saya tidak penah nangis di depan orang. ... orangtua saya meninggal pun saya tidak menangis. Saya merasa lega seperti Bu Ni Luh itu mau duduk, berbicara dengan saya. Itu saya merasa lega. Walaupun mungkin diantara mereka masih belum bisa memaafkan, tidak mengapa. Saya memaklumi. Mereka mengalami hal yang lebih berat dari saya.”

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!