Nasir Abbas dan Jan Laczynski berbincang di Pantai Kuta (foto: Rebecca Henschke)

Nasir Abbas dan Jan Laczynski berbincang di Pantai Kuta (foto: Rebecca Henschke)

KBR, Jakarta -- Mempertemukan Nasir Abbas yang merupakan guru para pelaku bom Bali 2002 dengan Jan Laczynski, tidaklah mudah. Emosi dan kesedihan ditinggal kerabat akibat serangan itu masih membekas hingga sekarang. Inilah serial tentang pertemuan Nasir Abbas dengan warga Australia yang kehilangan teman-temannya pada peristiwa bom Bali 2002, Jan Laczynski. 

“Ketika saya mendapat email Anda, saya kembali merasakan emosi saat kejadian tahun 2002 itu, saat saya kehilangan lima teman. Emosi itu masih terasa. Apakah saya bisa memaafkan dan melupakannya? Saya rasa saya belum siap untuk itu. Tapi saya mau bertanya beberapa hal sama dia seperti mengapa? Jika dia bisa membalikkan waktu, maukah dia tidak melakukan hal ini? Apakah dia akan mencegah kejadian ini terulang lagi dalam kehidupan nyata?” kata Jan Laczynski kepada jurnalis KBR Rebecca Henschke. 

“Saya bertanya pada beberapa orang Australia yang kehilangan orang yang dicintai atau mengalami luka-luka dalam peristiwa bom itu, apakah mereka mau bertemu Nasir Abbas dan anggota Jemaah Islamiyah lainnya. Mereka bilang tidak, mereka tidak tertarik, mereka merasa sangat marah – peristiwa itu sangat menyakitkan. Tapi mengapa Anda melakukan hal yang berbeda?”  balas Rebecca. 

“Ya sangat mengerti itu. Ketika saya kembali ke Bali untuk pertama kami, ibu saya selalu bilang kapan kamu akan kembali ...(menangis). Mereka masih terluka. Ini bukan sesuatu seperti mau pergi tidur lalu bangun dan lupa. Saya juga mengalami perasaan itu tapi saya tidak mau takut. Saya mengerti. Saya pikir mereka mungkin ingin mencekik orang ini. Saya pikir saya juga ingin melakukannya tapi tidak akan saya lalukan . Saya melihat para teroris itu di pengadilan. Tahun 2002 saya benar-benar merasa takut tapi ketika sidang dimulai saya bertekad ingin melihat keadilan ditegakkan dilakukan. Saya sangat senang bisa melakukannya dan sekarang saya senang bisa bertemu Nasir,” tambah Jan Laczynski.

Jan Laczynski melewati kafe-kafe dan diskotik, para perempuan memakai rok mini, para pria muda peselancar bertelanjang dada, dan para pria Bali yang bertanya apakah dia butuh kendaraan.  

Lalu dia berhenti di sebuah lapangan parkir – di sana ada tempat yang dipagari seng, tempat bunga-bunga serta foto laki-laki dan perempuan yang sedang tersenyum diletakkan di sana.

Dulu di sinilah Sari Club berdiri. Dan foto-foto itu adalah para korban bom. 

Jan berjalan menuju monumen, dan terlihat kalau Nasir Abbas sudah menunggu di sana. Nasir berdiri diam memandangi daftar 202 nama korban yang tewas dalam serangan bom itu.

Nasir meninggalkan Malaysia saat berusia 18 tahun untuk berperang ke Afghanistan. Di sana, dia bergabung dengan pejuang gerilya Mujahidin.

“Mengangkat senjata. Nah, kata mengangkat senjata ini bagi anak muda suatu kegiatan yang menarik. Mereka bukan tentara, bukan polisi mereka orang-orang sipil tapi memiliki kesempatan memegang senjata. Apalagi ikut dalam pertempuran. Pasti keren,” kata Nasir.  

Dia naik pangkat dan menjadi salah satu guru kepala di akademi militer Mujahidin Afghanistan.

Dia mengajar ratusan orang Indonesia dan Malaysia cara membuat bom. Diantara muridnya ada Amrozi, Mukhlas, Ali Imron dan Imam Samudera, yang merupakan pelaku bom Bali.  

Nasir  Abbas juga adalah salah satu komandan senior mereka di organisasi Jemaah Islamiyah –kelompok yang ingin mendirikan negara Islam di Asia Tenggara. 

“Bidang saya adalah weaponry atau weapon training. Jadi ketika kelas 2 saya sudah mulai membuat tulisan tentang senjata. Ketika teman-teman lain main bola, saya izin pinjam senjata karena saya berminat sekali. Salah satu kebanggaan manusia itu adalah senjata,” tambahnya. 

Salah satunya adalah bom Bali 2002 yang menewaskan lebih dari 200. Jan Laczynski seharusnya berada di Sari Club saat malam kejadian itu. Lima teman dekatnya tewas. 

Besok Jan akan bertemu dengan Nasir Abbas.Tetap ikuti kisah mereka untuk mengetahui apa yang terjadi saat mereka bertemu!

Editor: Antonius Eko 

baca cerita selanjutnya: Jan, Nasir dan Kisah Bom Bali 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!