Di Bawah Bayang-bayang, Kekuatan Dalang Asal Filipina

Berawal dari sebuah sekolah di pegunungan yang bermodalkan overhead projector atau OHP dan barang-barang bekas, mereka kini menjadi rombongan wayang profesional.

Senin, 13 Feb 2017 10:19 WIB

Salah satu adegan dalam pertunjukan wayang yang dibawakan kelompok Anino asal Filipina di Pesta Bone

Salah satu adegan dalam pertunjukan wayang yang dibawakan kelompok Anino asal Filipina di Pesta Boneka, Festival Wayang Internasional di Yogyakarta. (Foto: Indra Wicaksono)


Kelompok wayang Anino asal Filipina sudah berusia 20 tahun. 

Berawal dari sebuah sekolah di pegunungan yang bermodalkan overhead projector atau OHP dan barang-barang bekas, mereka kini menjadi rombongan wayang profesional.

Nicole Curby belum lama ini bertemu anggota kelompok itu di Festival Wayang Internasional di Yogyakarta untuk berbincang soal seni, evolusi dan etika.

Musik dalam kisah ini dimainkan oleh seniman Filipina Pinikpikan dan Joey Ayala.

Sebuah lampu biru berkilauan menelan ruang seiring gambar-gambar ikan yang rumit dan makhluk laut lainnya berenang di dinding.

Diiringi musik tradisional Filipina yang mendapat sentuhan modern.

Para penonton sedang menikmati pertunjukkan wayang dari kelompok asal Filipina, Anino.

“Yang menyenangkan menjadi Anino, kelompok wayang di Filipina, adalah kami tidak terikat oleh tradisi. Jadi kami bisa banyak menemukan dan memainkan tema-tema baru. Kami mengembangkan cerita dan teknik dalang kami sendiri,” jelas Dato.

Itu adalah Dato Arellano. Dia adalah salah satu anggota terlama kelompok dalang yang sudah berusia 20 tahun.

Tidak seperti tetangga mereka di Asia, Filipina tidak punya tradisi wayang. Mereka dipengaruhi oleh tradisi Indonesia dan pengalaman pribadi.

Kembali Dato. “Kami membawa pengalaman pribadi kami ke dalam Anino. Secara pribadi saya telah memainkan wayang sejak masih kecil.”

“Nama saya Andrew. Awal perkenalan saya dengan wayang adalah ketika bermain dengan bayangan menggunakan selimut dan senter. Selama tahun 90an di Filipina sering mati listrik jadi kami harus mencari hiburan atau kami akan mati!”

“Jadi kami berimprovisasi menggunakan lilin. Kami kemudian mengeksplorasinya hingga bisa membuat acara TV kami sendiri. Lebih murah dan praktis.”


Anino pun telah mengubah pertunjukan semacam itu menjadi sebuah bentuk seni.

Sama seperti ketika mereka masih kanak-kanak, Anino membuat berbagai bentuk dari kertas dan kardus. Mereka menggunakan potongan plastik dan barang-barang lain di sekitar mereka yang bisa memantulkan cahaya.

“Anino menggunakan filosofi yang disebut estetika kemiskinan. Jadi materi yang kami gunakan adalah yang ada di sekita kami. Apa pun yang Anda gunakan sebagai alat, bisa menjadi sesuatu yang berarti,” papar Teta Tulay.

Anino berawal di sebuah sekolah di luar Manila. 

Di era 80 dan 90-an, overhead projector atau OHP bisa ditemukan di setiap sekolah dan gereja di Filipina dan tempat-tempat lain di dunia.

Anino pun mulai menggunakan OHP secara kreatif, memperbesar wayang kardus yang dipotong berbagai bentuk dan memproyeksikan lampu bergerak.

Dan semakin lama, mereka pun menjadi kecanduan mesin itu.

“OHP memungkinkan kami untuk melakukan perjalanan tur karena kami tidak harus membuat boneka-boneka besar. Jadi semuanya dalam skala kecil sehingga bisa muat dalam koper kecil. Untuk OHP, kalau tempat pertunjukan punya, kami pakai itu. Tapi kalau tidak, baru kami bawa sendiri. Jadi ini pertujukkan yang bisa dibawa kemana-mana,” kata Dato.

Anino biasanya membahas isu-isu lingkungan. Tapi setelah 20 tahun melakukan pertunjukan, kelompok itu membuat pernyataan eksplisit politik pertamanya di acara ini.

Satu sketsa berbentuk burung kecil dan ibunya sedang diburu dan dibunuh oleh senapan. Ini simbol generasi korban tak berdosa yang menderita di bawah darurat militer dan puluhan tahun aksi pembunuhan tanpa proses pengadilan.

Berikut penjelasan Teta dan seniman Hazel.

“Menurut saya sebagai seniman, dimana kita harus berdiri? Kita tidak bisa hanya memberikan pertunjukan yang indah. Kita harus selalu punya sikap,” kata Teta.

Dan Hazel menambahkan “Apalagi sekarang ini terjadi di Filipina.”

Sejak presiden baru terpilih, pembunuhan tanpa proses pengadilan terus meningkat.  Kali ini targetnya adalah orang-orang yang diduga pengguna dan pengedar narkoba.

Selain itu ada kontroversi pemakaman ala pahlawan bekas diktator Ferdinand Marcos bulan November tahun lalu. Anino melihat seni sebagai bentuk perlawanan. Sebuah upaya perlindungan terhadap amnesia budaya.

“Kita tahu dalam sejarah Filipina ada banyak seniman yang selama bertahun-tahun telah berdiri, mengangkat suara dan kepalan tangan mereka di jalan-jalan. Pada akhirnya mereka menjadi korban pembunuhan tanpa proses pengadilan,” kata Teta.

“Sekarang masalah ini muncul kembali. Masyarakat dan seniman bisa melihat sejarah terulang.”

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!