Bungkam Perbedaan Pendapat, Blogger Vokal Hilang di Pakistan

Sejak Januari tahun ini, ada setidaknya lima blogger dan aktivis menghilang di Pakistan.

Senin, 13 Feb 2017 10:09 WIB

Foto: Twitter

Foto: Twitter


Sejak Januari tahun ini, ada setidaknya lima blogger dan aktivis menghilang di Pakistan.

Termasuk penyair dan dosen Salman Haider, yang dikenal karena kritiknya yang vokal soal  ekstremisme agama dan tindakan keras pemerintah terhadap aktivis oposisi.

Aktivis yang hilang lainnya juga sangat kritis terhadap pemerintah dan militer.

Dari Karachi, Naeem Sahoutara, melaporkan dampak mengerikan akibat menyuarakan pemikiran sendiri.

Ada kekagetan dan kemarahan di Karachi menyusul hilangnya lima blogger secara misterius.

Pada 4 Januari, Waqas Goraya, seorang mahasiswa yang tinggal di Belanda dan Asim Saeed, seorang manajer IT yang tinggal di Singapura, diculik di kota bagian timur Lahore.

Dua hari kemudian, Salman Haider, seorang penyair, aktivis dan dosen diculik di ibukota Islamabad. 

Kemudian pada 7 Januari, aktivis Samar Abbas juga hilang di Islamabad.

Seniman terkenal Sheema Kirmani bergabung dengan aksi protes di Karachi. Penghilangan itu sangat mengejutkan, katanya, dan tidak demokratis.

Para blogger itu dikenal karena sikap liberal dan sayap kiri mereka. Termasuk menyuarakan perlawanan terhadap pemerintah dan militer serta kampanye soal penghilangan paksa.

Badan Intelijen Pakistan dituduh menggunakan penghilangan paksa dalam perang melawan nasionalis etnis Baloch.

“Ini adalah tren baru dan menurut saya perkembangan ini sangat mengkhawatirkan. Sebelumnya kami mencatat dan melaporkan penghilangan paksa kaum nasionalis di provinsi Balochistan hingga provinsi Sindh,” jelas Zohra. 

“Mereka ini memperjuangkan hak-hal politik mereka. Dan tiba-tiba kami melihat orang-orang dari media sosial juga hilang. Padahal kami sebelumnya percaya kalau internet punya banyak kebebasan dan ruang untuk mengekspresikan diri.”

Itu adalah Zohra Yousuf, Ketua Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan atau HRCP.

Penghilangan paksa bukanlah hal baru di Pakistan meski hal ini jarang dilaporkan oleh media arus utama atau dibahas dalam forum terbuka.

Tapi kabar hilangnya blogger awal tahun ini sangat mengkhawatirkan dan Amerika Serikat dan Uni Eropa pun mengecam insiden ini

Blogger Pakistan Jibran Nasir mengatakan penghilangan ini mengirim tanda mengerikan bagi komunitas online.

“Insiden ini telah menyebabkan kepanikan. Itu sebabnya sejak hari pertama, saya katakan ini adalah tindakan teror. Ini memaksa orang untuk menutup akun mereka, bersembunyi, tidak berkomunikasi dan menjauhi orang lain karena takut ada yang mengawasi. Berbagai ketakutan muncul,” kata Jibran.

Pertumbuhan media sosial dalam beberapa tahun terakhir di Pakistan sangat luar biasa dimana ada lebih dari 30 juta pengguna internet saat ini.

Namun dalam tingkat dunia, Pakistan termasuk 10 negara terburuk soal kebebasan internet.

Beberapa kilometer dari aksi demo di Karachi, sekelompok blogger muda berkumpul di tempat rahasia.

Mengenakan jeans dan kaos warna-warni, mereka menyusun strategi tentang bagaimana kampanye online bisa menyoroti penderitaan kelompok teraniaya dan terpinggirkan.

Di antara mereka ada Sindiya Johnson, yang  berusia 25 tahun. Dia terlihat sibuk dengan ponsel pintarnya. Di siang hari dia adalah seorang dokter tapi di malam hari dia aktif menulis blog.

“Blogging adalah aktivitas bertukar pengalaman. Tujuannya membantu kita memahami kebenaran. Ini sangat mudah gigunakan dan ditemukan karena internet bisa diakses siapa saja dan dimana saja,” tutur Sindiya.

Dengan 130 anggota, kelompok Johnson telah menyoroti isu-isu yang jarang diliput media nasional. Seperti serangan terhadap kelompok minoritas Kristen dan Hindu.

Politisi, selebriti, akademisi dan bahkan beberapa pemimpin agama menjadi pengikut akun mereka di Twitter dan Facebook.

Tapi tetap ada bahaya bila berani bersuara.

Kembali ke aksi demo. 

Aktivis dari kelompok Islam muncul di tempat demo dan bentrok dengan demonstran. Para aktivis Islam menuduh para demonstran mendukung para penghujat yaitu para blogger yang hilang.

Selama beberapa pekan terakhir sudah ada laporan kalau tiga blogger yang hilang sudah kembali. Dua diantaranya langsung meninggalkan Pakistan dalam keadaan takut.

Sementara komunitas blogger Pakistan saat ini berupaya untuk tidak menarik perhatian.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Moratorium Reklamasi, Menteri Siti : Pulau C dan D Kurang Satu Syarat, Pulau G Dua Syarat

  • Adik Bos First Travel Ikut Jadi Tersangka
  • Penembakan Deiyai, Tujuh Anggota Brimob dan Kapolsek Akan Jalani Sidang Etik Pekan Depan
  • Tuntut Pembatalan Perppu Ormas, Ratusan Orang Demo DPRD Sumut

Dalam Perbincangan Ruang Publik KBR kali ini, kita akan punya 5 topik utama, penasaran? ikuti perbincangan Ruang Publik KBR