Jan Laczynski dan Nasir Abbas. (Foto: Rebecca Henschke)

Jan Laczynski dan Nasir Abbas. (Foto: Rebecca Henschke)

Nasir Abbas adalah guru para pelaku bom Bali pada 2002 yang membunuh lebih dari 200 orang.

Dia bekas guru kepala mereka di Akademi Mujahidin Afghanistan.

Dia mengajarkan mereka cara membuat bahan peledak dan menggunakan senjata. Bahkan salah satu pelaku adalah iparnya.

“Bidang saya adalah weaponry atau weapon training. Jadi ketika kelas 2 saya sudah mulai membuat tulisan tentang senjata. Ketika teman-teman lain main bola, saya izin pinjam senjata karena saya berminat sekali  ... salah satu kebanggaan manusia itu adalah senjata.”

Jan Laczynski seharusnya berada di Sari Club saat malam kejadian itu. Tapi dia salah membaca jadwal tiketnya sehingga dia berada di bandara saat itu, satu hari lebih awal.

Lima teman dekatnya tewas. Setiap tahun dia kembali ke Bali untuk memperingati serangan itu. Dia duduk di barisan depan saat persidangan empat pelaku pengeboman.

“Emosi itu masih terasa. Apakah saya bisa memaafkan dan melupakannya? Saya rasa saya belum siap untuk itu. Tapi saya mau bertanya beberapa hal sama dia seperti mengapa? Jika dia bisa membalikkan waktu, maukah dia tidak melakukan hal ini? Apakah dia akan mencegah kejadian ini terulang lagi dalam kehidupan nyata?”

Rebecca Henschke bertanya pada Jan apakah dia mau bertemu dengan Nasir, para guru pelaku.

Mereka pun sepakat berbicara di halaman hotel Jan – tidak jauh dari keluarganya yang sedang berlibur.

Q. Mengapa Anda melakukannya?

“Tujuannya adalah bagaimana membunuh warga sipil, orang Amerika dan sekutu-sekutunya. Sebanyak-banyaknya...itu yang mereka inginkan. Dan mereka menemukan banyak orang asing di Bali.”

“Tapi di sini juga ada banyak orang Indonesia...”

“Ya ada banyak orang Indonesia tapi mereka tidak peduli...”

“Tapi teman-teman saya orang Indonesia ... ada 35 orang Indonesia yang tewas...”

“Itu sebabnya saya tidak setuju. Saya beri mereka ilmu militer yang seharusnya hanya digunakan di medan perang. Tapi di Bali, dimana musuh kalian?

“Ini sepertinya sia-sia. Apa Anda tidak pura-pura? Apakah Anda coba mengajari setiap orang untuk tidak pernah melakukannya lagi? Jika seseorang datang dan meminta Anda kembali melakukannya, apa Anda akan menolaknya?

“Ini perjuangan saya sekarang. Saya bilang pada Tuhan, kalau hari ini jihad saya adalah melawan aksi terorisme dari segala sisi. Saya berceramah, pergi ke penjara dan bertemu para pelaku, berdiskusi dan berdebat dengan mereka. Saya menulis artikel dan buku. Saya mengontak orang-orang yang pernah di Afganistan, berharap mereka tidak terpengaruh melakukan aksi terorisme.”
 
“Saat ini dunia khawatir dengan kelompok baru ISIS...jika mereka mendatangi Anda, Anda akan mengatakan TIDAK dan segera melapor ke polisi. Apa Anda mau melakukannya?

“Ya saya akan melakukannya.”

Jan dan Nasir memutuskan untuk berjalan-jalan menyusuri pantai Kuta yang terkenal. Pantai itu ramai... sekelompok perempuan Indonesia sedang foto selfie sementara seorang perempuan Bali menanyakan apakah mereka mau dipijat.

Tidak ada yang memperhatikan ketika Jan dan Nasir duduk di kursi plastik dan memesan minuman.

“Saya bertanya banyak hal pada Anda...” kata Jan.

“Tidak masalah ...tanyakan saja....” jawab Nasir.

“Anda melatih banyak orang di Afghanistan. Ranjau darat dan bahan peledak untuk zona perang...Apa Anda pernah berpikir kalau orang yang saya latih ini seperti Muklas atau yang lainnya akan menggunakannya untuk ini?”

“Tidak saat di Afghanistan kami tidak pernah berpikir beberapa dari mereka akan membangkang.”
 
“Itu dia - jika Anda melatih seseorang, mereka bisa bertindak gila,” tukas Jan.

“Kami pikir mereka akan patuh pada instruksi dan selalu ada dalam organisasi.”

“Apa Anda merasa bertanggung jawab?” desak Jan.

“Ya saya merasa bersalah...merasa berdosa... merasa punya beban berat di pundak saat saya tahu siapa pelaku pemboman. Sayalah yang melatih mereka cara membuat bagian-bagian bom,” ungkap Nasir.

“Sangat sulit bagi saya untuk duduk di sini sekarang,” aku Jan.

“Ya saya sempat berpikir, apakah para korban mau bertemu saya kalau mereka tahu sayalah yang melatih orang-orang itu. Tapi sebenarnya saya tidak pernah setuju bom digunakan untuk melawan warga sipil.”

Jan hendak berdiri dan kembali berjalan-jalan ketika Nasir meletakkan tangannya di lutut Jan dan meminta agar Jan mendoakan dia.

“Tolong sampaikan pada warga Australia dan korban, kalau saya menyesal dengan apa yang terjadi pada 2002,” pinta Nasir.

“Itu akan sulit,” jawab Jan.

“Tentu mereka tidak akan pernah lupa...bencana itu.”

“Saya tidak akan lupa...” tegas Jan.

“Saya tidak minta mereka memaafkan saya. Tapi mereka perlu tahu kalau sekarang saya melawan terorisme.”

“Saya tidak tahu apakah akan bisa menemukan pengampunan di dalam hati saya. Tapi saya akan menyampaikan pesan itu kepada semua keluarga yang saya temui dan melihat apakah mereka akhirnya bisa memaafkan Anda.”

“Mari kita pergi...” ajak Nasir. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!