88 warga Australia menjadi korban dalam serangan bom Bali 2002. (Foto: Rebecca Henschke)

Nasir Abbas adalah guru para pelaku bom Bali pada 2002 yang membunuh lebih dari 200 orang.

Dia bekas guru kepala mereka di Akademi Mujahidin Afghanistan.

Dia mengajarkan mereka cara membuat bahan peledak dan menggunakan senjata. Bahkan salah satu pelaku adalah iparnya.

Jan Laczynski seharusnya berada di Sari Club saat malam kejadian itu. Tapi dia salah membaca jadwal tiketnya sehingga dia berada di bandara saat itu, satu hari lebih awal.

Lima teman dekatnya tewas. Setiap tahun dia kembali ke Bali untuk memperingati serangan itu. Dia duduk di barisan depan saat persidangan empat pelaku pengeboman. Mereka kemudian dinyatakan bersalah melakukan aksi bom yang mematikan.

Rebecca Henschke bertanya pada Jan apakah dia mau bertemu dengan Nasir, para guru pelaku.

“Ketika saya mendapat email Anda, saya kembali merasakan emosi saat kejadian tahun 2002 itu, saat saya kehilangan lima teman. Emosi itu masih terasa. Apakah saya bisa memaafkan dan melupakannya? Saya rasa saya belum siap untuk itu. Tapi saya mau bertanya beberapa hal sama dia seperti mengapa? Jika dia bisa membalikkan waktu, maukah dia tidak melakukan hal ini? Apakah dia akan mencegah kejadian ini terulang lagi dalam kehidupan nyata?”

Q. Saya bertanya pada beberapa orang Australia yang kehilangan orang yang dicintai atau mengalami luka-luka dalam peristiwa bom itu, apakah mereka mau bertemu Nasir Abbas dan anggota Jemaah Islamiyah lainnya. Mereka bilang tidak, mereka tidak tertarik, mereka merasa sangat marah – peristiwa itu sangat menyakitkan. Tapi mengapa Anda melakukan hal yang berbeda?

“Ya sangat mengerti itu. Ketika saya kembali ke Bali untuk pertama kami, ibu saya selalu bilang kapan kamu akan kembali ...(menangis). Mereka masih terluka. Ini bukan sesuatu seperti mau pergi tidur lalu bangun dan lupa. Saya juga mengalami perasaan itu tapi saya tidak mau takut. Saya mengerti. Saya pikir mereka mungkin ingin mencekik orang ini. Saya pikir saya juga ingin melakukannya tapi tidak akan saya lalukan . Saya melihat para teroris itu di pengadilan. Tahun 2002 saya benar-benar merasa takut tapi ketika sidang dimulai saya bertekad ingin melihat keadilan ditegakkan dilakukan. Saya sangat senang bisa melakukannya dan sekarang saya senang bisa bertemu Nasir.”

Oke ayo kita lakukan....

Jan Laczynski melewati kafe-kafe dan diskotik, para perempuan memakai rok mini, para pria muda peselancar bertelanjang dada, dan para pria Bali yang bertanya apakah dia butuh kendaraan.

Lalu dia berhenti di sebuah lapangan parkir – di sana ada tempat yang dipagari seng, tempat bunga-bunga serta foto laki-laki dan perempuan yang sedang tersenyum diletakkan di sana.

Dulu di sinilah Sari Club berdiri. Dan foto-foto itu adalah para korban bom.

Jan berjalan menuju monumen, dan terlihat kalau Nasir Abbas sudah menunggu di sana. Nasir berdiri diam memandangi daftar 202 nama korban yang tewas dalam serangan bom itu.

Nasir meninggalkan Malaysia saat berusia 18 tahun untuk berperang ke Afghanistan. Di sana, dia bergabung dengan pejuang gerilya Mujahidin.

“Mengangkat senjata. Nah kata mengangkat senjata ini bagi anak muda suatu kegiatan yang menarik. Mereka bukan tentara, bukan polisi mereka orang-orang sipil tapi memiliki kesempatan memegang senjata. Apalagi ikut dalam pertempuran. Pasti keren,” papar Nasir.

Dia naik pangkat dan menjadi salah satu guru kepala di akademi militer Mujahidin Afghanistan.

Dia mengajar ratusan orang Indonesia dan Malaysia cara membuat bom. Diantara muridnya ada Amrozi, Mukhlas, Ali Imron dan Imam Samudera, yang merupakan pelaku bom Bali.

Nasir Abbas juga adalah salah satu komandan senior mereka di organisasi Jemaah Islamiyah –kelompok yang ingin mendirikan negara Islam di Asia Tenggara.

“Bidang saya adalah weaponry atau weapon training. Jadi ketika kelas 2 saya sudah mulai membuat tulisan tentang senjata. Ketika teman-teman lain main bola, saya izin pinjam senjata karena saya berminat sekali  ... salah satu kebanggaan manusia itu adalah senjata.”

Salah satunya adalah bom Bali 2002 yang menewaskan lebih dari 200.

Jan Laczynski seharusnya berada di Sari Club saat malam kejadian itu. Lima teman dekatnya tewas.  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!